31 December 2025, 12:34

Tragedi Petir di Merbabu Bikin Jalur Ditutup 2 Bulan: Mulai 1 Januari, Pendaki Diminta Tunda Rencana hingga Februari

(BTNGMb) memutuskan menutup sementara seluruh jalur pendakian Gunung Merbabu di Jawa Tengah selama dua bulan

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
1,742
Tragedi Petir di Merbabu Bikin Jalur Ditutup 2 Bulan: Mulai 1 Januari, Pendaki Diminta Tunda Rencana hingga Februari
Gunung Merbabu, Jawa Tengah. (Foto: iStockphoto/masdinnu)

Perspektif.co.id - Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) memutuskan menutup sementara seluruh jalur pendakian Gunung Merbabu di Jawa Tengah selama dua bulan, menyusul meningkatnya risiko kecelakaan pada periode cuaca ekstrem setelah seorang pendaki dilaporkan tewas akibat tersambar petir. Penutupan berlaku mulai 1 Januari hingga 28 Februari 2026

Keputusan tersebut tertuang dalam pengumuman bernomor PG.18/T.35/TU/HMS.1.8/B/12/2025 yang dikeluarkan Kepala Balai TN Gunung Merbabu, Anggit Haryoso. Dalam informasi yang dipublikasikan pengelola, penutupan dilakukan sebagai langkah mitigasi menghadapi cuaca yang dinilai cepat berubah dan berisiko tinggi bagi keselamatan pengunjung. 

BTNGMb menjelaskan, dasar pertimbangan penutupan antara lain merujuk pada peringatan dini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi perubahan cuaca mendadak, hujan lebat berdurasi singkat, angin kencang hingga puting beliung, serta kilat dan petir di wilayah Jawa Tengah dan kawasan pegunungan. Anggit menegaskan risiko itu nyata bagi aktivitas di jalur pendakian. “Berdasarkan informasi dan peringatan dini BMKG, saat ini wilayah Jawa Tengah dan kawasan pegunungan berpotensi mengalami perubahan cuaca secara tiba-tiba… hingga kilat dan petir. Kondisi tersebut berisiko tinggi bagi keselamatan pendaki,” kata Anggit. 

Dalam keterangan di media sosial pengelola, keputusan penutupan ditegaskan sebagai upaya pencegahan kecelakaan. “Sebagai langkah mitigasi dan pencegahan kecelakaan, maka seluruh jalur pendakian Taman Nasional Gunung Merbabu ditutup sementara. Masa penutupan berlaku mulai 1 Januari sampai dengan 28 Februari 2026,” tulis akun resmi pengelola. 

Gunung Merbabu memiliki lima jalur pendakian resmi yang selama ini menjadi akses utama pendaki, yakni Selo (Boyolali), Suwanting (Magelang), Wekas (Magelang), Cunthel (Semarang), dan Thekelan (Semarang). Selama masa penutupan, seluruh jalur tersebut tidak melayani kegiatan pendakian dalam bentuk apa pun. 

Bagi calon pendaki yang telah melakukan pemesanan (booking) untuk periode Januari 2026, pengelola menyatakan akan memberikan opsi penjadwalan ulang (reschedule) atau pengembalian biaya (refund) sesuai ketentuan yang berlaku. Ketentuan ini disampaikan agar pendaki yang sudah terlanjur menyusun rencana tetap memiliki pilihan tanpa harus memaksakan diri mendaki saat risiko cuaca meningkat. 

Kebijakan penutupan ini muncul setelah insiden yang menimpa seorang pendaki perempuan yang dilaporkan meninggal dunia akibat sambaran petir saat mendaki di Merbabu. Korban diketahui bernama Mella Irawanti Kusuma (22), warga Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Jenazah korban dievakuasi petugas gabungan pada Kamis (25/12) malam dan selanjutnya dibawa ke RSUD Muntilan untuk pemeriksaan.

Anggit menjelaskan, laporan pendaki tersambar petir diterima petugas piket pengamanan pada Kamis (25/12) sekitar pukul 16.01 WIB. Tak lama berselang, tim evakuasi bergerak menuju lokasi kejadian. “Sekitar pukul 16.15 WIB, tim evakuasi… menuju titik keberadaan dan kejadian korban… Kemudian, sekitar 18.14 WIB, tim… sampai pada lokasi kejadian dan melakukan evakuasi terhadap korban (meninggal dunia),” kata Anggit dalam pesan tertulis. 

Setelah proses evakuasi, korban dibawa menuju RSUD Muntilan. Dalam laporan yang sama, disebutkan jenazah diserahkan kepada keluarga pada Jumat (26/12) sekitar pukul 02.15 WIB. Insiden ini menegaskan kembali bahaya aktivitas luar ruang di ketinggian saat kondisi atmosfer tidak stabil, terutama saat awan konvektif berkembang cepat dan petir aktif di punggungan jalur pendakian.

Selain mengumumkan penutupan jalur, pengelola juga mengingatkan bahwa upaya mitigasi bukan sekadar formalitas. Penutupan bersifat menyeluruh agar tidak ada aktivitas pendakian “setengah jalan” yang kemudian memicu operasi penyelamatan ketika cuaca tiba-tiba memburuk. “Selama masa penutupan, tidak diperkenankan melakukan aktivitas pendakian dalam bentuk apapun,” tegas pengelola.

Bagi masyarakat yang berencana berwisata alam pada awal tahun, imbauan keselamatan juga relevan untuk kegiatan lain di kawasan pegunungan, termasuk camping, jelajah jalur, maupun aktivitas di area terbuka yang rawan sambaran petir dan terpaan angin kencang. Pengelola mengarahkan calon pendaki untuk memantau kanal resmi informasi Merbabu serta memperhatikan pembaruan prakiraan dan peringatan dini dari BMKG sebelum menyusun ulang jadwal perjalanan.abu

Berita Terkait