EKONOMI, Perspektif.co.id — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar global setelah Goldman Sachs menyatakan keraguan bahwa Amerika Serikat mampu menjamin keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu chokepoint energi paling vital di dunia. Pernyataan itu muncul ketika konflik AS–Israel dengan Iran memicu lonjakan harga minyak dan rotasi besar di pasar saham internasional.
Dalam laporan yang dikutip Bloomberg, Goldman Sachs menilai risiko gangguan pasokan energi meningkat tajam seiring eskalasi serangan dan ancaman terhadap kapal tanker yang melintas di kawasan tersebut. Selat Hormuz selama ini menjadi jalur ekspor utama minyak dan LNG dari negara-negara Teluk menuju pasar Asia dan Eropa.
“Tidak banyak keyakinan bahwa pengawalan angkatan laut AS dapat benar-benar melindungi tanker di Selat Hormuz,” ujar analis Goldman Sachs, dikutip Bloomberg.
Situasi semakin tegang setelah Iran memperingatkan kapal-kapal komersial agar tidak melintas karena berpotensi menjadi target rudal atau drone. Beberapa perusahaan asuransi besar bahkan mulai menarik cakupan risiko perang, membuat banyak tanker memilih berhenti beroperasi sementara.
Goldman Sachs juga mendorong strategi investasi “HALO” — heavy assets, low obsolescence — sebagai respons terhadap volatilitas pasar. Bank tersebut menambahkan ConocoPhillips dan Loar Holdings ke daftar keyakinan mereka, meski keduanya mencatat pergerakan harga yang berlawanan dalam perdagangan terakhir.
“Harga minyak bisa melonjak jauh lebih tinggi jika pasar menilai risiko gangguan pasokan akan berlangsung lama,” tulis Daan Struyven, kepala riset komoditas Goldman Sachs.
Di pasar saham, sektor pertahanan seperti Northrop Grumman dan RTX Corp mencatat kenaikan signifikan sejak awal konflik. Sebaliknya, saham teknologi dan AI mengalami tekanan akibat rotasi besar-besaran menuju aset defensif. Fenomena ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi inflasi global jika ekspor energi dari kawasan Teluk terhenti lebih lama.
Selat Hormuz sendiri menangani sekitar seperempat perdagangan minyak global dan seperlima pasokan LNG dunia. Jika aliran tanker tidak segera pulih, analis memperingatkan harga minyak berpotensi menembus USD 100 per barel — setara sekitar Rp1,56 juta per barel (kurs Rp15.600).
Sementara itu, pemerintah AS menyatakan siap memberikan jaminan asuransi dan mengerahkan kapal perang untuk mengawal tanker jika diperlukan. Namun, Goldman Sachs menilai langkah tersebut belum cukup untuk meredam kekhawatiran pasar.