TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Komisi Keamanan Nasional China yang dipimpin Presiden Xi Jinping secara resmi melabeli akuisisi startup AI Manus senilai $2 miliar — setara Rp32,6 triliun — oleh Meta sebagai upaya “konspirasi” yang bertujuan menggerogoti fondasi teknologi negara itu, sebagaimana dilaporkan Financial Times. Temuan dari badan superkuat tersebut, yang lazimnya ditinjau langsung oleh pimpinan senior Partai Komunis China, seketika memicu respons terkoordinasi dari berbagai lembaga pemerintah yang kini memeriksa transaksi itu dari sudut kontrol ekspor, regulasi investasi, hingga hukum persaingan usaha.
CEO Manus Xiao Hong dan kepala ilmuwan Ji Yichao dipanggil bulan ini untuk menghadiri pertemuan di Beijing bersama Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC), dan setelah pertemuan itu keduanya dinyatakan tidak boleh meninggalkan China akibat proses peninjauan regulasi yang sedang berjalan, meski masih bebas bepergian di dalam negeri. Manus dilaporkan tengah aktif mencari bantuan hukum untuk menyelesaikan persoalan ini.
Inti persoalan yang paling disorot para pejabat Beijing adalah apakah teknologi China maupun data penggunanya telah, atau berpotensi, bocor dan berpindah tangan ke perusahaan Amerika, sementara penyelidikan kini turut merambah dugaan pelanggaran aturan arus mata uang lintas batas, akuntansi pajak, dan investasi ke luar negeri.
Manus bermula sebagai startup di Beijing bernama Butterfly Effect sebelum merelokasi diri ke Singapura, lalu diakuisisi Meta setelah dalam delapan bulan mencatatkan revenue run rate $125 juta atau sekitar Rp2,04 triliun, dan meraih pendanaan $75 juta yang dipimpin Benchmark Capital.
Meta kemudian angkat bicara merespons tekanan regulasi yang terus menguat dari Beijing. Juru bicara Meta menyatakan kepada Reuters: “Transaksi ini sepenuhnya mematuhi hukum yang berlaku. Kami mengharapkan penyelesaian yang tepat atas penyelidikan ini.”
Di lingkaran teknologi dari Silicon Valley hingga Shenzhen, kesepakatan Meta-Manus sempat dipandang sebagai bukti bahwa strategi “Singapore washing” — merelokasi perusahaan ke Singapura — adalah formula ampuh untuk menghindari pengawasan ketat dari Beijing maupun Washington sekaligus, namun intervensi mendadak China langsung menghancurkan harapan itu.
Seorang investor seed berbasis di Silicon Valley yang dikutip CNBC menyimpulkan dampak psikologis kasus ini dengan lugas: “Jalur yang ditempuh Manus: tidak akan ada lagi orang yang mengambil rute itu.”
Alex Ma, managing partner dari family office Alpha Omega Holdings yang berbasis di Singapura, juga memperingatkan kepada CNBC: “Mereka akan melihat menembus fasad Singapura dan menggali hingga ke akar perusahaan, termasuk kode sumber, data, dan sumber daya manusianya.”
Sejumlah investor China dilaporkan tengah mendiskusikan kemungkinan membatalkan kesepakatan tersebut, sementara Beijing disebut-sebut bertekad mencegah perusahaan-perusahaan lain mengikuti model yang sama dengan Manus. Dengan Komisi Keamanan Nasional secara langsung terlibat, nasib transaksi senilai Rp32,6 triliun itu kini menjadi ujian paling nyata dari perang teknologi yang semakin panas antara Amerika Serikat dan China di era AI agentik.