21 February 2026, 17:12

Ketua Komisi III DPR Minta Ketua BEM UGM yang Ngaku Diteror Segera Lapor Polisi: “Biar Ditindak Aparat”

Habiburokhman menilai pelaporan resmi menjadi pintu masuk agar aparat dapat menelusuri dan menindak pihak yang melakukan ancaman.

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
997
Ketua Komisi III DPR Minta Ketua BEM UGM yang Ngaku Diteror Segera Lapor Polisi: “Biar Ditindak Aparat”
Ketua Komisi III DPR Habiburokhman (kedua kiri) pada Rapat Paripurna ke-8 DPR RI Masa Persidangan II Tahun Sidang 205-2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (18/11/2025). (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

JAKARTA, Perspektif.co.id - Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman meminta Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) Tiyo Ardianto segera membuat laporan kepolisian setelah mengaku menerima teror. Habiburokhman menilai pelaporan resmi menjadi pintu masuk agar aparat dapat menelusuri dan menindak pihak yang melakukan ancaman. “Terkait informasi adanya teror terhadap Ketua BEM UGM kami berharap yang bersangkutan membuat laporan polisi, dan selanjutnya bisa ditindak oleh aparat,” kata Habiburokhman kepada wartawan, Sabtu (21/2/2026). 

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu juga menepis dugaan bahwa teror tersebut datang dari kelompok pendukung Presiden Prabowo Subianto. Habiburokhman menyebut, pihaknya justru menerima informasi adanya ancaman serupa yang juga dialami sebagian pendukung Prabowo. “Kami pastikan pelaku teror bukan dari pendukung Pak Prabowo… saat ini ada beberapa pendukung Pak Prabowo juga mendapat ancaman teror. Saya juga meminta rekan-rekan tersebut juga membuat laporan polisi,” ujarnya.

Habiburokhman kemudian mengingatkan potensi “pihak ketiga” yang dinilainya berupaya memecah belah masyarakat melalui situasi yang dibuat tidak kondusif. “Waspada ada pihak ketiga yang mau mengadu domba bangsa kita. Situasi saat ini bisa saja ada pihak yang ingin memancing di air keruh,” ucapnya. 

Pernyataan itu merespons pengakuan Tiyo yang sebelumnya menyebut teror dialaminya sejak 9 Februari. Tiyo mengatakan menerima pesan dari sejumlah nomor luar negeri yang berisi ancaman, termasuk penculikan dan upaya membuka aib. “Teror itu sejak Selasa, 9 Februari. Ada sekitar 6 nomor asing (dari luar negeri). Itu isinya ada ancaman penculikan, ada ancaman untuk katanya membuka aib,” kata Tiyo.

Selain teror digital, Tiyo mengaku pernah mengalami penguntitan pada 11 Februari ketika berada di sebuah kedai. Ia menyebut ada orang yang memantau sekaligus memotret dari kejauhan, dan menghilang saat dikejar. “Ada juga pengalaman sempat dikuntit… dari jauh ada orang yang menguntit sekaligus memfoto. Tetapi ketika kami kejar, dia sudah segera pergi. Ini alarm yang menunjukkan bahwa demokrasi kita enggak baik-baik saja,” ujarnya. 

Dalam laporan lain, rangkaian teror terhadap Tiyo disebut muncul setelah BEM UGM mengirim surat ke UNICEF terkait peristiwa anak bunuh diri di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dikaitkan dengan kesulitan ekonomi untuk membeli alat tulis. Menyikapi kabar tersebut, pihak kampus menyatakan telah berkomunikasi dengan Tiyo dan menugaskan Kantor Keamanan, Keselamatan Kerja, Kedaruratan, dan Lingkungan (K5L) untuk melakukan pemantauan serta perlindungan yang diperlukan. “Pimpinan UGM telah melakukan komunikasi… dan menugaskan… K5L untuk melakukan pemantauan dan perlindungan yang diperlukan,” kata Juru Bicara UGM I Made Andi Arsana.

Berita Terkait