02 January 2026, 05:34

Bukan Pelit, Ini 6 Kebiasaan Belanja yang Dihindari Orang Kaya di 2026

Bukan soal gaji besar, kekayaan dibangun dari kebiasaan. Riset Tom Corley mengungkap enam kebiasaan belanja yang justru dihindari orang kaya.

Reporter: Irfan Farhani
Editor: Redaksi Perspektif
1,845
Bukan Pelit, Ini 6 Kebiasaan Belanja yang Dihindari Orang Kaya di 2026
Ilustrasi

Perspektif.co.id - Hidup berkecukupan dengan rasa aman dan nyaman menjadi impian banyak orang. Namun pada praktiknya, tidak semua orang mampu membangun kekayaan secara berkelanjutan. Selain soal penghasilan, cara mengelola dan membelanjakan uang sehari-hari kerap menjadi faktor penentu.

Sejumlah studi menunjukkan bahwa membangun kekayaan bukan semata soal berapa besar pendapatan, melainkan juga soal pola pikir dan kebiasaan finansial. Salah satunya diungkap oleh Tom Corley, akuntan sekaligus penulis buku yang selama lima tahun meneliti kebiasaan para jutawan.

Dalam risetnya, Corley mewawancarai 233 jutawan dengan latar belakang berbeda. Seluruh responden tercatat memiliki pendapatan kotor tahunan minimal US$160.000 atau sekitar Rp2,6 miliar. Menariknya, Corley menemukan bahwa kekayaan mereka bukan terutama dibentuk oleh apa yang dibeli, melainkan oleh apa yang sengaja mereka hindari.

“Saya tertarik dengan bagaimana mereka membelanjakan uang. Namun hampir semuanya mengatakan bahwa kekayaan mereka terbentuk karena berhenti menghabiskan uang untuk hal-hal tertentu,” ujar Corley, dikutip dari CNBC.

Berikut enam kebiasaan belanja yang cenderung dihindari oleh orang-orang kaya saat membangun kekayaan:

1. Makanan olahan dan kemasan

Banyak orang berduit memilih mengurangi konsumsi makanan olahan berkualitas rendah. Mereka lebih memprioritaskan makanan segar dan sehat, bahkan rela membayar lebih mahal demi kualitas. Corley mencatat, para jutawan kerap berbelanja di pasar petani atau toko bahan pangan yang dikenal menjual produk segar dan daging berkualitas.

2. Barang murah yang cepat rusak

Alih-alih mengikuti tren fesyen atau membeli furnitur murah, orang kaya cenderung memilih barang yang dibuat dengan kualitas tinggi dan tahan lama. Meski harganya bisa dua hingga tiga kali lebih mahal, mereka menilai pembelian tersebut lebih hemat dalam jangka panjang dibanding harus sering mengganti barang yang cepat rusak.

3. Perbaikan besar yang berulang

Dalam banyak kasus, orang kaya lebih memilih mengganti peralatan rumah tangga atau kendaraan lama daripada terus-menerus melakukan perbaikan besar. Atap, mesin cuci, lemari es, hingga kendaraan dinilai lebih efisien diganti baru karena menawarkan ketenangan pikiran dan usia pakai yang lebih panjang.

4. Peralatan kebun dan pekerjaan pemeliharaan sendiri

Saat kondisi finansial sudah mapan, banyak orang kaya memilih menyewa jasa profesional untuk merawat taman dan properti. Mereka tidak lagi mengeluarkan uang untuk membeli atau memperbaiki peralatan kebun. Yang dibeli bukan sekadar jasa, melainkan waktu - waktu yang bisa digunakan untuk beristirahat, keluarga, atau aktivitas produktif lain.

5. Tiket lotre dan perjudian

Mayoritas jutawan menghindari perjudian, termasuk membeli tiket lotre. Mereka memandang peluang menang yang sangat kecil sebagai bentuk pemborosan uang. Dana yang ada dinilai lebih rasional dialokasikan ke instrumen atau kebutuhan yang memberikan nilai tambah nyata.

6. Belanja impulsif

Kemampuan menahan diri dari belanja impulsif menjadi salah satu ciri utama orang kaya. Mereka bukan anti-barang mewah, namun cenderung mempertimbangkan setiap pembelian secara matang. Investor legendaris Warren Buffett bahkan pernah mengingatkan bahwa barang yang dibeli secara impulsif sering kali cepat kehilangan nilai dan kegunaannya.

Secara keseluruhan, riset Corley menunjukkan bahwa kekayaan dibangun melalui disiplin jangka panjang. 

Bukan dengan menekan pengeluaran secara ekstrem, melainkan dengan memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan memiliki tujuan dan manfaat yang jelas. Pola pikir inilah yang membedakan cara orang kaya mengelola uang dibandingkan kebanyakan orang.***

Berita Terkait