JAKARTA, Perspektif.co.id - Warga Ibu Kota dibuat gerah oleh cuaca yang terasa jauh lebih terik dalam dua hari terakhir. Setelah sebelumnya diguyur hujan sangat lebat pada akhir pekan lalu, langit Jakarta justru cenderung cerah pada siang hari dan memunculkan rasa panas yang lebih menyengat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut perubahan ini dipicu pergeseran dinamika atmosfer yang membuat pembentukan awan hujan di wilayah Jakarta berkurang, sehingga radiasi Matahari terasa lebih dominan pada siang hari.
Dalam penjelasan BMKG yang Anda sertakan, peningkatan panas ini terlihat dari kecenderungan naiknya suhu maksimum hasil pengamatan di beberapa titik Jakarta, termasuk Kemayoran, Tanjung Priok, dan Halim Perdana Kusuma. BMKG menjelaskan, salah satu pemicu utamanya adalah aktivitas Madden-Julian Oscillation atau MJO yang sebelumnya berada di sekitar Indonesia kini bergerak ke arah timur. Pergeseran itu membuat dukungan pembentukan awan hujan menurun. Di saat yang sama, Monsun Asia juga disebut melemah, sehingga suplai massa udara lembap tidak sekuat sebelumnya. Kondisi itu membuat panas siang hari terasa lebih dominan. Pola serupa juga pernah dijelaskan BMKG dalam fase peralihan musim, ketika udara terasa panas lebih dulu sebelum hujan muncul pada sore atau malam hari.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani, sebagaimana termuat dalam materi yang Anda kirim, menegaskan bahwa efek dari berkurangnya awan hujan membuat paparan sinar Matahari menjadi lebih kuat di siang hari. “Akibatnya, pada siang hari radiasi Matahari lebih dominan sehingga suhu terasa lebih panas,” kata Andri. Penjelasan ini sejalan dengan prakiraan resmi BMKG yang menunjukkan cuaca Jakarta pada Kamis, 12 Maret 2026, didominasi cerah hingga berawan dengan suhu maksimum di sejumlah wilayah mencapai sekitar 30-31 derajat Celsius, sementara data prakiraan tujuh hari ke depan juga memperlihatkan suhu siang di Jakarta berpotensi bertahan di kisaran 31-34 derajat Celsius.
Meski cuaca terasa seperti “dibakar” pada siang hari, BMKG menekankan Jakarta belum sepenuhnya lepas dari potensi hujan. Kelembapan udara di wilayah ini masih relatif tinggi, sehingga pembentukan awan tetap mungkin terjadi, hanya saja tidak merata. Dalam keterangan yang Anda lampirkan, hujan masih tercatat pada siang hingga sore dalam dua hari terakhir, termasuk di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. BMKG menilai pola hujan yang muncul pada siang-sore hari di tengah udara panas pada pagi hingga siang merupakan salah satu tanda awal periode peralihan musim atau pancaroba. Penjelasan tentang karakter pancaroba ini juga konsisten dengan uraian BMKG pada sejumlah rilis sebelumnya mengenai cuaca Jabodetabek.
Karena itu, panas terik yang dirasakan warga Jakarta saat ini bukan berarti ancaman hujan sudah hilang. Justru, kombinasi siang yang menyengat dan atmosfer yang tetap lembap bisa membuat cuaca berubah cepat menjelang sore hingga malam. Prakiraan resmi BMKG untuk sepekan ke depan juga masih menunjukkan peluang hujan dan badai petir di Jakarta pada beberapa hari setelah 12 Maret 2026. Dengan kata lain, warga perlu bersiap menghadapi dua kondisi sekaligus: udara panas yang menekan pada siang hari dan potensi hujan lokal yang bisa datang tidak merata pada sore atau malam. (BMKG)1Kondisi Saat ini: Sebagian berawan, 82°F (28°C)
Prakiraan Harian:
- Kamis, Maret 12: Rendah: 73°F (23°C), Tinggi: 90°F (32°C), Deskripsi: Cerah berkabut
- Jumat, Maret 13: Rendah: 72°F (22°C), Tinggi: 93°F (34°C), Deskripsi: Hujan sebentar satu-dua kali
- Sabtu, Maret 14: Rendah: 74°F (23°C), Tinggi: 91°F (33°C), Deskripsi: Badai petir
- Minggu, Maret 15: Rendah: 75°F (24°C), Tinggi: 89°F (32°C), Deskripsi: Badai petir
- Senin, Maret 16: Rendah: 75°F (24°C), Tinggi: 88°F (31°C), Deskripsi: Badai petir
- Selasa, Maret 17: Rendah: 76°F (24°C), Tinggi: 90°F (32°C), Deskripsi: Sesekali hujan dan badai petir
- Rabu, Maret 18: Rendah: 74°F (24°C), Tinggi: 89°F (31°C), Deskripsi: Badai petir di beberapa bagian area ini