16 September 2026, 21:22

879 Anak di Tangsel Terindikasi Stunting, Pemkot Ungkap Cara Penanganannya

Sebanyak 879 anak di Tangsel terindikasi stunting hingga Agustus 2026. Pemkot Tangsel menyiapkan intervensi berbasis data dan kondisi setiap keluarga.

Reporter: Deden M Rojani
Editor: Zainur Akbar
11
879 Anak di Tangsel Terindikasi Stunting, Pemkot Ungkap Cara Penanganannya
Wakil Walikota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan bersama Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat di Dinas Kesehatan Lilis Suryani saat publikasi Stunting Tingkat Kota Tangerang Selatan di Blandongan, Pusat Pemerintahan Kota (Puspemkot) Tangsel, Rabu (16/9).

TANGERANG SELATAN, Perspektif.co.id – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menyiapkan penanganan stunting berbasis kondisi masing-masing keluarga setelah mencatat 879 anak terindikasi stunting hingga Agustus 2026. Pemerintah daerah menggunakan data hingga tingkat individu dan alamat untuk menentukan intervensi yang dinilai sesuai dengan faktor penyebab di setiap keluarga.

Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan mengatakan, data yang lebih terperinci diperlukan agar penanganan stunting tidak dilakukan dengan pendekatan yang seragam. Informasi mengenai kondisi setiap anak dan keluarganya akan diteruskan kepada wilayah, khususnya kecamatan, untuk menentukan tindak lanjut.

Hal tersebut disampaikan Pilar dalam kegiatan Publikasi Stunting Tingkat Kota Tangerang Selatan Tahun 2026 di Blandongan, Pusat Pemerintahan Kota (Puspemkot) Tangsel, Rabu (16/9/2026).

"Jadi kami mendapatkan informasi secara akurat jumlah by name, by address masyarakat atau anak-anak yang dalam kondisi stunting. Dan kita sebarkan data itu ke kewilayahan, khususnya ke kecamatan untuk diberikan langkah-langkah strategis, tindak lanjut supaya permasalahan stunting itu bisa teratasi," ujar Pilar.

Menurut Pilar, kondisi setiap keluarga dapat memiliki faktor yang berbeda sehingga membutuhkan bentuk intervensi yang berbeda pula. Faktor kesehatan, kecukupan gizi, kondisi lingkungan, keadaan sosial, hingga kemampuan ekonomi menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan dalam penanganan stunting.

Ia mencontohkan faktor lingkungan yang dapat berpengaruh terhadap kondisi keluarga. Apabila persoalan sanitasi menjadi salah satu faktor, pemerintah dapat melakukan intervensi melalui program pembangunan septic tank.

Sementara itu, kondisi rumah juga menjadi bagian yang diperhatikan. Rumah dengan pencahayaan yang minim, sirkulasi udara kurang memadai, maupun tingkat kelembapan tinggi dapat ditindaklanjuti melalui program perbaikan atau bedah rumah.

Pendekatan berbeda diterapkan ketika faktor kesehatan dan gizi menjadi persoalan utama. Dalam kondisi tersebut, Dinas Kesehatan bersama Pos Gizi akan berperan dalam memberikan pendampingan kepada keluarga yang membutuhkan.

"Kalau di situ ternyata orang tuanya mengalami anemia, misalkan kekurangan sel darah merah dan kekurangan energi kronis, berarti penanganannya dari Dinas Kesehatan, Pos Gizi sebagai garda terdepan," jelasnya.

Pilar mengatakan faktor sosial dan ekonomi juga tidak dapat dipisahkan dari persoalan stunting. Untuk kondisi tersebut, koordinasi dilakukan bersama perangkat daerah dan unsur kewilayahan agar keluarga memperoleh dukungan sesuai kebutuhannya.

Bentuk intervensi dapat berupa bantuan pangan maupun dukungan sosial. Pemerintah juga dapat mengarahkan keluarga ke program penempatan kerja apabila persoalan ekonomi menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan gizi.

Menurut Pilar, pola penanganan tersebut menunjukkan bahwa persoalan stunting membutuhkan keterlibatan berbagai perangkat daerah. Penanganannya tidak dapat hanya dibebankan kepada sektor kesehatan karena faktor yang memengaruhinya mencakup berbagai aspek kehidupan keluarga.

"Jadi ini penting sekali, semua dinas untuk bersama-sama bisa bekerja menangani stunting. Ini bukan hanya tugas Dinas Kesehatan, karena faktor stunting itu sangat luas dan kompleks," tuturnya.

Berdasarkan hasil pengukuran hingga Agustus 2026, sebanyak 117.960 balita telah dilakukan pengukuran. Dari jumlah tersebut, tercatat 879 anak terindikasi stunting.

Data tersebut menjadi salah satu dasar bagi Pemkot Tangsel dalam menentukan langkah penanganan secara lebih terarah. Pemerintah dapat memetakan kondisi anak dan keluarga hingga tingkat kewilayahan sehingga intervensi dapat disesuaikan dengan persoalan yang ditemukan.

Selain intervensi dari sisi lingkungan, kesehatan, dan ekonomi, Pilar menekankan pentingnya memperhatikan pola hidup serta pola asuh keluarga. Menurutnya, upaya pencegahan dan penanganan stunting perlu dilakukan sejak masa kehamilan dan terus berlanjut pada periode 1.000 hari pertama kehidupan.

Pemerintah juga mendorong penguatan edukasi kepada keluarga mengenai kesehatan dan pemenuhan kebutuhan gizi. Langkah tersebut dipandang penting karena kondisi anak tidak hanya berkaitan dengan intervensi setelah persoalan ditemukan, tetapi juga dengan upaya pencegahan sejak awal kehidupan.

"Untuk menjadikan sumber daya manusia yang unggul, penanganannya dilakukan sejak di dalam kandungan dan seribu pertama kehidupan," tegas Pilar.

Dengan pendekatan berbasis data tersebut, Pemkot Tangsel menempatkan penanganan stunting sebagai pekerjaan lintas sektor. Data mengenai anak yang terindikasi stunting digunakan untuk menentukan kebutuhan intervensi, sementara perangkat daerah dan unsur kewilayahan diarahkan untuk menjalankan langkah sesuai faktor yang ditemukan pada masing-masing keluarga.
 

Berita Terkait