13 January 2026, 14:22

Isra Miraj 1447 H Jatuh 16 Januari 2026: Bukan Sekadar Seremonial, Ini Cara Meneladaninya Sehari-hari

Menjelang peringatan Isra Miraj 1447 Hijriah yang jatuh pada 16 Januari 2026, momentum ini kembali menjadi pengingat penting bagi umat Islam

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
2,359
Isra Miraj 1447 H Jatuh 16 Januari 2026: Bukan Sekadar Seremonial, Ini Cara Meneladaninya Sehari-hari
PHBI Lamandau menggelar peringatan Isra Miraj. (ANTARA/Dokumentasi Pribadi)

Perspektif.co.id - Menjelang peringatan Isra Miraj 1447 Hijriah yang jatuh pada 16 Januari 2026, momentum ini kembali menjadi pengingat penting bagi umat Islam untuk tidak sekadar mengenang peristiwa besar dalam sejarah Islam, tetapi juga mengambil hikmah dan teladannya dalam kehidupan sehari-hari. Isra Miraj bukan hanya perjalanan spiritual Rasulullah SAW, melainkan peristiwa yang sarat nilai keimanan, keteguhan hati, serta penguatan fondasi ibadah melalui perintah salat sebagai pilar utama kehidupan seorang Muslim.

Di tengah tantangan zaman modern yang serba cepat, pesan Isra Miraj dinilai tetap relevan untuk membangun pribadi yang lebih disiplin, berakhlak, dan semakin dekat kepada Allah SWT. Karena itu, memahami cara meneladani Isra Miraj dalam keseharian menjadi langkah penting agar peringatannya tidak berhenti pada agenda tahunan, melainkan benar-benar tercermin dalam sikap, perilaku, dan kualitas ibadah umat Islam.

“Isra Miraj bukan hanya peristiwa untuk diingat, tetapi juga untuk diteladani,” demikian penekanan utama yang kerap mengemuka setiap menjelang peringatannya, terutama terkait salat sebagai komunikasi langsung hamba dengan Sang Pencipta. Dari peristiwa tersebut, umat Islam diajak untuk memperbaiki kualitas ibadah, menjaga konsistensi, sekaligus menata akhlak dalam kehidupan sosial.

Salah satu langkah awal yang bisa dilakukan adalah meluangkan waktu untuk memahami makna dan hikmah Isra Miraj. Dengan mempelajari latar belakang dan pesan spiritualnya, umat dapat melihat betapa pentingnya ibadah—khususnya salat—sebagai sarana pembentukan karakter dan kedisiplinan. Pemahaman ini juga membantu menempatkan Isra Miraj sebagai momen refleksi, bukan sekadar rangkaian seremonial.

Selain itu, konsistensi dalam ibadah menjadi teladan yang sangat ditekankan. Menjaga salat lima waktu tepat waktu, menambah amalan seperti puasa sunnah, hingga membiasakan amalan harian lainnya diyakini dapat membentuk kebiasaan positif. Konsistensi tersebut menjadi kunci agar ibadah tidak bersifat musiman, melainkan menjadi napas dalam aktivitas sehari-hari.

Kualitas ibadah juga perlu ditingkatkan melalui kekhusyukan. Dalam praktiknya, umat bisa melatih fokus hati dan pikiran saat beribadah, menjauhkan diri dari gangguan, serta merenungi arti bacaan salat dan doa. Upaya ini bertujuan menghadirkan ketenangan batin sekaligus memperkuat ikatan spiritual dalam setiap ibadah yang dijalankan.

Meneladani Isra Miraj juga dapat dilakukan dengan memperluas wawasan keagamaan. Membaca literatur keislaman, mengikuti kajian, atau menyimak ceramah dinilai membantu memperdalam pemahaman ajaran Islam secara benar. Dengan ilmu yang bertambah, kualitas ibadah dan cara memaknai peristiwa besar seperti Isra Miraj pun dapat semakin matang.

Kebiasaan memperbanyak doa dan zikir turut menjadi langkah yang dianjurkan. Doa dan zikir bisa dilakukan setelah ibadah maupun di sela aktivitas harian, sebagai bentuk kedekatan dengan Allah SWT serta permohonan kekuatan, ketenangan, dan petunjuk dalam menjalani kehidupan. Kebiasaan ini juga menjadi penyangga spiritual di tengah ritme hidup yang cepat.

Nilai lain yang tak kalah penting adalah menanamkan sikap ikhlas dan tawakal. Menjalankan ibadah dengan niat murni karena Allah SWT, tanpa mengharap pujian manusia, diyakini membuat ibadah terasa lebih ringan dan bermakna. Sikap berserah diri juga membantu umat tetap kokoh menghadapi ujian hidup, sejalan dengan pesan keteguhan iman yang tercermin dalam Isra Miraj.

Meneladani Isra Miraj tidak berhenti pada ruang personal, melainkan juga bisa diperluas ke lingkungan keluarga dan sosial. Mengajak keluarga atau orang terdekat untuk beribadah bersama dinilai mampu menciptakan suasana religius yang saling menguatkan. Kebersamaan dalam ibadah tidak hanya menumbuhkan motivasi, tetapi juga mempererat hubungan sosial dan membangun lingkungan yang lebih kondusif.

Refleksi diri juga menjadi bagian penting. Setelah beribadah, umat bisa meluangkan waktu untuk mengevaluasi: apakah ibadah sudah dilakukan dengan maksimal, dan bagian mana yang masih perlu diperbaiki. Langkah evaluasi ini membantu membangun kesadaran diri dan mendorong peningkatan kualitas ibadah secara berkelanjutan.

Poin yang paling ditekankan dari Isra Miraj adalah menjadikan salat sebagai prioritas utama. Peristiwa Isra Miraj memuat pelajaran bahwa salat adalah kewajiban langsung dari Allah SWT. Menempatkan salat sebagai prioritas, baik dalam kondisi sibuk maupun lapang, membentuk kedisiplinan dan kesadaran spiritual dalam setiap aktivitas.

Pada akhirnya, teladan Isra Miraj juga harus tercermin dalam akhlak. Menjaga tutur kata, bersikap jujur, sabar, rendah hati, dan memperbaiki perilaku dalam kehidupan sosial merupakan wujud nyata pengamalan nilai Isra Miraj. Dengan langkah-langkah tersebut, peringatan Isra Miraj diharapkan tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi benar-benar hadir dalam sikap, ibadah, dan perilaku umat Islam setiap hari.

Berita Terkait