13 January 2026, 14:26

Isra Miraj 1447 H Jatuh 16 Januari 2026: Ini 8 Hikmah Besar yang Sering Lewat Begitu Saja

Penetapan 27 Rajab 1447 H yang jatuh pada 16 Januari 2026 juga tercatat dalam kalender Hijriah Indonesia dan menjadi hari libur nasional

Reporter: M. Ansori
Editor: Zainur Akbar
3,083
Isra Miraj 1447 H Jatuh 16 Januari 2026: Ini 8 Hikmah Besar yang Sering Lewat Begitu Saja
Ustadz Das'at Latif membawakan tauziah pada acara doa dan zikir peringatan Isra Mi'raj di GOR Universitas Muslim Indonesia Makassar, Jumat,(9/1/2026).ANTARA/Abd Kadir (.)

Perspektif.co.id - Menjelang peringatan Isra Miraj 1447 Hijriah yang bertepatan dengan Jumat, 16 Januari 2026, umat Islam kembali diingatkan pada salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah kenabian. Penetapan 27 Rajab 1447 H yang jatuh pada 16 Januari 2026 juga tercatat dalam kalender Hijriah Indonesia dan menjadi hari libur nasional, sehingga momentum ini kembali menyedot perhatian publik dari sisi spiritual maupun agenda peringatan keagamaan.

Namun Isra Miraj bukan sekadar kisah perjalanan luar biasa Rasulullah SAW dalam satu malam. Peristiwa ini menyimpan pesan lintas zaman tentang iman, keteguhan menghadapi tekanan, kebesaran kuasa Allah SWT, serta penegasan salat sebagai fondasi utama kehidupan seorang Muslim. Karena itu, peringatan Isra Miraj kerap diposisikan bukan hanya sebagai seremonial tahunan, melainkan momen untuk menggali makna yang lebih dalam, agar nilai-nilainya benar-benar hidup dalam sikap dan praktik ibadah sehari-hari.

Berbagai hikmah yang kerap dirujuk menjelang Isra Miraj antara lain dihimpun dari kajian-kajian ulama dan literatur keislaman, termasuk pembahasan di kanal NU Online yang menekankan bahwa pelajaran Isra Miraj bukan berhenti pada “kejadian besar”, melainkan mengarah pada pembentukan karakter dan keteguhan spiritual. 

1, Isra Miraj menegaskan tingginya derajat kehambaan di sisi Allah SWT. Dalam QS Al-Isra’ [17]: 1, Allah menyebut Nabi Muhammad SAW dengan ungkapan “abdihi” (hamba-Nya). Penekanan kata “hamba” ini sering dibaca sebagai isyarat bahwa kemuliaan puncak manusia justru terletak pada kualitas penghambaan: tunduk, taat, dan ikhlas. Dalam Al-Qur’an, gambaran tentang hamba-hamba pilihan juga hadir lewat istilah ‘ibadurrahman—mereka yang rendah hati dan membalas kebodohan dengan ucapan damai. Allah SWT berfirman:
وَعِبَادُ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنٗا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَٰهِلُونَ قَالُواْ سَلَٰمٗا
Artinya: “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.” (QS Al-Furqan [25]: 63).

2, Isra Miraj dipahami sebagai “bekal” bagi Rasulullah SAW untuk menghadapi fase dakwah yang kian berat. Peristiwa itu terjadi setelah masa-masa penuh tekanan di Makkah—periode yang dalam tradisi sirah dikenal sebagai tahun kesedihan, ketika penolakan memuncak dan Rasul kehilangan penopang-penopang penting dalam hidupnya. Dalam konteks ini, Isra Miraj kerap dibaca sebagai penguatan mental dan spiritual: Allah SWT menguatkan hamba-Nya sebelum ujian perjuangan berikutnya datang. Setelah hijrah ke Madinah, tantangan dakwah terbukti semakin kompleks, dari tekanan politik hingga rangkaian peristiwa besar yang menuntut ketangguhan umat.

