TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Proyek verifikasi identitas digital besutan Sam Altman, World, mengumumkan pembaruan besar sistem World ID pada Jumat, 17 April 2026, di sebuah acara bertajuk “Lift Off” di San Francisco, memposisikan teknologi pemindai iris mata mereka sebagai infrastruktur “full-stack proof of human” yang dirancang untuk mengautentikasi manusia nyata di seluruh aplikasi konsumen, platform enterprise, hingga ekosistem agen AI—tanpa perlu mengekspos data pribadi pengguna.
Integrasi baru ini mencakup Zoom untuk memblokir peniruan berbasis deepfake dalam rapat video, DocuSign yang menguji World ID guna memastikan setiap tanda tangan digital berasal dari manusia asli bukan bot, serta Tinder yang memperluas uji cobanya dari Jepang ke Amerika Serikat agar pengguna bisa memverifikasi bahwa profil yang mereka temui benar-benar dioperasikan manusia. Okta dan Vercel turut digandeng untuk membangun lapisan verifikasi yang memastikan agen AI bertindak atas persetujuan manusia yang sah.
“World ID sedang dalam perjalanan menjadi jaringan manusia nyata untuk internet,” kata Sam Altman, co-founder World, dalam pidatonya di acara tersebut.
World Product Manager Tawanda Mahere menjelaskan bahwa alat deteksi deepfake yang beredar di pasaran saat ini umumnya hanya mengandalkan analisis piksel, sementara fitur “World ID Deep Face” yang diintegrasikan langsung ke Zoom melangkah jauh lebih jauh dengan menghadirkan hardware-backed root of trust untuk memberikan bukti kehadiran secara real-time.
Urgensi di balik langkah ini terbilang nyata: seorang pekerja di Hong Kong pada 2024 sempat ditipu oleh deepfake video CFO dan sejumlah rekan kerjanya hingga menyerahkan dana senilai 25 juta dolar AS atau sekitar Rp408 miliar, sementara riset Deloitte memproyeksikan kerugian akibat penipuan deepfake di Amerika Serikat saja bisa menembus 40 miliar dolar AS atau sekitar Rp654 triliun pada 2027. Saat ini sekitar 17,9 juta orang telah terdaftar di sistem World ID secara global, tersebar di 160 negara, dengan protokol yang kini dijadikan open-source agar aplikasi manapun dapat mengintegrasikannya sebagai lapisan autentikasi.