TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Tencent Holdings dan Alibaba Group bersikukuh mempercepat adopsi chip AI buatan China di tengah keputusan mengejutkan: kedua raksasa teknologi itu menahan pembelian chip Nvidia H200 meskipun pemerintah Amerika Serikat sudah memberikan izin resmi. Langkah ini menandai babak baru perang teknologi antara Washington dan Beijing yang kini bergeser dari larangan ekspor ke tekanan politik dalam negeri.
Chief Strategy Officer Tencent, James Mitchell, menyatakan perusahaan akan melakukan “peningkatan signifikan” dalam belanja modal, terutama pada paruh kedua tahun ini, seiring chip desain China yang semakin “tersedia bagi kami setiap bulannya.” Mitchell juga menegaskan pasokan GPU buatan China akan terus meningkat secara progresif sepanjang tahun, sebagaimana dilaporkan CNBC.
Analis Goldman Sachs memproyeksikan belanja modal Tencent akan mencapai 165 miliar yuan pada 2027—lebih dari dua kali lipat pengeluaran perusahaan pada 2025. Pada kuartal pertama tahun ini saja, Tencent sudah membelanjakan 31,9 miliar yuan untuk proyek infrastruktur, melonjak 63 persen dibanding kuartal sebelumnya.
Di sisi lain, Alibaba memilih jalur yang lebih mandiri. Divisi chip Alibaba, T-Head, telah mencapai “produksi massal berskala besar” untuk GPU proprietary bernama Zhenwu, dengan lebih dari 100.000 unit chip tersebut kini beroperasi di platform Alibaba Cloud dan digunakan lebih dari 30 perusahaan di sektor otomotif dan kendaraan otonom.
Pemerintah AS sebelumnya telah menyetujui sekitar 10 perusahaan China—termasuk Alibaba, Tencent, ByteDance, dan JD.com—untuk membeli hingga 75.000 unit chip H200 Nvidia masing-masing. Namun hingga kini belum ada satu pun pengiriman yang terealisasi.
Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick mengungkapkan di hadapan Senat bahwa “pemerintah pusat China belum mengizinkan mereka membeli chip tersebut, karena mereka berupaya menjaga investasi tetap fokus pada industri domestik mereka sendiri.” Beijing dinilai sengaja menahan transaksi demi melindungi ekosistem semikonduktor lokal dari persaingan asing.
Analis Counterpoint Research, Neil Shah, menilai langkah ini didorong oleh pergeseran fokus dari pelatihan model menuju “agentic AI”—sistem yang mampu menjalankan tugas kompleks secara otonom. “Hiperscaler China tidak bisa menunggu,” tegasnya, seraya menambahkan bahwa chip lokal mungkin sudah cukup untuk pelatihan, namun masih dipertanyakan kemampuannya untuk beban inferensi AI agentik yang jauh lebih berat, sebagaimana dikutip The News International.
Tencent Cloud turut mengumumkan adaptasi penuh pada “chip domestik arus utama” dalam infrastruktur komputasi AI-nya, termasuk rencana ekspansi pusat data ke Arab Saudi dan Jepang, demikian dilaporkan South China Morning Post.