16 January 2026, 14:46

Isra Mi’raj Cuma Semalam, Ini 3 Teori Fisika yang Kerap Dipakai untuk “Membaca” Perjalanan Nabi Muhammad

Peristiwa Isra Mi’raj dipahami umat Islam sebagai perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem

Reporter: M. Ansori
Editor: Zainur Akbar
1,148
Isra Mi’raj Cuma Semalam, Ini 3 Teori Fisika yang Kerap Dipakai untuk “Membaca” Perjalanan Nabi Muhammad
Ilustrasi. Peristiwa Isra Mikraj secara logika tak mungkin dilakukan. (iStock/Gogosvm)

Perspektif.co.id - Peristiwa Isra Mi’raj dipahami umat Islam sebagai perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem, lalu naik ke langit untuk menerima perintah salat. Narasi yang menyebut perjalanan itu berlangsung dalam satu malam membuat banyak orang bertanya: adakah cara sains menjelaskannya, setidaknya sebagai pendekatan atau analogi? 

Secara geografis, jarak Makkah–Yerusalem bila ditempuh lewat jalur darat berada di kisaran 1,4–1,5 ribu kilometer, dengan estimasi waktu perjalanan belasan jam dalam kondisi normal. Angka semacam ini sering dipakai untuk menggambarkan betapa “tidak sebandingnya” skala perjalanan jika dibaca dengan ukuran transportasi manusia. 

Dalam berbagai diskusi populer, setidaknya ada tiga pendekatan fisika yang kerap disebut: relativitas (terutama relativitas umum), gagasan “keluar dari dimensi ruang-waktu”, serta kajian fisika kuantum lewat konsep anihilasi (tumbukan materi–antimateri). Penting dicatat, para ahli yang mengemukakan pendekatan ini umumnya menempatkannya sebagai upaya penjelasan/analogi—bukan pembuktian ilmiah atas mukjizat. 

Pendekatan pertama datang dari pembacaan teori relativitas umum Albert Einstein. Dalam kerangka ini, ruang dan waktu dipahami tidak selalu “kaku”, melainkan dapat melengkung dan dinamis mengikuti struktur alam semesta. Prof Agus Purwanto (pakar fisika teori) misalnya menautkan gagasan ruang-waktu dengan cara sederhana: “Jadi menurut Einstein jagat raya kita itu melengkung,” ujarnya. 

Masih dalam penjelasan yang sama, Agus mengaitkan ide alam semesta mengembang (sering diasosiasikan dengan temuan Edwin Hubble) untuk menjelaskan kemungkinan adanya dimensi lain di luar ruang-waktu yang kita alami. “Jika alam semesta diibaratkan balon, maka permukaan bola itulah ungkapan ruang lengkung dua dimensi. Artinya masih ada dimensi lain, yaitu alam immaterial yang keberadaannya di luar ruang dan waktu alam semesta,” tulisnya dalam ulasan yang dimuat Muhammadiyah. 

Dari titik itu, Agus menyimpulkan perjalanan Mi’raj dapat “terbaca” berlangsung sangat singkat karena tidak lagi berada di alam semesta yang sama. “Maka dari itu… bisa berlangsung dalam waktu yang relatif sangat singkat karena keberadaannya bukan lagi di alam semesta melainkan berada di ‘ruang ekstra’ alias alam immaterial,” tegasnya, lalu menambahkan, “Jadi perjalanan Rasulullah itu menembus dimensi yang lebih tinggi yaitu langit yang ghaib. Ini sudah berada di luar jangkauan ilmu pengetahuan.” 

Namun Agus juga mengkritik kecenderungan sebagian orang yang memakai relativitas khusus (misalnya asumsi kecepatan cahaya) untuk “menghitung” perjalanan Mi’raj secara harfiah. Ia menyebut, kalau kendaraan diasumsikan melaju setara cahaya, hitungan jarak tetap membuat perjalanan itu belum “keluar” dari sistem tata surya; bahkan secara fisika, objek bermassa yang dipaksa mendekati kecepatan cahaya menimbulkan problem serius. “Kalau Nabi Saw secepat kecepatan cahaya tubuhnya akan meledak. Karenanya hentikan penjelasan peristiwa Isra’ Mi’raj ini dengan pendekatan Relativitas Khusus Einstein,” ujar Agus. 

Pendekatan kedua banyak dikaitkan dengan gagasan “keluar dari dimensi ruang-waktu”. Thomas Djamaluddin (astronom) menulis bahwa Isra Mi’raj “jelas bukan perjalanan seperti… pesawat terbang… dan penerbangan antariksa”, melainkan “perjalanan keluar dari dimensi ruang waktu”. Ia menekankan keterbatasan sains: “Tentang caranya, iptek tidak dapat menjelaskan.” 

Dalam penjelasan yang sama, Thomas menyebut manusia hidup dalam batas ruang-waktu (x, y, z, t) sehingga selalu terikat jarak dan waktu. Karena itu, dalam kisah Isra Mi’raj, ia memandang Rasulullah “keluar dari dimensi ruang” sehingga bisa “dengan sekejap” berada di Masjidil Aqsa, dan “keluar dari dimensi waktu” sehingga dapat menembus masa lalu (ditautkan dengan perjumpaan dengan para nabi). 

Pendekatan ketiga datang dari kajian fisika kuantum melalui konsep anihilasi—reaksi yang melibatkan materi dan antimateri yang menghasilkan energi sangat besar. DetikInet merangkum salah satu pembacaan yang mengaitkan anihilasi dengan kisah Isra Mi’raj: “Tubuh Nabi Muhammad SAW… dihapus dengan massa antimateri… membentuk satu energi baru yang disebut tim peneliti sebagai Buraq,” dan secara fisika “Buraq bisa dipasangkan dengan konsep sinar gamma.” 

Masih dalam rangkuman tersebut, penjelasan anihilasi juga dikaitkan dengan kemungkinan proses kebalikan (materialisasi), yakni energi “dipecah kembali” sehingga membentuk materi lagi. Dari situ muncul narasi bahwa setelah Isra Mi’raj, Nabi Muhammad kembali “termaterialisasi” menjadi bentuk fisik seperti semula.

Berita Terkait