TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Kondisi ini bukan gangguan sesaat. Akar masalahnya terletak pada perebutan kapasitas produksi chip antara industri konsumen dan raksasa teknologi seperti Microsoft, Google, Meta, dan Amazon yang membangun infrastruktur AI dalam skala masif. Tiga produsen memori terbesar dunia — Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron — kini mengalihkan sebagian besar kapasitas produksi mereka ke chip memori berkecepatan tinggi (HBM) untuk data center, karena marginnya jauh lebih tinggi dibanding memori standar untuk ponsel.
Vanessa Aurelia, Associate Market Analyst di IDC Indonesia, mengungkapkan bahwa dampak kelangkaan memori sudah mulai terasa sejak akhir 2025, ketika kanal distribusi maupun vendor mulai kesulitan mengamankan pasokan komponen. Ia menjelaskan bahwa kenaikan biaya produksi atau bill of materials (BOM) inilah yang mendorong harga jual rata-rata perangkat di Indonesia meningkat signifikan, karena vendor sudah tidak mampu lagi menyerap sendiri lonjakan biaya tersebut.
Angkanya cukup mengejutkan. Riset Counterpoint mencatat harga DRAM naik lebih dari 50 persen secara kuartalan pada awal 2026, sementara NAND Flash melonjak lebih dari 90 persen dalam periode yang sama. Beberapa lembaga bahkan memproyeksikan kenaikan harga DRAM tahunan bisa menembus 170 persen dalam skenario terburuk. Dampaknya bisa dirasakan langsung oleh konsumen: kenaikan harga smartphone di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari Rp1 juta, terutama di segmen menengah ke bawah, dan di beberapa kategori kenaikan bisa mencapai 20 persen dari harga sebelumnya.
Fenomena ini sudah terlihat nyata di lapangan. Sejumlah smartphone yang sebelumnya dijual di kisaran Rp3 jutaan kini menembus Rp5 jutaan, sementara ponsel murah yang dulu dibanderol sekitar Rp1 jutaan kini bergerak ke angka Rp2 jutaan. Untuk menyiasati kenaikan biaya tanpa mengerek harga jual terlalu tinggi, banyak vendor terpaksa menurunkan spesifikasi memori pada model kelas bawah — jumlah smartphone dengan RAM 12GB dilaporkan turun hingga 40 persen, sementara ketersediaan RAM 8GB yang sebelumnya nyaris jadi standar industri anjlok sekitar 50 persen.
Dampaknya tidak merata di semua vendor. Lembaga riset Counterpoint memproyeksikan pengiriman Xiaomi akan anjlok hingga 28 persen sepanjang 2026, jauh lebih parah dibanding Samsung yang diperkirakan hanya turun 4 persen, sementara Apple diproyeksikan tetap stabil. Kesenjangan ini terjadi karena Xiaomi, bersama merek asal Tiongkok lainnya seperti Honor, OPPO, dan vivo, memiliki porsi bisnis yang sangat besar di segmen harga terjangkau — segmen yang paling sensitif terhadap kenaikan biaya komponen. Sebaliknya, Samsung dan Apple punya basis pelanggan premium yang lebih tahan terhadap kenaikan harga, ditambah daya tawar rantai pasok yang lebih kuat karena skala pembelian mereka.
Kabar buruknya, kondisi ini diperkirakan tidak akan segera membaik. Kelangkaan RAM global diprediksi baru mereda secara bertahap menjelang akhir 2027 atau bahkan lebih lambat, terutama jika permintaan dari industri AI tetap tinggi sementara pertumbuhan kapasitas produksi memori belum bisa mengejar. Bagi konsumen Indonesia yang berencana membeli smartphone baru, artinya jendela harga murah kemungkinan sudah mulai tertutup — dan kondisi harga tinggi ini bisa jadi “kenormalan baru” setidaknya untuk satu hingga dua tahun ke depan.