09 February 2026, 15:19

Awal Puasa Berpotensi Beda Lagi, Ini Prakiraan 1 Ramadan 2026 Versi Pemerintah, Muhammadiyah, NU, dan BRIN

Penentuan awal puasa Ramadan 1447 Hijriah kembali menjadi perhatian publik seiring munculnya sejumlah prakiraan berbeda dari pemerintah, organisasi keagamaan

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
1,673
Awal Puasa Berpotensi Beda Lagi, Ini Prakiraan 1 Ramadan 2026 Versi Pemerintah, Muhammadiyah, NU, dan BRIN
Ilustrasi rukyat hilal (Foto: Getty Images)

NASIONAL, Perspektif.co.id - Penentuan awal puasa Ramadan 1447 Hijriah kembali menjadi perhatian publik seiring munculnya sejumlah prakiraan berbeda dari pemerintah, organisasi keagamaan, hingga lembaga riset. Perbedaan pendekatan dalam menetapkan awal bulan Hijriah membuat tanggal dimulainya ibadah puasa kerap dinantikan sekaligus diperdebatkan setiap tahunnya.

Pemerintah melalui Kementerian Agama akan menetapkan awal Ramadan 1447 H melalui mekanisme sidang isbat. Berdasarkan agenda resmi Kemenag, sidang isbat dijadwalkan digelar pada Selasa, 17 Februari 2026, bertepatan dengan kegiatan pemantauan hilal di berbagai titik pengamatan di seluruh Indonesia. 

Sidang tersebut diawali dengan pemaparan posisi hilal berdasarkan perhitungan astronomi atau hisab, lalu dilanjutkan dengan laporan hasil rukyatul hilal dari daerah. Hasil pembahasan menjadi dasar penetapan resmi awal Ramadan yang akan diumumkan kepada masyarakat.

Sementara itu, Nahdlatul Ulama (NU) juga akan menentukan awal Ramadan dengan metode rukyatul hilal yang diperkuat oleh data hisab. Mengacu pada informasi yang disampaikan melalui kanal resmi NU Online, posisi hilal pada akhir bulan Syaban 1447 H menjadi faktor krusial. NU akan menggelar rukyatul hilal di sejumlah lokasi yang telah ditetapkan. 

Apabila hilal teramati dan memenuhi kriteria imkanur rukyah, maka 1 Ramadan ditetapkan pada keesokan harinya. Keputusan akhir akan diumumkan setelah seluruh laporan rukyat dihimpun dan dikaji oleh Lembaga Falakiyah NU.

Berbeda dengan pemerintah dan NU, Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan awal Ramadan 1447 H. Berdasarkan Maklumat Nomor 2/MLM/1.0/E/2025 yang dikeluarkan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, penetapan tersebut menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal. 

Dalam maklumat itu, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Dengan ketetapan tersebut, Muhammadiyah juga menetapkan Hari Raya Idul Fitri atau 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Dari sisi ilmiah, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) turut menyampaikan analisis terkait potensi awal Ramadan 2026. Peneliti BRIN memprediksi 1 Ramadan 1447 H berpotensi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, terutama bagi pihak yang menjadikan rukyat sebagai dasar utama penetapan. 

Koordinator Kelompok Riset Astronomi dan Observatorium Pusat Riset Antariksa BRIN, Prof Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa posisi hilal pada waktu tertentu belum memungkinkan untuk diamati. 

“Pada saat Magrib 17 Februari, posisi hilal atau bulan masih berada di bawah ufuk, sehingga tidak mungkin dirukyat. Karena itu, awal Ramadan jatuh pada hari berikutnya, yakni 19 Februari 2026,” ujarnya.

Perbedaan prakiraan awal Ramadan ini dinilai sebagai dinamika yang lazim dalam penetapan kalender Hijriah di Indonesia, mengingat beragamnya metode yang digunakan. Masyarakat pun diimbau untuk menunggu pengumuman resmi dari masing-masing lembaga serta tetap saling menghormati perbedaan dalam pelaksanaan ibadah puasa Ramadan 2026.

Berita Terkait