3, peristiwa Isra Miraj mengajarkan keberanian menyampaikan kebenaran meski tak selalu nyaman diterima. Sekembalinya dari perjalanan agung itu, Rasulullah SAW menyampaikan apa yang dialami kepada masyarakat. Responsnya beragam—ada yang mencibir, ada yang meragukan, bahkan ada yang mundur karena menganggapnya di luar nalar. Di titik ini, keteladanan Rasulullah SAW tampak: tetap menyampaikan kebenaran dengan jujur dan tegas, sekalipun pahit. Prinsip ini sering dirangkum dalam kalimat, “Katakanlah kebenaran meski pahit,” sebagai penanda bahwa kebenaran tidak selalu datang dengan tepuk tangan, tetapi tetap wajib diperjuangkan.

4, Isra Miraj juga memuat simbol penyempurnaan risalah Nabi Muhammad SAW atas syariat para nabi sebelumnya. Dalam sejumlah riwayat yang populer di kalangan umat, Rasulullah SAW disebut menjadi imam salat bagi para nabi terdahulu. Pesan yang sering ditarik dari peristiwa itu adalah penegasan posisi risalah Islam sebagai penyempurna, sekaligus pengikat mata rantai kenabian—bahwa ajaran tauhid yang dibawa para nabi bermuara pada kesempurnaan syariat yang dibawa Rasulullah SAW.

5, Isra Miraj menegaskan keutamaan Masjid Al-Aqsha bagi umat Islam. Perjalanan Isra dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis (Masjid Al-Aqsha) bukan sekadar rute, melainkan simbol keterhubungan tempat-tempat suci dalam sejarah Islam. Masjid Al-Aqsha juga dikenal sebagai kiblat pertama sebelum Allah SWT memerintahkan perpindahan kiblat ke Ka’bah. Dalam pembahasan keislaman yang beredar luas, termasuk rujukan NU Online, disebutkan pula keutamaan pahala salat di Masjid Al-Aqsha yang dinilai berlipat dibanding salat di masjid biasa.

6, Isra Miraj memberi pesan kuat bahwa Islam adalah agama yang selaras dengan fitrah dan kesucian. Dalam riwayat yang masyhur, Rasulullah SAW dihadapkan pada pilihan minuman, lalu memilih susu dibanding khamr. Pilihan itu kerap dimaknai sebagai simbol kejernihan, kesucian, dan kesesuaian ajaran Islam dengan naluri kebaikan manusia. Dalam salah satu ungkapan yang populer, Malaikat Jibril menegaskan makna pilihan tersebut: “Engkau telah diberi hadiah kesucian.” Pesan fitrah ini juga kerap dikaitkan dengan QS Ar-Rum [30]: 30:
فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلۡدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ
Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” 

7, inti paling dikenal dari Isra Miraj adalah ditetapkannya kewajiban salat lima waktu. Perintah ini dipahami memiliki kedudukan istimewa karena diterima Rasulullah SAW secara langsung, tidak melalui perantara sebagaimana sebagian ketentuan syariat yang lain. Karena itu, salat kerap disebut sebagai tiang agama: bukan hanya ritual, tetapi fondasi yang membentuk disiplin, ketenangan, dan arah hidup seorang Muslim. NU Online juga menekankan bahwa Isra Miraj pada akhirnya harus bermuara pada perbaikan kualitas salat—lebih khusyuk, lebih tertib, dan lebih terasa sebagai “perjumpaan” dengan Allah SWT. 

8, Isra Miraj menyimpan pelajaran tentang pentingnya mensucikan hati. Perjalanan agung itu, dalam banyak kisah yang diriwayatkan, didahului dengan pembersihan diri Rasulullah SAW—sebagai simbol bahwa kedekatan sejati kepada Allah SWT menuntut kebersihan batin, bukan sekadar aktivitas lahiriah. Pesannya tegas: ibadah akan lebih bermakna ketika hati dilatih untuk jujur, rendah hati, bebas dari iri, sombong, dan penyakit batin lain yang menggerus kualitas penghambaan.

Berita Terkait