17 March 2026, 01:23

Meta Guyur Rp 441 Triliun ke Nebius demi Infrastruktur AI, Tapi Barengi dengan Ancang-Ancang PHK 16.000 Karyawan

Meta teken deal AI Rp 441 triliun dengan Nebius Group untuk chip Nvidia Vera Rubin, di tengah rencana PHK 16.000 karyawan demi efisiensi biaya AI.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
242
Meta Guyur Rp 441 Triliun ke Nebius demi Infrastruktur AI, Tapi Barengi dengan Ancang-Ancang PHK 16.000 Karyawan
Meta teken deal AI Rp 441 triliun dengan Nebius Group selama lima tahun untuk kapasitas komputasi chip Nvidia Vera Rubin generasi terbaru demi penuhi kebutuhan data center AI 2026. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Meta Platforms resmi menandatangani kesepakatan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) senilai hingga 27 miliar dolar AS atau setara Rp 441,45 triliun bersama penyedia layanan cloud asal Amsterdam, Belanda, Nebius Group, yang diumumkan pada Senin (16/3/2026). Berdasarkan perjanjian berjangka lima tahun itu, Nebius akan menyediakan kapasitas komputasi AI senilai 12 miliar dolar AS (sekitar Rp 196,2 triliun) yang bersifat dedicated di sejumlah lokasi, sementara Meta juga berhak membeli kapasitas tambahan senilai hingga 15 miliar dolar AS (sekitar Rp 245,25 triliun) jika tidak diserap pelanggan lain, sehingga total nilai kontrak mencapai 27 miliar dolar AS.

Nebius, yang dikenal sebagai neocloud dengan kemitraan strategis bersama Nvidia Corp., menjadwalkan penyerahan kapasitas dedicated tersebut mulai awal 2027.  Kesepakatan ini juga mencakup akses terhadap salah satu penerapan skala besar pertama platform Nvidia Vera Rubin, chip AI generasi terbaru yang paling banyak diperebutkan di industri. Langkah ambisius senilai hampir setengah kuadriliun rupiah ini terjadi bersamaan dengan laporan Reuters yang menyebut Meta tengah mempertimbangkan pemangkasan tenaga kerja yang berpotensi menyasar hingga 16.000 dari total 79.000 karyawannya secara global.

Dalam pernyataan resmi yang dipublikasikan di situs Nebius, CEO sekaligus pendiri perusahaan, Arkady Volozh, menegaskan pentingnya ekspansi kemitraan ini sebagai fondasi pertumbuhan bisnis cloud AI jangka panjang mereka.

“Kami sangat senang dapat memperluas kemitraan signifikan kami dengan Meta sebagai bagian dari upaya mengamankan kontrak kapasitas besar dan jangka panjang untuk mempercepat pembangunan dan pertumbuhan bisnis cloud AI inti kami. Kami akan terus memberikan yang terbaik,” ujar Volozh.

Pengumuman kesepakatan ini langsung memantik lonjakan saham Nebius hingga 14 persen pada perdagangan awal di pasar premarket.  Nebius sendiri lahir dari restrukturisasi operasi luar negeri raksasa teknologi Rusia, Yandex, pada 2022, lalu resmi melantai di bursa New York pada 2024, dengan harga saham yang telah meroket lebih dari 200 persen sepanjang 2025 dan sudah naik 35 persen sejak awal 2026.  Sebelumnya pada pekan lalu, Nvidia mengumumkan investasi strategis senilai 2 miliar dolar AS (sekitar Rp 32,7 triliun) untuk mengakuisisi sekitar 8,3 persen saham Nebius, yang seluruh pusat datanya mengandalkan chip-chip buatan Nvidia.

Pada hari yang sama pengumuman deal ini terbit, Citi memulai liputan saham Nebius dengan rating beli/risiko tinggi, yang didukung pandangannya atas potensi pertumbuhan pasar data center AI, perbaikan margin, dan model skalabilitas Nebius yang dinilai efisien dari sisi modal.  Nebius juga sebelumnya telah mengantongi kontrak serupa senilai 14,2 miliar dolar AS dari Meta lewat neocloud CoreWeave untuk infrastruktur AI hingga 2032, menandakan betapa agresifnya strategi diversifikasi sumber daya komputasi induk Facebook itu.

Deal senilai Rp 441 triliun ini bukan yang pertama antara Meta dan Nebius—keduanya sebelumnya telah meneken kontrak 3 miliar dolar AS pada November 2025, sementara Nebius juga telah mengunci perjanjian bernilai 17,4 hingga 19,4 miliar dolar AS dari Microsoft pada September 2025.  Meta sendiri memproyeksikan belanja modal untuk keperluan AI pada tahun ini mencapai hingga 135 miliar dolar AS (sekitar Rp 2.207,25 triliun), menjadikannya salah satu taruhan infrastruktur AI terbesar di antara seluruh pemain teknologi dunia. Tekanan biaya yang terus membengkak inilah yang diyakini menjadi pendorong utama di balik rencana restrukturisasi ketenagakerjaan yang sedang digodok, di mana Meta berencana memangkas hingga lebih dari 20 persen dari total 78.865 karyawannya per 31 Desember 2025.

Menurut Reuters yang mengutip tiga sumber anonim yang mengetahui langsung situasi internal perusahaan, para eksekutif puncak Meta telah menginstruksikan pemimpin senior lainnya untuk mulai menyusun skenario efisiensi tenaga kerja yang diperlukan.  Jika angka 20 persen benar-benar terealisasi, ini akan menjadi PHK terbesar Meta sejak “Tahun Efisiensi” yang memorak-porandakan struktur organisasi perusahaan pada akhir 2022 dan awal 2023, ketika total 21.000 posisi dihapus dalam dua gelombang.

Juru bicara Meta, Andy Stone, menampik laporan tersebut dengan nada yang meremehkan urgensinya kepada Reuters dan CNBC. “Ini adalah laporan spekulatif tentang pendekatan-pendekatan yang masih bersifat teoretis,” kata Stone.

Meski pernyataan itu diterbitkan, TechCrunch melaporkan bahwa pemangkasan ini diyakini akan membantu Meta mengimbangi besarnya pengeluaran untuk infrastruktur AI, akuisisi talenta, serta rekrutmen masif spesialis AI yang terus membebani neraca keuangan perusahaan. CEO Mark Zuckerberg sejak awal tahun telah menegaskan dalam earnings call Januari lalu bahwa kemajuan AI memungkinkan Meta beroperasi dengan tim yang jauh lebih ramping, seraya menyatakan, “Kami mulai melihat proyek-proyek yang dulu membutuhkan tim besar kini bisa diselesaikan oleh satu orang yang sangat berbakat.”

Zuckerberg sendiri pada Juni 2025 telah menggelontorkan 14,3 miliar dolar AS untuk berinvestasi di Scale AI dan mendatangkan pendirinya, Alexandr Wang, sebagai Chief AI Officer Meta—sinyal kuat bahwa transformasi berbasis AI di internal perusahaan bukan sekadar wacana. Model baru Zuckerberg dengan kode nama “Avocado” yang digadang-gadang sebagai flagship AI berikutnya juga dilaporkan mengalami penundaan berulang dan kini diperkirakan baru meluncur paling cepat Mei 2026.

Data dari lembaga konsultan Challenger Gray & Christmas yang dikutip CNBC mencatat lebih dari 12.000 PHK di sektor teknologi Amerika Serikat sepanjang 2026, dengan AI sebagai pemicu utama—sebuah gambaran yang semakin mempertegas bahwa gelombang besar disrupsi ketenagakerjaan di industri ini masih jauh dari selesai.

Berita Terkait