Perspektif.co.id - Ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali naik satu tingkat setelah Teheran memperingatkan bahwa serangan militer Washington—termasuk yang berskala terbatas—akan dibalas “dengan ganas”. Peringatan itu muncul usai Presiden AS Donald Trump menyebut tengah mempertimbangkan opsi “limited strike” jika perundingan nuklir dengan Iran tidak menghasilkan kesepakatan.
Kementerian Luar Negeri Iran pada Senin (23/2/2026) menegaskan setiap serangan akan dipandang sebagai agresi. Dalam pernyataan yang dikutip AFP, Teheran menekankan, “Aggression is aggression. Titik,” seraya mengingatkan respons Iran akan mengikuti hak membela diri. Juru bicara Kemenlu Iran, Esmaeil Baqaei, menambahkan bahwa negara mana pun akan merespons tindakan agresi sebagai bagian dari hak inherennya untuk mempertahankan diri.
Pernyataan keras Teheran itu datang setelah Trump, pada Jumat pekan lalu, menjawab pertanyaan wartawan soal opsi serangan terbatas. “Saya kira saya bisa mengatakan saya sedang mempertimbangkannya,” kata Trump, merujuk skenario apabila Iran tidak mencapai kesepakatan mengenai program nuklirnya dengan AS.
Di saat tensi meningkat, Washington juga disebut memperkuat postur militernya di Timur Tengah untuk menekan Iran agar segera mencapai titik temu dalam negosiasi. Financial Times melaporkan AS mengerahkan kekuatan militernya secara besar-besaran di kawasan, yang turut memicu kekhawatiran eskalasi konflik dan berdampak pada sensitivitas pasar energi—terutama mengingat pentingnya jalur pengapalan minyak di kawasan seperti Selat Hormuz.
Di jalur diplomasi, pembicaraan nuklir Iran-AS masih bergulir. Putaran kedua perundingan tidak langsung di Jenewa, Swiss, dilaporkan telah digelar dengan mediasi Oman dan disebut menghasilkan kemajuan, meski belum ada terobosan final. (The Washington Post) Putaran lanjutan juga dijadwalkan berlangsung Kamis pekan ini di Jenewa, dengan konfirmasi dari Iran dan Oman.
Negosiasi pihak Iran dipimpin Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, sementara pihak AS diwakili utusan AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff serta Jared Kushner, yang juga disebut sebagai menantu Trump. Di tengah jadwal perundingan yang berlanjut, posisi Teheran pada Senin menegaskan mereka tidak membedakan skala serangan: terbatas atau tidak, tetap akan diperlakukan sebagai agresi yang memantik respons keras.
Perkembangan ini memperlihatkan dua jalur yang berjalan bersamaan: diplomasi yang masih dijaga lewat meja perundingan, dan tekanan militer yang terus meningkat di lapangan. Dengan tenggat perundingan yang kian dekat serta retorika yang mengeras, sorotan global menguat pada satu pertanyaan besar: apakah putaran berikutnya akan meredakan tensi, atau justru mempercepat risiko konflik terbuka.