05 March 2026, 10:54

Gempa M6,4 Guncang Aceh: BMKG Ungkap Episentrum Dangkal dan Dampak Guncangan Meluas

Gempa M6,4 mengguncang Aceh dengan pusat dangkal 61 km dari Sinabang. BMKG pastikan tanpa potensi tsunami, guncangan terasa luas.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
1,058
Gempa M6,4 Guncang Aceh: BMKG Ungkap Episentrum Dangkal dan Dampak Guncangan Meluas
Ilustrasi peta gempa M6,4 Aceh dari BMKG yang menunjukkan episentrum dangkal 61 km tenggara Sinabang dan sebaran guncangan tanpa potensi tsunami. (Sumber: bmkg.go.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Gempa tektonik bermagnitudo 6,4 mengguncang kawasan Aceh pada Selasa, 3 Maret 2026, pukul 11.56 WIB. Data resmi BMKG mencatat pusat gempa berada 61 km tenggara Sinabang, Aceh, dengan kedalaman hanya 13 km—parameter yang biasanya memicu guncangan kuat di permukaan. Episentrum tercatat pada koordinat 1,93° LU dan 96,48° BT, berada di zona aktif yang kerap mengalami aktivitas seismik signifikan.

“Gempa ini tidak berpotensi tsunami,” tulis BMKG dalam rilis resminya.

Guncangan yang dipicu sumber gempa dangkal tersebut terekam dalam peta ShakeMap BMKG, menunjukkan intensitas mulai dari ringan hingga kuat di sejumlah wilayah sekitar Simeulue dan pesisir barat Aceh. Warna intensitas pada peta memperlihatkan distribusi energi yang menyebar cepat, menandakan karakter gempa yang impulsif dan berenergi tinggi. Meski tidak memicu peringatan tsunami, gempa dengan magnitudo di atas 6,0 tetap berpotensi menimbulkan kerusakan pada bangunan yang tidak tahan guncangan.

“Parameter gempa menunjukkan mekanisme sesar aktif di sekitar zona megathrust,” ujar BMKG dalam keterangan terpisah.

Rilis BMKG yang diterbitkan pada pukul 11.59 WIB menegaskan bahwa pemantauan lanjutan terus dilakukan untuk mengantisipasi gempa susulan. Hingga laporan ini diturunkan, belum ada informasi resmi mengenai dampak kerusakan maupun korban. Namun, karakteristik gempa dangkal di wilayah Aceh—yang berada di pertemuan lempeng tektonik besar—menjadikannya salah satu kawasan dengan risiko seismik tertinggi di Indonesia.

“BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan mengikuti informasi resmi,” tulis lembaga tersebut.

Dengan rekam jejak aktivitas seismik yang intens di sepanjang zona subduksi Sumatra, para ahli menilai setiap gempa besar di wilayah ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan publik dan penguatan infrastruktur tahan gempa. Data BMKG kembali menegaskan bahwa wilayah barat Indonesia masih berada dalam siklus aktivitas tektonik yang dinamis dan sulit diprediksi.

Berita Terkait