TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Stanford University’s Institute for Human-Centered Artificial Intelligence (HAI) merilis AI Index 2026 pada Minggu (13/4), dan hasilnya mengguncang peta persaingan teknologi global. Laporan setebal lebih dari 400 halaman itu mendokumentasikan dunia di mana keunggulan Amerika Serikat atas inovasi China dalam kecerdasan buatan hampir sepenuhnya terhapus, sementara teknologi ini sudah merombak tenaga kerja global dan mengubah arah penemuan ilmiah. Ini bukan sekadar laporan akademik biasa — laporan ini telah dikutip oleh New York Times, Bloomberg, The Guardian, dan dijadikan referensi pembuat kebijakan di AS, Inggris, serta Uni Eropa.
Para penulis laporan menyatakan bahwa model-model AI terdepan kini hampir tidak dapat dibedakan satu sama lain, dengan selisih skor di antara mereka hanya beberapa poin, menandai era persaingan yang bukan lagi soal kemampuan mentah melainkan biaya, keandalan, dan kegunaan nyata. Di sisi kemampuan, model-model terbaik per April 2026 seperti Claude Opus 4.6 milik Anthropic dan Gemini 3.1 Pro milik Google kini mampu menjawab lebih dari 50 persen soal dalam Humanity’s Last Exam, melonjak drastis dari hanya 8,8 persen yang dicatat model terbaik pada laporan 2025. Sementara itu, pada benchmark pengkodean SWE-bench Verified, performa model AI melejit dari 60 persen menuju hampir 100 persen hanya dalam setahun.
Meskipun AS masih unggul dalam modal, pembangunan infrastruktur, dan chip AI, China kini mendominasi di bidang lain seperti paten, publikasi ilmiah, dan pengembangan robotika otonom atau yang dikenal sebagai “physical AI.” Namun masalah besar mengancam posisi AS dari dalam: jumlah peneliti dan pengembang AI yang pindah ke Amerika Serikat anjlok 89 persen sejak 2017, dengan penurunan 80 persen hanya dalam setahun terakhir, dipercepat oleh pembatasan visa H-1B dan persyaratan biaya rekrutmen baru senilai 100.000 dolar AS atau sekitar Rp1,6 miliar per tenaga kerja asing.
“Banyak perusahaan tidak merilis hasil model mereka pada benchmark tertentu, khususnya benchmark responsible AI. Ketidakhadiran data itu mungkin menyiratkan sesuatu,” kata Nestor Maslej, editor eksekutif AI Index, sebagaimana dikutip MIT Technology Review.
Di sisi konsumen, generative AI mencapai adopsi 53 persen populasi global dalam tiga tahun — lebih cepat dari komputer pribadi maupun internet — dengan nilai alat AI bagi konsumen AS mencapai 172 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.749 triliun per tahun pada awal 2026, dan nilai median per pengguna meningkat tiga kali lipat dibandingkan 2025. Namun sentimen publik terpecah: 59 persen responden global merasa AI menawarkan lebih banyak manfaat, tetapi 52 persen juga mengaku teknologi ini membuat mereka gugup, sementara tingkat kepercayaan publik AS terhadap pemerintah dalam mengatur AI hanya 31 persen — terendah di antara semua negara yang disurvei. Laporan AI Index 2026 selengkapnya tersedia secara publik di hai.stanford.edu.