BEIJING, Perspektif.co.id – Pemerintah China menuding Amerika Serikat (AS) telah menyebarkan kepanikan secara sengaja terkait kebijakan pengendalian ekspor rare earth (logam tanah jarang) yang baru diumumkan oleh Beijing. Meski demikian, China mengisyaratkan keterbukaan untuk berdialog guna meredakan ketegangan yang berpotensi memicu kembali perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia itu.
“Interpretasi AS sangat menyimpang dan melebih-lebihkan langkah-langkah China, serta sengaja menciptakan kesalahpahaman dan kepanikan yang tidak perlu,” kata juru bicara Kementerian Perdagangan China, He Yongqian, dalam konferensi pers yang dikutip oleh Global Times, Kamis (17/10).
Pernyataan ini disampaikan tak lama setelah Beijing mengumumkan kontrol ekspor baru atas komoditas rare earth—langkah yang dipandang sebagai bagian dari strategi nasional menjelang pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung di Korea Selatan akhir bulan ini.
Tarif 100% dan Ancaman Perang Dagang Baru
Presiden Trump sebelumnya telah mengancam akan menerapkan tarif sebesar 100% terhadap produk-produk China mulai 1 November atau bahkan lebih cepat, jika Beijing tidak mengubah kebijakan ekspornya. Pemerintah AS menyebut langkah China sebagai upaya untuk mengendalikan rantai pasok teknologi global.
“Semua akan bergantung pada bagaimana respons China terhadap situasi ini,” ujar Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer.
Meski demikian, Greer menegaskan bahwa Trump masih ingin bekerja sama dengan China dan pertemuan bilateral antara kedua pemimpin tetap dijadwalkan berlangsung.
China Soroti Standar Ganda AS
China berdalih bahwa kebijakan kontrol ekspor rare earth dilakukan untuk melindungi keamanan nasional, khususnya mencegah penyalahgunaan bahan baku tersebut dalam aplikasi militer seperti senjata pemusnah massal.
He Yongqian juga menyoroti langkah AS yang selama ini membatasi ekspor semikonduktor ke China serta menerapkan aturan kandungan lokal yang secara tidak langsung mendorong Beijing keluar dari rantai pasok Amerika Utara.
“Tudingan dari pihak AS justru mencerminkan perilaku mereka sendiri yang diproyeksikan kepada pihak lain,” tegas He.
Rare Earth dan Ketergantungan AS
Rare earth digunakan untuk memproduksi magnet berkekuatan tinggi yang menjadi komponen vital dalam sistem senjata AS seperti jet tempur F-35, rudal Tomahawk, hingga drone Predator. Selain aplikasi militer, logam tanah jarang ini juga krusial dalam industri sipil seperti robotika, kendaraan listrik, dan semikonduktor.
China saat ini menguasai mayoritas rantai pasok global rare earth, membuat AS sangat bergantung pada impor dari negara tersebut.
Strategi Industri Pemerintahan Trump
Sebagai respons, pemerintahan Trump tengah memperkuat kemandirian rantai pasok rare earth domestik. Departemen Pertahanan AS telah menjalin kerja sama strategis dengan MP Materials, produsen rare earth terbesar di AS. Kerja sama itu mencakup penyertaan saham, kesepakatan harga dasar, serta kontrak pembelian jangka panjang (offtake agreement).
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, bahkan membuka peluang pemerintah akan mengambil saham di perusahaan strategis lainnya untuk mengurangi ketergantungan pada China.
“Saya tidak akan terkejut jika ada penyertaan saham tambahan setelah pengumuman China minggu ini,” kata Bessent, Rabu (16/10).
Tuduhan Manipulasi Pasar
Bessent menuduh China telah menggunakan dominasinya dalam industri pengolahan rare earth untuk menurunkan harga pasar dan mengusir kompetitor global. Untuk itu, AS akan menerapkan harga dasar (price floor) di sejumlah sektor industri sebagai bentuk perlawanan terhadap praktik manipulasi pasar oleh Beijing.
“Ketika Anda berhadapan dengan ekonomi non-pasar seperti China, Anda memang harus menjalankan kebijakan industri yang proaktif,” jelas Bessent dalam Forum Invest in America di Washington, D.C.