TANGERANG SELATAN, Perspektif.co.id — Lonjakan kasus campak di Kota Tangerang Selatan mendorong penguatan peran kader kesehatan di tingkat lapangan. Dengan target lebih dari 109 ribu anak, Dinas Kesehatan setempat menilai keterlibatan aktif kader menjadi kunci dalam mempercepat penanganan sekaligus menekan penyebaran penyakit yang kini menempatkan Tangsel dalam 10 besar wilayah dengan kasus tertinggi secara nasional.
“Semua kader posyandu dan kader penanggulangan virus campak kini dilibatkan,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, dr. Allin Hendalin Mahdaniar saat dikonfirmasi, Jumat (24/4).
Hingga 15 April 2026, tercatat sebanyak 1.292 kasus suspek Campak Rubela di Tangerang Selatan, dengan 68 kasus telah terkonfirmasi positif campak. Kondisi ini memicu pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) secara serentak sebagai langkah respons cepat pemerintah daerah.
Allin menyatakan bahwa program imunisasi tambahan ini dilaksanakan secara intensif dan terukur guna memastikan seluruh sasaran tercapai.
“Pelaksanaan imunisasi tambahan atau ORI ini akan berlangsung selama dua minggu di seluruh Puskesmas, yang kemudian akan dilanjutkan dengan satu minggu masa sweeping untuk memastikan tidak ada sasaran yang terlewat,” ujarnya.
Program ORI menyasar sekitar 109.514 anak di seluruh wilayah Tangerang Selatan. Namun, capaian sementara baru berada di angka 42,4 persen, sehingga diperlukan percepatan melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk optimalisasi peran kader kesehatan dan Tim Pembina Puskesmas (TPP) dalam memantau pelaksanaan di lapangan.
Dalam situasi ini, kewaspadaan menjadi hal mutlak, terlebih dengan adanya laporan tenaga kesehatan yang turut terpapar virus. Dinas Kesehatan menegaskan bahwa campak bukan hanya menyerang anak-anak, tetapi juga dapat menginfeksi orang dewasa yang belum memiliki kekebalan.
“Virus campak memiliki tingkat penularan yang bahkan lebih cepat dibandingkan COVID-19,” kata Allin.
Meski demikian, kelompok usia 1 hingga 4 tahun masih menjadi kelompok paling rentan, terutama mereka yang belum mendapatkan imunisasi lengkap. Oleh karena itu, pendekatan berbasis komunitas melalui kader dinilai efektif untuk menjangkau masyarakat hingga tingkat keluarga.
Selain anak-anak, imunisasi juga diberikan kepada kelompok berisiko tinggi seperti tenaga medis, tenaga kesehatan, dan peserta internship di rumah sakit pemerintah dengan total sasaran mencapai 994 orang.
Upaya pengendalian dilakukan secara bertahap, diawali dengan program Catch Up Campaign (CUC) pada 9–29 Maret 2026, yang kemudian dilanjutkan dengan ORI pada 30 Maret hingga 19 April 2026. Kedua program ini menjadi bagian dari strategi percepatan untuk meningkatkan cakupan imunisasi di tengah lonjakan kasus.
Secara medis, campak merupakan penyakit infeksi akibat virus Morbillivirus yang sangat mudah menular melalui percikan saluran pernapasan. Gejala awal meliputi demam tinggi lebih dari tiga hari, batuk, pilek, serta mata merah, yang kemudian diikuti munculnya ruam kemerahan dari belakang telinga ke seluruh tubuh. Tanda khas lain berupa bercak putih keabuan di dalam mulut atau Koplik’s spot.
Meskipun dapat sembuh dengan sendirinya pada sebagian kasus, campak berisiko menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, gangguan pendengaran, hingga peradangan otak yang dapat berujung fatal, terutama pada balita dan kelompok rentan.
Dinas Kesehatan menegaskan bahwa imunisasi menjadi langkah paling efektif dalam mencegah penyebaran. Vaksin Measles Rubella (MR) maupun Measles Mumps Rubella (MMR) telah terbukti aman dan mampu memberikan perlindungan optimal.
Pemerintah memprioritaskan pemberian vaksin bagi anak usia 9 hingga 59 bulan sesuai rekomendasi otoritas kesehatan. Sementara masyarakat berusia di atas 16 tahun disarankan melakukan vaksinasi MMR secara mandiri di fasilitas kesehatan sebagai perlindungan tambahan.
Selain imunisasi, langkah penguatan juga dilakukan melalui peningkatan edukasi kepada masyarakat dan tenaga kesehatan, penguatan sistem Surveilans Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), pelacakan kasus, serta kesiapan fasilitas layanan kesehatan dalam menangani pasien sesuai standar.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan, segera memeriksakan diri jika mengalami gejala, serta memastikan status imunisasi diri dan keluarga telah lengkap.
“Imunisasi tetap menjadi langkah paling efektif dalam melindungi seluruh kelompok usia dari risiko penyakit dan komplikasi yang dapat dicegah,” ujar Allin.