TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Lei Jun, pendiri sekaligus CEO Xiaomi, memicu gelombang perdebatan global setelah secara terbuka menyatakan bahwa kecerdasan buatan akan merevolusi struktur kerja manusia secara mendasar—bukan di panggung peluncuran produk, melainkan langsung di hadapan Kongres Rakyat Nasional (NPC) China yang berlangsung di Beijing pada Rabu, 5 Maret 2025.
Dalam wawancara eksklusif bersama China News Weekly di sela-sela sidang tahunan lembaga legislatif tertinggi China tersebut, Lei Jun menegaskan bahwa era kecerdasan buatan akan mengubah tatanan dunia kerja secara fundamental—jauh melampaui sekadar otomatisasi tugas repetitif.
“Di masa depan, mungkin kita hanya perlu bekerja 3 hari seminggu, 2 jam sehari, bukan lagi 5 hari seminggu 8 jam sehari. Kualitas hidup dan kualitas kerja kita akan meningkat secara signifikan,” ujar Lei Jun.
Pernyataan ini menjadikan Lei Jun bergabung dalam satu barisan dengan dua raksasa industri teknologi global—CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon dan CEO Nvidia Jensen Huang—yang sebelumnya juga telah memprediksi bahwa AI akan secara dramatis mempersempit jam kerja manusia dalam dekade mendatang. Ketiga tokoh ini kini membentuk konsensus tak resmi di puncak industri global bahwa model kerja 40 jam seminggu sedang menghitung hari terakhirnya.
Namun Lei Jun tidak berhenti pada prediksi. Di forum yang sama, ia memperkenalkan ambisi teknologi terbesar Xiaomi saat ini: AIOS atau Artificial Intelligence Operating System, sebuah sistem operasi berbasis kecerdasan buatan yang diklaim akan merombak cara manusia berinteraksi dengan perangkat pintar secara menyeluruh. Berbeda dari pembaruan fitur konvensional, AIOS dirancang sebagai lapisan inteligensi baru yang tertanam langsung di inti sistem operasi—mampu belajar, beradaptasi, dan bertindak secara otonom tanpa menunggu perintah pengguna.
Untuk mendukung ambisi tersebut, Xiaomi mengumumkan rencana investasi riset dan pengembangan (R&D) senilai 30 miliar yuan atau sekitar Rp 67 triliun khusus untuk tahun 2025 saja. Angka ini melengkapi total investasi R&D Xiaomi dari 2021 hingga 2025 yang menembus 105 miliar yuan—setara dengan kurang lebih Rp 237 triliun—melampaui target awal 100 miliar yuan yang ditetapkan perusahaan lima tahun lalu. Seperempat dari total anggaran R&D tersebut dialokasikan secara spesifik untuk pengembangan AI dan ekosistem bisnis berbasis kecerdasan buatan.
Lei Jun menegaskan bahwa inovasi ini bukan sekadar respons terhadap tren pasar, melainkan komitmen jangka panjang Xiaomi sebagai tulang punggung industri manufaktur berteknologi tinggi China. Ia menolak keras narasi yang menyebut smartphone telah mentok dari sisi inovasi, dan justru berargumen bahwa AIOS merepresentasikan lompatan paradigma yang sesungguhnya—bukan iterasi fitur, melainkan redefinisi ulang seluruh cara kerja sebuah perangkat pintar.
Pernyataan Lei Jun di NPC mendapat konteks yang semakin kuat setelah Xiaomi merilis laporan keuangan terkuat sepanjang sejarahnya: laba bersih 2024 melonjak 41 persen menjadi 27,2 miliar yuan (sekitar Rp 61,2 triliun), sementara penjualan melejit 35 persen ke rekor tertinggi 365,9 miliar yuan (sekitar Rp 823,3 triliun), melampaui proyeksi konsensus analis Bloomberg. Saham Xiaomi merespons dengan kenaikan 3,3 persen ke level HK$57,65 di Bursa Hong Kong, menilai perusahaan di angka HK$1,45 triliun atau sekitar Rp 3.050 triliun.
Sementara dunia masih mendebat seberapa realistis prediksi tiga hari kerja seminggu itu, Lei Jun justru menutupnya dengan ajakan yang tegas kepada publik global untuk tidak menyambut AI dengan ketakutan.
“Semua orang seharusnya merangkul era yang lebih maju dengan pikiran terbuka, bukan dengan rasa takut,” tegasnya.