EDUKASI, Perspektif.co.id — Pemanasan global kini menggerogoti oksigen di sungai-sungai secara perlahan, mengancam kelangsungan hidup ikan dan ekosistem perairan tawar di seluruh penjuru bumi, menurut riset terbaru yang dipublikasikan Jumat di jurnal Science Advances.
Para peneliti dari China memanfaatkan citra satelit dan kecerdasan buatan untuk memantau serta menganalisis kadar oksigen di lebih dari 21.000 sungai di seluruh dunia sejak tahun 1985. Hasilnya mengkhawatirkan: rata-rata oksigen terlarut di sungai-sungai global telah menyusut 2,1% dalam empat dekade terakhir.
Angka itu memang terlihat kecil, namun dampaknya bisa bersifat fatal dalam jangka panjang. Jika tren ini terus berlanjut atau bahkan berakselerasi, sungai-sungai di kawasan timur Amerika Serikat, India, dan wilayah tropis berpotensi kehilangan oksigen dalam jumlah cukup besar untuk membunuh ikan dan menciptakan zona mati pada akhir abad ini.
“Deoksigenasi adalah proses yang sangat lambat. Namun jika berlangsung lama, dampak negatifnya akan menyerang ekosistem sungai,” kata Guan, salah satu peneliti utama studi ini. “Kadar oksigen rendah dapat memicu serangkaian krisis ekologis seperti penurunan keanekaragaman hayati, degradasi kualitas air, dan kematian ikan.”
Karl Flessa, ahli geosains dari University of Arizona yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menyebut hilangnya oksigen di sungai sebagai pertanda buruk. “Masa depan yang lebih banyak zona mati berbau busuk (hipoksia), terutama saat gelombang panas,” tulisnya melalui email kepada AP.
“Jika tempat memancing favorit Anda terlalu panas, kadar oksigen akan turun dan tidak akan ada ikan lagi untuk ditangkap,” tambah Flessa.
Kondisi paling parah tercatat di Sungai Gangga, India—salah satu sungai paling tercemar di dunia. Di awal abad ini, Gangga dilaporkan kehilangan oksigen lebih dari 20 kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.