06 April 2026, 18:33

F-15E AS Ditembak Jatuh di Iran, Ini Spesifikasi ‘Mesin Perang’ yang Akhirnya Tumbang Setelah 20 Tahun

Peristiwa ini dinilai signifikan karena disebut sebagai pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade sebuah jet tempur Amerika ditembak jatuh oleh kekuatan musuh

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
363
F-15E AS Ditembak Jatuh di Iran, Ini Spesifikasi ‘Mesin Perang’ yang Akhirnya Tumbang Setelah 20 Tahun
Ilustrasi F-15E / Doc: istimewa

JAKARTA, Perspektif.co.id -  Pesawat tempur F-15E Strike Eagle milik Amerika Serikat mendadak menjadi sorotan global setelah dilaporkan ditembak jatuh di wilayah Iran dalam operasi militer yang tengah berlangsung. Insiden ini langsung memicu respons besar-besaran dari militer AS, termasuk pengerahan puluhan jet tempur hingga dukungan intelijen untuk menyelamatkan awak pesawat yang hilang.

Peristiwa ini dinilai signifikan karena disebut sebagai pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade sebuah jet tempur Amerika ditembak jatuh oleh kekuatan musuh dalam operasi aktif. Laporan BBC yang dirilis pada Senin (6/4/2026) menyebutkan bahwa misi penyelamatan berlangsung intensif dengan melibatkan berbagai elemen militer, termasuk badan intelijen.

“Operasi penyelamatan awak F-15 melibatkan puluhan jet tempur dan dukungan intelijen untuk menemukan kru yang hilang,” demikian laporan yang dikutip.

Pesawat F-15E Strike Eagle sendiri merupakan salah satu tulang punggung kekuatan udara US Air Force yang selama ini dikenal memiliki kemampuan tempur tinggi dalam berbagai misi strategis. Jet ini dirancang sebagai pesawat serang taktis jarak jauh yang mampu menjalankan operasi udara ke udara maupun udara ke darat dalam kondisi siang, malam, hingga cuaca ekstrem.

F-15E merupakan pengembangan dari varian F-15 Eagle yang awalnya difokuskan pada misi superioritas udara. Dalam versi Strike Eagle, pesawat ini mengalami modifikasi signifikan sehingga menjadi jet multirole dengan kemampuan serangan darat yang jauh lebih kuat. Desainnya memungkinkan pesawat menembus wilayah pertahanan musuh, menghancurkan target strategis, lalu kembali ke pangkalan dengan tingkat keberhasilan tinggi.

Dalam insiden terbaru, jet ini digunakan dalam operasi militer di wilayah Iran sebelum akhirnya dilaporkan jatuh akibat serangan pertahanan musuh. Kejadian tersebut langsung memicu operasi pencarian dan penyelamatan skala besar terhadap awak pesawat.

Berdasarkan data resmi dari US Air Force, F-15E Strike Eagle memiliki spesifikasi teknis yang dirancang untuk mendukung misi tempur berat dan jarak jauh. Pesawat ini memiliki panjang sekitar 19,4 meter dengan rentang sayap 13 meter dan tinggi mencapai 5,6 meter. Kecepatan maksimumnya mencapai Mach 2,5 atau sekitar 1.875 mph, menjadikannya salah satu jet tempur tercepat di kelasnya.

Selain itu, F-15E memiliki jangkauan terbang hingga 3.840 kilometer dan mampu beroperasi pada ketinggian maksimal 60.000 kaki. Pesawat ini dioperasikan oleh dua awak, yakni pilot dan weapon systems officer yang bertugas mengelola sistem persenjataan dan navigasi.

Kekuatan utama F-15E juga terletak pada mesinnya yang menggunakan dua unit Pratt & Whitney F100 dengan daya dorong tinggi. Konfigurasi ini memungkinkan pesawat membawa bahan bakar serta persenjataan dalam jumlah besar untuk mendukung operasi serangan jarak jauh atau deep strike ke wilayah musuh.

Dari sisi teknologi, F-15E dilengkapi sistem avionik canggih seperti radar APG-70, navigasi berbasis GPS, serta sistem LANTIRN yang memungkinkan pesawat terbang rendah dan menyerang target secara presisi, bahkan pada malam hari. Teknologi ini memberikan keunggulan dalam mendeteksi target sekaligus menghindari ancaman di medan tempur.

Tak hanya itu, jet tempur ini juga mampu membawa berbagai jenis persenjataan modern, mulai dari rudal AIM-9 Sidewinder, AIM-120 AMRAAM, hingga bom udara ke darat. Untuk pertempuran jarak dekat, F-15E juga dilengkapi meriam internal kaliber 20 mm.

Dengan kombinasi kecepatan, daya jelajah, serta kemampuan membawa persenjataan berat, F-15E selama ini menjadi andalan dalam berbagai operasi militer berisiko tinggi. Namun insiden jatuhnya pesawat ini di Iran menunjukkan bahwa bahkan teknologi tempur canggih pun tetap menghadapi risiko besar di medan konflik modern.

Berita Terkait