14 May 2026, 17:15

Eksekutif Samsung: Siklus Boom-Bust Chip “Hancur”, Krisis Memori AI Diprediksi Berlanjut Hingga 2028

Samsung peringatkan krisis memori AI berlanjut hingga 2028. Harga DRAM melonjak 63%, NAND Flash 75% per kuartal menurut TrendForce.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
5
Eksekutif Samsung: Siklus Boom-Bust Chip “Hancur”, Krisis Memori AI Diprediksi Berlanjut Hingga 2028
Samsung Electronics memperingatkan krisis pasokan memori AI berlanjut hingga 2028, saat harga DRAM melonjak 63% per kuartal. (Foto: Ilustrasi/Samsung Electronics)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Krisis pasokan memori global yang dipicu ledakan kecerdasan buatan resmi memasuki babak baru. Wakil Presiden Samsung Electronics, Kim Tae-woo, menyatakan di forum Korea Investment Week (KIW) 2026 pada Selasa, 12 Mei 2026, bahwa permintaan AI untuk perangkat pintar dan pusat data akan mendorong kelangkaan memori berkepanjangan setidaknya hingga 2028.

Pernyataan Kim menjadi alarm keras bagi industri semikonduktor global. Seperti dilansir KED Global, eksekutif senior Samsung itu menegaskan bahwa siklus boom-and-bust chip yang selama ini menjadi pola industri telah “hancur” secara fundamental akibat lonjakan permintaan AI yang tak terbendung — sementara kapasitas fabrikasi baru masih butuh tahun-tahun untuk bisa beroperasi penuh. “Permintaan AI untuk inferensi dan komputasi terus melampaui kapasitas produksi yang ada. Ini bukan siklus biasa.”

Kondisi ini langsung tercermin di pasar. Lembaga riset TrendForce memproyeksikan harga kontrak DRAM konvensional akan melonjak 58–63% secara kuartal-ke-kuartal pada Q2 2026, sementara harga NAND Flash melejit bahkan lebih tajam hingga 70–75% — didorong oleh realokasi besar-besaran kapasitas produksi para pabrikan menuju HBM dan aplikasi server AI.

Menurut Goldman Sachs, defisit pasokan DRAM global mencapai 4,9%, NAND Flash 4,2%, dan HBM — komponen inti AI — bahkan defisit 5,1%, semuanya tertinggi sejak 2011.  Krisis ini disebut sebagai yang terparah dalam 15 tahun terakhir.

Samsung berencana membangun lini produksi memori baru di pabrik Pyeongtaek, Korea Selatan, namun produksi massal baru akan dimulai pada 2028. SK Group Chairman Chey Tae-won bahkan memperingatkan bahwa tekanan pasokan memori AI bisa berlanjut hingga 2030 akibat keterbatasan wafer dan kendala peningkatan produksi.

Dampak krisis ini sudah merambah jauh melampaui pusat data. Intel CEO Lip-Bu Tan secara blunt menyatakan “tidak ada keringanan hingga 2028,” sementara IDC memproyeksikan pasar PC bakal menyusut 11,3% di 2026 seiring harga memori yang terus menembus batas toleransi konsumen dan korporat.

Di sisi lain, Samsung justru menikmati lonjakan laba — divisi semikonduktor membukukan laba operasional 53,7 triliun won (sekitar Rp1.109 triliun) pada Q1 2026, setara 94% total laba korporat, didorong rekor penjualan memori AI. SK Hynix pun mencetak pendapatan kuartalan rekor senilai 52,6 triliun won (sekitar Rp1.086 triliun).

Counterpoint Research memperkirakan kondisi pasar memori baru akan stabil sekitar 2028 berdasarkan tren produksi dan permintaan saat ini. Namun bagi konsumen dan industri elektronik global, jalan menuju normalisasi harga masih panjang — dan mahal.

Berita Terkait