TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Bank-bank investasi terbesar di Wall Street tengah menjajaki minat investor publik terhadap rencana penawaran saham perdana (IPO) OpenAI —dan hasilnya jauh dari menggembirakan. The Information mewawancarai 11 investor publik, dan mayoritas dari mereka mengaku skeptis terhadap prospek saham perusahaan pencipta ChatGPT itu di pasar terbuka, meski sebagian besar tetap mengakui posisi kompetitif OpenAI yang kuat dalam lanskap AI global.
Kekhawatiran utama berpusat pada valuasi perusahaan yang diperkirakan mencapai US$850 miliar—atau sekitar Rp 13.855 triliun—angka yang setara dengan 28 kali lipat proyeksi pendapatan OpenAI untuk tahun 2026. Rasio price-to-sales sebesar itu jauh melampaui Nvidia, perusahaan yang selama ini dijadikan tolok ukur investasi AI, yang saat ini diperdagangkan pada sekitar 12 kali pendapatannya. Satu investor bahkan mempertanyakan secara lantang mengapa seseorang harus bersedia membayar harga yang lebih mahal dari valuasi Nvidia untuk perusahaan yang belum menghasilkan keuntungan.
“Kenapa harus membayar lebih dari valuasi Nvidia?”d emikian kira-kira pertanyaan yang dilontarkan salah satu investor kepada para bankir yang menghubungi mereka, sebagaimana dikutip The Information.
Persoalan mendasar lainnya adalah transparansi finansial. Karena OpenAI masih berstatus perusahaan privat, data keuangan lengkap belum tersedia untuk umum dan tidak akan ada hingga perusahaan secara resmi mengajukan dokumen IPO. Proyeksi internal OpenAI sendiri mengindikasikan perusahaan masih akan terus membakar kas hingga setidaknya tahun 2030. Selain itu, rencana belanja infrastruktur komputasi yang diperkirakan mencapai sekitar US$600 miliar—atau sekitar Rp 9.780 triliun—memunculkan kekhawatiran serius di kalangan investor soal dilusi saham setelah perusahaan melantai di bursa.
Meski demikian, suasana di kalangan investor tidak sepenuhnya pesimistis. Sebagian mengakui bahwa OpenAI berpotensi menjadi IPO terbesar dalam sejarah pasar modal AS—melampaui Saudi Aramco yang pada 2019 berhasil mengumpulkan lebih dari US$25 miliar dalam penawaran perdananya.
Ketidakpastian itu semakin diperumit oleh kemunculan pesaing tangguh dari kota yang sama. Anthropic baru saja menutup putaran pendanaan Seri G senilai US$30 miliar yang dipimpin oleh dana kekayaan negara Singapura GIC dan firma manajemen investasi Coatue, menempatkan valuasi perusahaan di angka US$380 miliar—atau setara Rp 6.194 triliun. Transaksi ini sekaligus menjadi pendanaan ventura terbesar kedua sepanjang sejarah, hanya kalah dari putaran pendanaan OpenAI sendiri yang melampaui US$40 miliar tahun lalu. Valuasi itu lebih dari dua kali lipat dibandingkan September 2025, ketika Anthropic terakhir kali menutup putaran pendanaan di angka US$183 miliar.
“Claude semakin menjadi tulang punggung cara kerja bisnis—baik bagi para entrepreneur, startup, maupun perusahaan terbesar di dunia,” kata Krishna Rao, Chief Financial Officer Anthropic, dalam pernyataan resminya.
Dengan pendapatan tahunan yang telah mencapai US$14 miliar dan target IPO pada akhir 2026, Anthropic kini menjadi alternatif investasi yang nyata bagi investor institusional yang belum siap menerima harga premium OpenAI. Delapan dari sepuluh perusahaan terbesar dalam daftar Fortune 10 tercatat sebagai pelanggan enterprise Anthropic. Produk unggulannya, Claude Code—alat pemrograman berbasis AI—bahkan sudah mencatatkan pendapatan tahunan sebesar US$2,5 miliar dan langganan bisnis yang meningkat empat kali lipat sejak awal tahun.
Di sisi OpenAI, CEO Sam Altman mulai bersuara lebih defensif terhadap para skeptis. Dalam sebuah podcast belakangan ini, Altman mengungkapkan bahwa pendapatan tahunan OpenAI kini “jauh melampaui” angka US$13 miliar yang sering disebut analis, sambil menyiratkan bahwa target pendapatan US$100 miliar bisa tercapai pada 2027—jauh lebih cepat dari proyeksi eksternal yang memperkirakan hal itu baru terjadi pada 2028 atau 2029.
IPO OpenAI diperkirakan masih minimal enam bulan lagi dari sekarang, bahkan kemungkinan lebih lama. CFO Sarah Friar sebelumnya menyebut 2027 sebagai timeline yang lebih realistis. Sementara itu, pasar terus mencermati dua raksasa AI ini dalam persaingan yang tidak hanya berlangsung di arena teknologi, tetapi juga di medan perebutan kepercayaan—dan dolar—investor global.