12 December 2025, 15:04

Hina Sunda dan Viking, Resbob Akhirnya Minta Maaf: Mulut Saya Celaka karena Alkohol

Melalui video klarifikasi yang diunggah di akun Instagram pribadinya, ia menyampaikan permintaan maaf terbuka atas perkataan yang memicu kemarahan publik.

Reporter: Ihsan Nurdin
Editor: Zainur Akbar
2,689
Hina Sunda dan Viking, Resbob Akhirnya Minta Maaf: Mulut Saya Celaka karena Alkohol
Ilustrasi pengguna media sosial. (iStock/FreshSplash)

Perspektif.co.id - Streamer YouTube Resbob yang bernama asli Adimas Firdaus akhirnya angkat suara setelah diserbu kritik akibat ucapannya yang dianggap menghina pendukung Persib Bandung, Viking, dan masyarakat Sunda dalam siaran langsung di media sosial. Melalui video klarifikasi yang diunggah di akun Instagram pribadinya, ia menyampaikan permintaan maaf terbuka atas perkataan yang memicu kemarahan publik tersebut.

Dalam penjelasannya, Adimas mengaku apa yang terlontar dari mulutnya terjadi saat dirinya tidak sadar penuh. Ia mengklaim tak mengingat sama sekali telah mengucapkan kalimat-kalimat bernada penghinaan itu ketika tengah melakukan siaran langsung sambil menyetir mobil.

Pada potongan video yang beredar luas, Resbob tampak mengobrol dengan seseorang yang duduk di kursi penumpang. Di caption unggahan klarifikasinya, ia menulis penyesalan mendalam dan mengaitkan insiden tersebut dengan konsumsi alkohol. “Ketidaksadaran membuat saya celaka dalam ucapan, sampai sekarang saya tidak ingat sama sekali bahwa mulut saya mengucapkan itu. Dari sini, mari kita tinggalkan alkohol. Barang itu najis dan bisa bikin mulut orang jadi petaka,” tulisnya, dikutip Jumat (12/12).

Ia menyebut peristiwa ini menjadi pelajaran keras bagi dirinya sendiri. Menurut Adimas, insiden tersebut menjadi titik balik untuk lebih berhati-hati dan menjauhi minuman beralkohol yang menurutnya memicu tindakan di luar kendali. “Contohnya saya sendiri. Tapi justru di situ hikmahnya buat saya, supaya ke depan bisa lebih menjaga keselamatan diri. Tetaplah sadar, karena mulutmu adalah harimaumu, jangan dirusak dengan alkohol. Sekali lagi saya mohon maaf,” lanjutnya.

Dalam video klarifikasi tersebut, Adimas menjelaskan bahwa sesi siaran langsung itu dilakukan saat ia berada di Surabaya, Jawa Timur. Setelah tayangan itu viral, ia mengaku baru menyadari isi ucapannya setelah diingatkan banyak pihak bahwa dirinya telah menyinggung dan menstigma suku Sunda serta kelompok suporter tertentu.

Ia berkali-kali menegaskan sulit mempercayai bahwa ujaran provokatif itu keluar dari mulutnya sendiri. “Sungguh, sampai sekarang pun saya masih seperti tidak percaya hal itu bisa terucap oleh saya. Rasanya mustahil dan tidak masuk akal buat saya mengatakan hal seperti itu, apalagi menyangkut suku Sunda,” kata Adimas.

Lebih jauh, ia mencoba menjelaskan latar belakang kedekatannya dengan lingkungan Sunda. Adimas menyebut dirinya lahir dari ibu kandung bersuku Minang, namun sejak usia dua tahun diasuh oleh ibu sambung yang berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia juga mengaku sejak kecil dibimbing oleh seorang kiai yang juga bersuku Sunda.

“Ketidakpercayaan saya atas ucapan yang viral itu juga karena sejak kecil saya dibesarkan oleh sosok ibu sambung berdarah Sunda dari Tasikmalaya, meskipun ibu kandung saya orang Padang. Selain itu, guru agama saya sejak dulu juga orang Sunda,” tuturnya.

Dengan dasar pengalaman tersebut, Adimas menegaskan tidak memiliki niat memusuhi atau merendahkan masyarakat Sunda. Ia mengaku menyesal dan meminta maaf tidak hanya kepada publik, tetapi juga kepada orang-orang terdekat yang dirinya nilai ikut tersakiti oleh ucapannya.

“Atas ucapan yang ternyata sangat sensitif itu, saya memohon maaf sedalam-dalamnya. Pertama kepada ibu saya, keluarga besar saya, kiai yang membimbing saya, dan tentu kepada orang Sunda di mana pun berada,” ujar Adimas. Ia kembali menegaskan bahwa ujaran tersebut, menurut pengakuannya, muncul di luar kesadaran.

Sementara itu, langkah hukum sudah lebih dulu ditempuh. Viking Persib Club melalui kuasa hukum Ferdy Rizki telah resmi melaporkan akun Resbob ke Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Barat pada Kamis (11/12) malam. Ferdy menyatakan laporan dibuat setelah menerima mandat langsung dari Ketua Umum Viking, Tobias Ginanjar.

“Tadi malam, alhamdulillah, kami sudah membuat laporan polisi terkait adanya ujaran kebencian yang viral di media sosial. Saya mendapat penugasan dari Ketua Viking, Kang Tobias Ginanjar, untuk melaporkan ujaran kebencian tersebut,” ujar Ferdy, Jumat (12/12), dikutip dari detikJabar.

Menindaklanjuti laporan itu, Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan menyampaikan bahwa penyidik telah memulai langkah penyelidikan. Aparat disebut telah memetakan profil akun dan mengumpulkan bahan keterangan awal terkait konten yang diduga mengandung unsur hate speech terhadap Viking dan warga Jawa Barat.

“Kami sudah memprofiling akun pelaku hate speech terhadap Viking dan warga Jabar dan sudah melakukan penyelidikan. Penerimaan laporan polisi akan melengkapi proses hukum dan menguatkan keterangan saksi korban,” jelas Hendra. Polda Jabar memastikan proses hukum akan berjalan sesuai mekanisme yang berlaku hingga tahap pembuktian di hadapan penyidik.

Di sisi lain, Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan sebelumnya mengingatkan masyarakat agar tidak larut dalam emosi dan tidak menyeret suatu suku atau kelompok secara kolektif dalam kasus ini. Ia meminta agar kemarahan publik diarahkan kepada pelaku, bukan kepada identitas suku tertentu.

“Jangan dendam kepada sukunya, karena tidak semua sama. Fokus pada oknum tersebut. Saya yakin kepolisian akan segera menangkap dan memproses hukum agar ada efek jera sehingga tidak ada lagi yang menghina suku apa pun: Sunda, Jawa, Batak, dan lainnya. Kita saling menghormati sebagai sesama warga NKRI,” ujar Erwan.

Permintaan maaf terbuka yang disampaikan Resbob tidak otomatis menghentikan proses hukum yang telah bergulir. Namun, pengakuannya soal dampak buruk alkohol dan ajakan untuk menjauhi minuman keras menjadi catatan tersendiri di tengah maraknya konten yang memanfaatkan provokasi demi popularitas. Kasus ini kembali menegaskan bahwa kebebasan berbicara di ruang digital bukan tanpa batas, terutama ketika menyentuh isu identitas dan keberagaman di Indonesia.

Berita Terkait