02 December 2025, 07:59

Banjir Melanda Sumatera dan Aceh, IDAI Beberkan Kondisi Terkini dan Kebutuhan Mendesak Ratusan Korban

Ratusan anak diperiksa, logistik minim, akses terputus, dan kebutuhan obat meningkat. Artikel ini merangkum kondisi terkini, layanan darurat, hingga kebutuhan.

Reporter: Irfan Farhani
Editor: Redaksi Perspektif
2,785
Banjir Melanda Sumatera dan Aceh, IDAI Beberkan Kondisi Terkini dan Kebutuhan Mendesak Ratusan Korban
Seminar Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Perspektif.co.id - Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak akhir November menciptakan situasi darurat yang memukul kehidupan ribuan warga. 

Di tengah keterbatasan akses, padamnya listrik, hingga komunikasi terputus, tim dokter anak di berbagai wilayah bergerak cepat memberikan layanan kesehatan dan bantuan bagi kelompok paling rentan, terutama anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, dan ibu hamil.

Situasi di lapangan menunjukkan skala bencana yang sangat serius. Di Sumatera Barat, korban meninggal mencapai 148 orang, termasuk empat anak, sementara lebih dari 100 warga dilaporkan hilang. 

Kondisi tak jauh berbeda di Sumatera Utara, di mana kabupaten seperti Sibolga, Tapanuli, Langkat, hingga Binjai terdampak parah dan menghadapi kekurangan logistik. Di Aceh, gangguan layanan kesehatan terjadi di sejumlah titik akibat tenaga medis tidak bisa menjangkau fasilitas pelayanan.

Tim dokter anak dari tiga wilayah langsung turun ke lokasi. Di Sumatera Utara, pemeriksaan kesehatan dilakukan di Binjai dan Langkat, dengan total ratusan anak diperiksa. Kasus yang paling dominan adalah ISPA, diare, dan infeksi kulit. Di Sumatera Barat, layanan dilakukan di Kota Padang serta Pariaman, termasuk skrining tumbuh kembang yang menemukan kasus speech delay. 

Sementara itu di Aceh, tim medis diperbantukan memperkuat layanan fasilitas setempat serta memberikan pengobatan di pos pengungsian.

Selain layanan kesehatan, bantuan non-medis ikut digencarkan. Distribusi air bersih, makanan siap santap, pakaian layak pakai, selimut, serta perlengkapan kebersihan diberikan ke berbagai titik. Kegiatan trauma healing juga dilakukan bagi anak-anak yang mengalami tekanan psikologis akibat bencana, terutama di wilayah Padang dan sekitarnya.

Namun upaya ini menghadapi berbagai kendala. Kekurangan obat untuk anak, terbatasnya logistik, sulitnya akses transportasi, hingga kebutuhan tambahan tenaga kesehatan menjadi tantangan utama. Tim relawan masih harus berjalan kaki atau menggunakan sepeda motor untuk menjangkau wilayah yang benar-benar terisolasi. Risiko penyebaran penyakit menular seperti diare dan ISPA juga terbuka akibat kondisi pengungsian yang padat.

Di tengah keterbatasan tersebut, koordinasi terus diperkuat untuk memastikan respons jangka menengah tetap berjalan. Tim medis dari berbagai daerah bersiap memperluas jangkauan bantuan ke lokasi-lokasi yang belum tersentuh. Fokus pada kesehatan anak, ketersediaan air bersih, pemantauan penyakit berbasis imunisasi, dan dukungan psikologis tetap menjadi prioritas utama.

Masyarakat juga diajak turut membantu dengan memberikan donasi obat-obatan anak, makanan bayi, air bersih, pakaian, hingga selimut. Tenaga kesehatan yang bersedia terjun sebagai relawan masih sangat dibutuhkan di banyak titik.

Bencana yang melanda Aceh dan Sumatera kali ini kembali mengingatkan akan pentingnya respons cepat dan kolaboratif. Setiap bantuan yang diberikan sangat berarti bagi keselamatan ribuan anak yang kini hidup dalam kondisi darurat dan penuh keterbatasan.***

Berita Terkait