07 March 2026, 23:38

Anthropic Luncurkan Marketplace AI di Tengah Tekanan Pentagon, Industri Terbelah

Anthropic merilis marketplace AI baru di tengah tekanan Pentagon, memicu ketegangan industri dan memperluas ekosistem aplikasi Claude.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
351
Anthropic Luncurkan Marketplace AI di Tengah Tekanan Pentagon, Industri Terbelah
Logo Anthropic sebagai ilustrasi peluncuran Anthropic Marketplace di tengah tekanan Pentagon terkait risiko rantai pasok dan penggunaan AI enterprise. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Anthropic resmi meluncurkan Anthropic Marketplace pada Jumat waktu AS, sebuah platform baru yang memungkinkan pelanggan korporat membeli dan mengintegrasikan aplikasi AI berbasis Claude dari mitra seperti Snowflake, Harvey, dan Replit. Peluncuran ini dilakukan tepat ketika perusahaan itu dinyatakan sebagai “supply chain risk” oleh Pentagon, memicu ketegangan politik dan industri yang semakin memanas.

Model bisnis marketplace tersebut memungkinkan perusahaan yang sudah memiliki komitmen belanja tahunan terhadap layanan Anthropic untuk mengalihkan sebagian anggaran mereka guna membeli aplikasi pihak ketiga—tanpa potongan komisi apa pun dari Anthropic. “Kami tidak mengambil persentase dari transaksi,” demikian pernyataan perusahaan dalam rilisnya, menegaskan strategi agresif untuk memperkuat ketergantungan enterprise pada ekosistem Claude.

Marketplace ini dirancang menyerupai ekosistem Amazon Web Services dan Microsoft Azure, tetapi dengan perbedaan besar: Anthropic memilih tidak menarik fee 3–15% seperti yang lazim di marketplace cloud raksasa tersebut. Langkah ini dinilai sebagai upaya mempercepat adopsi aplikasi AI enterprise sekaligus mengunci pelanggan dalam satu jalur pengadaan yang lebih sederhana.

“Pendekatan ini memungkinkan perusahaan mengintegrasikan alat seperti Snowflake atau Harvey langsung ke workflow mereka tanpa proses procurement terpisah,” ujar seorang eksekutif yang mengetahui strategi tersebut. Pernyataan itu menegaskan bahwa setiap penggunaan aplikasi mitra tetap memperkuat ketergantungan pada Claude sebagai lapisan kecerdasan utama.

Namun peluncuran ini terjadi hanya 24 jam setelah Pentagon secara resmi menandai Anthropic sebagai risiko rantai pasok, sebuah label yang sebelumnya hanya diberikan kepada entitas asing seperti Huawei. Penetapan itu muncul setelah perselisihan panjang mengenai batasan penggunaan AI dalam operasi militer, terutama terkait senjata otonom dan pengawasan massal.

“Kami tidak dapat, dengan nurani yang bersih, menyetujui permintaan yang memungkinkan teknologi kami digunakan tanpa batasan,” kata CEO Anthropic, Dario Amodei, dalam pernyataan terpisah yang dirilis sehari sebelum tenggat Pentagon.

Sementara itu, pejabat Pentagon menegaskan bahwa mereka tidak akan membiarkan perusahaan mana pun menentukan bagaimana militer mengambil keputusan operasional. “Kami tidak akan membiarkan perusahaan mana pun mengatur syarat penggunaan teknologi dalam operasi kami,” ujar juru bicara Pentagon dalam unggahan publik.

Perselisihan tersebut memuncak setelah pertemuan tatap muka antara Amodei dan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada 24 Februari, ketika Amodei memperingatkan risiko AI dalam senjata otonom. Pertemuan itu berakhir tegang setelah Hegseth menghentikan diskusi secara tiba‑tiba, memicu rangkaian keputusan yang kini mengguncang hubungan pemerintah dan industri AI.

Di tengah tekanan politik, marketplace baru Anthropic justru memperlihatkan ambisi perusahaan untuk memperluas peran Claude sebagai platform AI enterprise yang lebih luas daripada sekadar chatbot. Banyak aplikasi yang hadir di marketplace berfungsi sebagai AI agent yang mampu menjalankan proses multi‑langkah, mulai dari analisis dokumen, otomatisasi layanan pelanggan, hingga asistensi coding tingkat lanjut.

Peluncuran marketplace ini sekaligus menjadi sinyal bahwa Anthropic memilih fokus pada ekspansi komersial meski menghadapi risiko kehilangan kontrak pertahanan AS. Dengan valuasi yang terus meroket dan dukungan talenta dari Silicon Valley, perusahaan ini tampaknya siap menantang tekanan politik demi mempertahankan prinsip etika AI yang mereka klaim sebagai fondasi utama.

Berita Terkait