Perspektif.co.id - Pemerintah bakal menggeser fokus alokasi beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ke bidang sains dan teknologi. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengungkap Presiden RI Prabowo Subianto menginstruksikan agar porsi beasiswa LPDP untuk rumpun science, technology, engineering, and mathematics (STEM) diperbanyak, bahkan ditargetkan menembus lebih dari 80 persen dari total kuota.
Arahan itu disampaikan Prasetyo usai Prabowo berdiskusi dengan kalangan akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (15/1/2026). Menurut Prasetyo, penambahan porsi LPDP untuk STEM merupakan bagian dari langkah pemerintah mengejar ketertinggalan Indonesia dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Termasuk tadi juga beliau memberikan arahan untuk alokasi peruntukan dari beasiswa LPDP untuk diperbanyak ke STEM ya. Tadi beliau sempat menyampaikan berharap mencapai di atas 80 persen,” kata Prasetyo kepada wartawan.
Prasetyo menjelaskan, wacana tersebut sejalan dengan fokus pemerintah yang menempatkan penguatan IPTEK sebagai prioritas. Di sisi lain, upaya itu juga dimaksudkan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang lebih sesuai dengan kebutuhan pembangunan dan daya saing ekonomi, termasuk untuk mempercepat transformasi industri, riset, dan inovasi.
Dalam pertemuan di Istana itu, Prabowo disebut mengundang berbagai unsur perguruan tinggi, mulai dari guru besar, rektor, hingga dekan. Pemerintah menilai masukan dari kampus dibutuhkan untuk menyusun kebijakan pendidikan tinggi dan riset yang lebih terarah, sekaligus memperkuat ekosistem inovasi nasional.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek) Stella Christie menilai pertemuan tersebut sebagai momen penting. Stella mengatakan Prabowo menunjukkan perhatian besar pada perkembangan IPTEK di Indonesia, termasuk lewat kebijakan dan dukungan anggaran. Ia juga menyebut anggaran Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi di bawah kepemimpinan Prabowo mengalami peningkatan yang signifikan.
Sinyal penguatan riset juga datang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan bahwa anggaran riset nasional mengalami peningkatan hingga 50 persen. Ia menilai penguatan anggaran riset menjadi krusial karena porsi dana riset Indonesia saat ini masih relatif kecil, yakni sekitar 0,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Pemerintah memandang dorongan ke STEM bukan sekadar perubahan komposisi penerima beasiswa, melainkan strategi jangka menengah untuk memperkuat fondasi produktivitas. Di banyak negara, investasi pada sains, teknologi, rekayasa, dan matematika sering dikaitkan dengan kecepatan inovasi, hilirisasi riset, serta kesiapan tenaga kerja menghadapi kebutuhan industri berbasis teknologi.
Meski begitu, Prasetyo menekankan wacana ini masih merupakan arahan dan fokus kebijakan yang akan diterjemahkan lebih teknis oleh kementerian/lembaga terkait, termasuk pengelola LPDP. Pemerintah juga ingin memastikan pergeseran porsi beasiswa benar-benar menjawab kebutuhan nasional, tanpa mengabaikan aspek tata kelola seleksi, mutu pendidikan, dan output yang berdampak bagi pembangunan.
Di tengah kompetisi global yang kian ketat, Prabowo disebut meminta penguatan arah kebijakan yang lebih “mengejar ketertinggalan” dibanding sekadar melanjutkan pola lama. Dengan porsi LPDP yang lebih dominan ke STEM, pemerintah berharap muncul lebih banyak talenta peneliti, insinyur, ilmuwan data, ahli bioteknologi, hingga inovator di bidang energi, pangan, kesehatan, manufaktur, dan teknologi digital.
Ke depan, fokus penguatan IPTEK ini juga diharapkan berjalan beriringan dengan penguatan riset nasional. Peningkatan anggaran riset yang disampaikan BRIN dinilai menjadi sinyal bahwa pemerintah ingin riset tidak berhenti pada publikasi, melainkan berujung pada inovasi yang bisa diadopsi industri dan mendorong nilai tambah ekonomi.
Dengan demikian, arahan Prabowo soal 80 persen kuota LPDP untuk saintek menandai langkah kebijakan yang lebih tegas: beasiswa negara tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan akses pendidikan, tetapi juga untuk mengerek kapasitas sains dan teknologi sebagai mesin pertumbuhan jangka panjang.