TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Ambisi Elon Musk untuk mendominasi sektor teknologi kembali mencapai tahap yang mencengangkan setelah miliarder tersebut dilaporkan berencana membangun sebuah sistem peluncuran kinetik atau "ketapel" raksasa di permukaan Bulan. Berdasarkan laporan investigasi yang dipublikasikan oleh The New York Times dan dikutip oleh berbagai media teknologi internasional pada pertengahan Februari 2026, rencana futuristik ini terungkap dalam sebuah pertemuan internal dengan karyawan xAI, perusahaan kecerdasan buatan milik Musk yang baru saja diintegrasikan secara strategis dengan SpaceX. Dalam pertemuan tersebut, Musk memaparkan visi besarnya untuk mendirikan pabrik manufaktur satelit AI otomatis di Bulan yang dilengkapi dengan sistem peluncur elektromagnetik atau mass driver untuk menembakkan satelit-satelit tersebut langsung ke orbit tanpa menggunakan roket konvensional yang boros bahan bakar.
Langkah radikal ini diambil sebagai respons terhadap krisis energi yang membayangi industri kecerdasan buatan di Bumi, di mana kebutuhan listrik untuk data center berskala besar semakin sulit dipenuhi oleh infrastruktur kelistrikan terestrial yang ada saat ini. Musk meyakini bahwa memindahkan infrastruktur komputasi AI ke luar angkasa adalah satu-satunya solusi jangka panjang yang masuk akal, mengingat ruang angkasa menyediakan akses energi surya yang tidak terbatas dan lingkungan vakum yang ideal untuk pendinginan sistem komputer canggih. Menurut bocoran dari pertemuan tersebut, Musk menargetkan pembangunan infrastruktur ini dapat dimulai dalam kurun waktu 36 bulan ke depan, sebuah lini masa yang sangat agresif bahkan untuk standar SpaceX.
“Kamu harus pergi ke Bulan,” ucap Elon Musk dengan tegas kepada para insinyur dan staf xAI dalam pertemuan tersebut, menekankan bahwa Bulan bukan lagi sekadar tujuan eksplorasi, melainkan basis industri yang krusial bagi kelangsungan pengembangan superinteligensi buatan.
Secara teknis, "ketapel" yang dimaksud adalah sebuah mass driver, yakni sistem lintasan elektromagnetik panjang yang berfungsi mempercepat muatan hingga mencapai kecepatan lepas (escape velocity) bulan. Karena gravitasi Bulan hanya seperenam dari gravitasi Bumi dan tidak memiliki atmosfer yang tebal, peluncuran satelit menggunakan metode lemparan kinetik ini menjadi jauh lebih efisien dan murah dibandingkan peluncuran dari Bumi. Satelit-satelit AI yang diproduksi di pabrik bulan tersebut nantinya akan membentuk konstelasi data center orbital yang mampu memproses data dalam jumlah masif tanpa membebani jaringan listrik di Bumi. Rencana ini juga menandai pergeseran prioritas strategis Musk, yang sebelumnya sangat terobsesi dengan kolonisasi Mars, kini mulai melihat Bulan sebagai batu loncatan ekonomi yang lebih cepat untuk direalisasikan sebelum mencapai Planet Merah.
“Sulit membayangkan apa yang akan dipikirkan oleh kecerdasan dengan skala sebesar itu, tapi akan sangat menarik untuk melihat hal itu terjadi,” tambah Musk saat mendiskusikan potensi kemampuan komputasi dari jaringan satelit AI yang akan dibangun di orbit tersebut.
Pengumuman internal ini muncul di tengah kabar persiapan penawaran umum perdana (IPO) SpaceX yang diperkirakan akan valuasi perusahaannya meroket tajam pasca-merger dengan xAI. Para analis industri di Bloomberg Technology dan TechCrunch menilai bahwa integrasi antara kemampuan peluncuran super berat SpaceX—melalui roket Starship—dan ambisi komputasi xAI menciptakan ekosistem bisnis antariksa yang belum pernah ada sebelumnya. Meskipun banyak pihak skeptis mengenai kelayakan teknis dan logistik pembangunan pabrik di lingkungan bulan yang ekstrem dalam waktu dekat, rekam jejak Musk dalam membalikkan keraguan melalui kesuksesan pendaratan roket reusable membuat proposal "ketapel bulan" ini ditanggapi dengan serius oleh para pesaing dan investor global.