Perspektif.co.id - Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan setelah pada 17 November 2025 pukul 22.00 WIB bergerak di posisi Rp16.746 per dolar AS. Posisi ini melanjutkan pelemahan dari penutupan perdagangan sebelumnya, di mana rupiah sempat menguat ke Rp16.707 per dolar AS pada Jumat (14/11).
Memasuki perdagangan hari ini, pasar valas masih dibayangi kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang membuat rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif. Sejumlah mata uang Asia lain juga mengalami pelemahan, menunjukkan tekanan regional yang relatif kuat.
Sentimen Global yang Menggerakkan Rupiah Hari Ini
Dari luar negeri, suasana pasar masih terpengaruh oleh menguatnya indeks dolar AS, optimisme atas berakhirnya shutdown pemerintahan AS, serta fokus investor terhadap rilis data ekonomi yang sempat tertunda. Kembalinya aktivitas fiskal AS berpotensi mengerek ekspektasi bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga pada Desember 2025.
Namun, jelang keputusan tersebut, volatilitas dolar AS cenderung meningkat sehingga menekan kurs mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Faktor Domestik: Stabilitas Makro Menahan Tekanan
Dari dalam negeri, pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto masih dianggap menjaga disiplin fiskal yang solid. Inflasi inti diproyeksikan terjaga di kisaran 2,5%–3,2%, yang menjadi penopang stabilitas harga dan menjaga daya beli.
Kondisi makro yang stabil ini membuat rupiah tidak jatuh terlalu dalam, meskipun tekanan eksternal masih dominan.
Prediksi Kurs Rupiah Hari Ini
Dengan mempertimbangkan pergerakan dolar AS, data makro, dan tren regional, rupiah diproyeksikan:
Bergerak di rentang Rp16.700 – Rp16.760 per USD
- Dengan kecenderungan melemah tipis dibanding posisi terakhir Rp16.746
- Apabila dolar AS menguat lebih agresif, rupiah berpotensi kembali menguji area Rp16.780.
- Sebaliknya, jika sentimen risiko membaik, rupiah mungkin kembali ke level Rp16.710–16.720.
Perdagangan hari ini diprediksi cukup volatil. Rupiah berpotensi melemah terbatas, namun stabilitas domestik masih menjadi penahan koreksi lebih dalam. Pelaku pasar disarankan memantau sentimen dolar AS, rilis data ekonomi AS, serta pernyataan terbaru dari The Fed.***