Perspektif.co.id - Ratusan ribu warga Gaza yang mengungsi di tenda-tenda darurat kini menghadapi ancaman banjir menyusul hujan deras yang menyapu Jalur Gaza pada Kamis (11/12/2025). Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) PBB memperingatkan kondisi di titik-titik pengungsian memburuk karena banyak keluarga tinggal di area rendah yang dipenuhi puing, sementara bahan penting untuk memperkuat tempat berlindung—mulai dari kayu, plywood, karung pasir, hingga pompa air—disebut belum diizinkan masuk akibat pembatasan akses.
Dalam laporan Reuters, hujan yang mengguyur Gaza menyebabkan tenda-tenda pengungsi terendam dan memicu situasi darurat baru di tengah kerusakan infrastruktur yang luas. Otoritas kesehatan setempat melaporkan seorang bayi perempuan meninggal akibat paparan cuaca buruk.
Kantor media pemerintah Gaza yang dikelola Hamas menyebut dampak badai tersebut menimbulkan korban tewas atau hilang. “Sebanyak 12 orang tewas atau hilang,” dengan sedikitnya 13 bangunan runtuh dan sekitar 27.000 tenda terdampak banjir, menurut keterangan yang dikutip Reuters.
IOM menaksir skala risikonya jauh lebih besar. Badan PBB itu menyatakan hampir 795.000 pengungsi berada pada risiko tinggi banjir yang berpotensi membahayakan, terutama mereka yang berada di dataran rendah yang penuh puing dengan tempat penampungan yang tidak aman. IOM juga menyoroti drainase dan pengelolaan sampah yang tidak memadai dapat meningkatkan risiko wabah penyakit.
Gambaran kondisi di lapangan tampak jelas di kamp pengungsian Nuseirat, Gaza bagian tengah. Di sana, genangan air setinggi mata kaki merendam tenda-tenda, membasahi kasur, sepatu, hingga pakaian. Seorang pengungsi bernama Youssef Tawtah (50) bercerita ia mencoba menimba air dengan ember, tetapi air “tidak punya tempat untuk mengalir.” “All night long the children and I were on our feet,” katanya. “How can the children handle it?” Ia menambahkan upaya memasak pun menjadi sulit. “Our food is ruined,” ujarnya.
Dalam pernyataan terpisah yang juga dilansir Reuters, IOM menyebut bantuan yang sudah masuk—seperti tenda tahan air, selimut termal, dan terpal—ternyata belum mampu menahan terjangan banjir. Direktur Jenderal IOM Amy Pope menyatakan keluarga-keluarga berusaha melindungi anak-anak mereka “dengan apa pun yang mereka miliki” setelah badai mendarat.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti risiko kesehatan di wilayah pesisir. WHO menyebut lebih dari 4.000 orang tinggal di area pesisir yang dikategorikan berisiko tinggi, dengan 1.000 orang terdampak langsung gelombang laut. Perwakilan WHO Rik Peeperkorn memperingatkan ancaman kesehatan dari polusi dan lingkungan yang tidak higienis. “Thousands of families are sheltering in these low-lying and debris-filled coastal areas with no drainage or protective barriers, with heaps of garbage everywhere along the roads,” kata Peeperkorn.
Di tengah kondisi itu, IOM menyatakan material untuk memperkuat penampungan—kayu, plywood, karung pasir, hingga pompa air—masih tertahan karena pembatasan akses. Israel menyatakan sudah memenuhi kewajiban kemanusiaannya dan menuding badan-badan bantuan tidak efisien serta gagal mencegah pencurian oleh Hamas; tuduhan tersebut dibantah Hamas.
COGAT, badan di bawah militer Israel yang mengawasi urusan kemanusiaan, mengatakan Israel telah menyetujui 100.000 permintaan palet barang terkait musim dingin, peralatan penampungan, dan perlengkapan sanitasi selama tiga bulan terakhir. COGAT juga menyebut telah memfasilitasi transfer “mendekati 270.000 tenda dan terpal” kepada penduduk Jalur Gaza dalam beberapa bulan terakhir.
Reuters mencatat, meski gencatan senjata secara umum bertahan sejak Oktober, perang selama dua tahun telah menghancurkan sebagian besar infrastruktur Gaza sehingga kondisi hidup menjadi kian rapuh saat memasuki musim hujan. PBB dan pejabat Palestina menyatakan sedikitnya 300.000 tenda baru sangat dibutuhkan untuk sekitar 1,5 juta orang yang masih mengungsi.
Hujan deras yang memicu banjir ini juga memperlihatkan titik lemah krisis kemanusiaan di Gaza: bukan hanya soal suplai bantuan, tetapi juga soal kemampuan logistik dan infrastruktur dasar untuk menahan bencana berulang—mulai dari drainase, pengelolaan sampah, hingga perlindungan terhadap cuaca ekstrem. Tanpa pasokan material penguatan tempat tinggal dan akses bantuan yang lancar, tenda-tenda darurat yang sudah rapuh berisiko kembali tenggelam ketika curah hujan meningkat.