15 January 2026, 17:36

Hadits Shahih Isra Miraj: Jejak Perjalanan Nabi dari Masjidil Haram hingga Sidratul Muntaha dan Turunnya Perintah Salat

Menjelang peringatan Isra Miraj yang banyak diperingati masyarakat Muslim, kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam satu malam kembali ramai dibahas.

Reporter: Ihsan Nurdin
Editor: Zainur Akbar
3,347
Hadits Shahih Isra Miraj: Jejak Perjalanan Nabi dari Masjidil Haram hingga Sidratul Muntaha dan Turunnya Perintah Salat
Ilustrasi kitab hadits tentang Isra Mi'raj. Foto: Getty Images/iStockphoto/artisteer

Perspektif.co.id - Menjelang peringatan Isra Miraj yang banyak diperingati masyarakat Muslim, kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam satu malam kembali ramai dibahas. Peristiwa besar ini bukan sekadar cerita turun-temurun, melainkan punya pijakan kuat dalam Al-Qur’an dan diperinci dalam sejumlah hadits shahih yang diriwayatkan kitab-kitab utama.

Al-Qur’an menegaskan Isra sebagai perjalanan malam Nabi dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Isra ayat 1. Ayat itu menyebut Allah “memperjalankan hamba-Nya pada malam hari” untuk memperlihatkan sebagian tanda kebesaran-Nya. 

Dalam riwayat hadits shahih, rangkaian peristiwa berlanjut dari Isra menuju Mi’raj: Nabi diangkat melintasi langit demi langit, bertemu para nabi, sampai ke batas yang disebut Sidratul Muntaha. Salah satu hikmah terbesar dari Mi’raj adalah turunnya kewajiban salat fardu—yang dalam prosesnya mengalami keringanan jumlah. 

Kisah Mi’raj yang diriwayatkan Shahih Bukhari menggambarkan Nabi naik menembus langit dan bertemu para nabi, lalu sampai pada Baitul Ma’mur—tempat ibadah para malaikat. Dalam riwayat itu disebutkan Baitul Ma’mur “dimasuki 70.000 malaikat setiap hari dan mereka tidak kembali lagi” karena jumlah malaikat yang sangat banyak dan bergiliran beribadah. 

Perjalanan kemudian mengarah ke Sidratul Muntaha, pohon batas akhir yang menjadi titik puncak Mi’raj. Riwayat Bukhari menggambarkan bentuknya dengan perumpamaan yang sulit ditangkap logika manusia: daunnya diibaratkan besar, buahnya pun diumpamakan sangat besar, serta tampak perubahan luar biasa ketika diselimuti perintah Allah. 

Di momen inilah, kewajiban salat ditetapkan. Dalam hadits shahih, Nabi awalnya menerima perintah salat dalam jumlah besar. Lalu, saat Nabi turun dan bertemu Nabi Musa AS, Musa menasihati agar Nabi kembali memohon keringanan karena umat akan berat menjalankannya. Proses “bolak-balik” memohon keringanan itu berlangsung beberapa kali hingga kewajiban salat berkurang menjadi lima waktu. Dalam riwayat tersebut, Nabi menggambarkan titik akhirnya dengan kalimat tegas: “Aku sudah terlalu banyak kembali kepada Tuhanku sehingga aku malu kepada-Nya.” 

Selain rangkaian besar di atas, terdapat pula riwayat shahih lain yang menegaskan capaian Nabi dalam Mi’raj hingga Sidratul Muntaha beserta “pemberian” penting bagi umat. Dalam sebuah riwayat, disebutkan Nabi memperoleh tiga hal: salat lima waktu, bagian penutup Surah Al-Baqarah, serta kabar ampunan bagi umat yang tidak menyekutukan Allah—sebuah penekanan bahwa Isra Miraj tidak hanya memuat dimensi mukjizat, tetapi juga fondasi ibadah dan penguatan spiritual. 

Berita Terkait