TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Dukungan ekspansi ini muncul tak lama setelah IOH membagikan dividen kepada pemegang saham senilai Rp3,57 triliun atau setara Rp111 per saham, yang diumumkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan di Jakarta awal Mei 2026 lalu. Vikram menegaskan pembagian dividen tak akan mengorbankan investasi jangka panjang perusahaan di sektor AI.
“Di Indosat, kami percaya bahwa setiap kemajuan harus menghadirkan dampak yang lebih luas dan bermakna,” ujar Vikram Sinha dalam keterangan resmi, dikutip dari IndiNews.ID, Kamis (7/5/2026).
Transformasi Indosat bertumpu pada strategi bernama AI North Star, yang terdiri atas tiga pilar utama: menjadi telko berbasis AI (AI-native telco), membangun bisnis cloud berbasis AI TechCo, dan berperan sebagai penopang pembangunan digital nasional Indonesia. Ambisi ini didukung rencana ekspansi infrastruktur agresif, termasuk pusat data bertenaga GPU yang dimulai dari kapasitas aktif 10 MW dengan target mencapai 1 GW pada 2030.
Di jantung strategi ini berdiri Sahabat-AI, model bahasa besar (LLM) berdaulat yang dikembangkan Indosat khusus untuk memahami konteks bahasa dan budaya Indonesia. Perusahaan menegaskan Sahabat-AI tidak dirancang untuk menyaingi ChatGPT atau Gemini, melainkan melengkapi ekosistem AI global dengan fokus pada data sensitif yang bersifat kedaulatan digital nasional.
Sahabat-AI sudah diterapkan dalam kasus penggunaan nyata, salah satunya fitur deteksi spam dan penipuan yang dikembangkan bersama mitra Tala. Fitur AI-powered Anti-Spam dan Scam milik Indosat mampu mendeteksi indikasi penipuan pada layanan SMS maupun suara dengan tingkat akurasi lebih dari 90 persen.
Selain pusat data terpusat, Indosat mengembangkan model AI grid yang akan berevolusi dari sejumlah kecil AI factory menjadi jaringan terdistribusi hingga 55.000 lokasi edge, menggabungkan infrastruktur radio access network dengan komputasi GPU. Model ini dikembangkan bersama Nokia dan NVIDIA agar beban kerja AI bisa diproses lebih dekat ke pengguna akhir di seluruh pelosok Indonesia.
“Kami sungguh-sungguh ketika mengatakan bahwa tujuan besar kami adalah memberdayakan Indonesia,” kata Vikram Sinha dalam forum Mobile World Congress (MWC) 2026 di Barcelona, dikutip dari Data Centre Magazine.
Ambisi Indosat juga terhubung dengan agenda AI nasional pemerintah Indonesia. Pada Juli 2025, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) meluncurkan Indonesia AI Center of Excellence bersama Indosat, Cisco, dan NVIDIA, sebagai langkah untuk mendukung daya saing dan transformasi AI nasional.
Dari sisi bisnis, Indosat saat ini melayani hampir 200 juta pelanggan yang tersebar di 17.000 pulau di seluruh Indonesia. Sepanjang 2025, perusahaan mencatatkan total pendapatan sekitar 3,4 miliar dolar AS dan laba setara 350 juta dolar AS. Dengan asumsi kurs Rp16.300 per dolar AS, pendapatan tersebut setara sekitar Rp55,4 triliun dan laba sekitar Rp5,7 triliun.
Momentum ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia secara keseluruhan. Berdasarkan studi bersama Google, Temasek, dan Bain & Company, ekonomi digital Indonesia diperkirakan telah menembus 130 miliar dolar AS pada 2025, sementara jumlah pengguna seluler di Indonesia mencapai lebih dari 355 juta. Setara kurs yang sama, nilai ekonomi digital itu mencapai sekitar Rp2.119 triliun.
Dengan kepemimpinan Vikram Sinha yang diperpanjang hingga 2031, Indosat menegaskan komitmennya menjadikan AI bukan sekadar tren bisnis, melainkan fondasi baru pembangunan digital Indonesia menuju target menjadi negara maju.