TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Nama Apple selama ini identik dengan produk yang “menyempurnakan” teknologi orang lain — bukan menciptakannya dari nol. Namun penelusuran terhadap sejarah sejumlah standar teknologi krusial menunjukkan fakta berbeda: Apple justru berperan sebagai co-founder, pendana awal, atau bahkan penemu utama di balik beberapa fondasi teknologi yang masih dipakai industri global hari ini.
Kasus paling ekstrem adalah arsitektur chip ARM, yang kini menjadi otak dari hampir seluruh smartphone di dunia, termasuk chip Apple Silicon buatan Apple sendiri. ARM lahir tahun 1990 sebagai joint venture tiga perusahaan: Apple, Acorn Computers, dan VLSI Technology. Kongsi ini terbentuk karena Apple butuh prosesor hemat daya untuk proyek perangkat genggam Newton, namun Acorn tak punya anggaran untuk memodifikasi desain chip mereka sendirian.
Skema pembagian peran pun disepakati: Acorn menyumbang 12 tenaga insinyur, VLSI menyediakan perangkat desain, sementara Apple mengucurkan dana segar senilai USD 3 juta atau sekitar Rp49 miliar dengan kurs saat ini, dan mendapat 43 persen saham perusahaan baru tersebut. Ironisnya, Newton MessagePad yang menjadi alasan lahirnya ARM justru gagal total di pasar dan dihentikan produksinya pada 1998.
Namun investasi itu tidak sia-sia dalam jangka panjang. Tiga dekade kemudian, arsitektur ARM yang didanai Apple sejak awal justru menjadi fondasi bagi chip M-series yang dipakai di lini MacBook dan Mac terbaru — Apple secara harfiah menjadi “orang tua asuh” teknologi yang kini menghidupi jantung produk mereka sendiri.
Pola serupa terjadi pada FireWire, standar transfer data kecepatan tinggi yang mulai dikembangkan Apple sejak 1986. Berbeda dari ARM yang murni joint venture pendanaan, FireWire dikembangkan bersama raksasa elektronik lain seperti Sony dan Panasonic secara kolaboratif dan disengaja. Teknologi ini kemudian diserahkan Apple ke Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) untuk distandardisasi sebagai IEEE 1394, tanpa Apple pernah menarik biaya lisensi dari perusahaan lain yang menggunakannya.
Pola “temukan dulu, lalu buka ke industri” ini kembali terulang pada Thunderbolt. Apple diketahui menjadi pihak yang menawarkan konsep awal teknologi bernama Light Peak kepada Intel untuk dikembangkan lebih lanjut. Keduanya lantas sepakat beralih dari rencana kabel serat optik ke tembaga demi menekan biaya produksi massal, dan Apple sempat lebih dulu mendaftarkan merek dagang “Thunderbolt” sebelum akhirnya menyerahkannya ke Intel yang memegang hak kekayaan intelektual inti teknologi tersebut.
Di sisi lain, Apple juga memiliki jejak panjang menciptakan standar tertutup yang sepenuhnya dikendalikan sendiri, seperti Apple Desktop Bus (ADB) dan AppleTalk di era 1980-an, hingga konektor Lightning pada 2012 silam. Standar USB-C yang belakangan menjadi konektor universal industri bahkan disebut-sebut banyak terpengaruh desain Lightning yang lebih dulu hadir.
Pola besar yang terlihat dari rangkaian sejarah ini menunjukkan Apple jarang berperan sebagai penerima pasif standar industri yang sudah matang, sebagaimana lazim dilakukan produsen PC atau Android pada umumnya. Perusahaan asal Cupertino itu hampir selalu memiliki kursi di meja perundingan sejak fase paling awal pengembangan teknologi, baik sebagai penemu utama, pendana strategis, maupun mitra co-development — sebuah strategi yang pada akhirnya memberi mereka keunggulan sebagai pengadopsi pertama di hampir setiap generasi teknologi konektivitas baru.