TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Raksasa teknologi asal Tiongkok, Alibaba Group, secara resmi meluncurkan model Artificial Intelligence terbaru mereka, Qwen 3.5, pada pertengahan Februari 2026 sebagai bagian dari strategi "AI-first" yang agresif di bawah kepemimpinan CEO Eddie Wu. Langkah ini menandai pergeseran fundamental perusahaan dari sekadar platform e-commerce menjadi penyedia infrastruktur teknologi komprehensif, dengan pengumuman rencana investasi fantastis senilai 380 miliar yuan atau sekitar $52 miliar (lebih dari Rp800 triliun) dalam tiga tahun ke depan. Qwen 3.5 hadir dengan kemampuan "Agentic AI" yang revolusioner, memungkinkan sistem untuk mengeksekusi tugas-tugas kompleks secara otonom di berbagai aplikasi mobile dan desktop, bukan sekadar menjawab pertanyaan berbasis teks. Terobosan ini diposisikan sebagai senjata utama Alibaba untuk merebut kembali dominasi pasar dari PDD Holdings (Pinduoduo/Temu) dan ByteDance (Doubao) yang terus menggerus pangsa pasar domestik maupun internasional.
Model Qwen 3.5 yang diperkenalkan pada 16 Februari 2026 ini diklaim delapan kali lebih cepat dalam memproses workload besar dibandingkan pendahulunya dan 60 persen lebih murah dalam hal biaya inferensi bagi pengembang. Fitur unggulannya mencakup kemampuan multimodal yang sangat canggih, di mana sistem mampu menganalisis input video berdurasi hingga dua jam secara instan untuk merangkum konten, mengidentifikasi konteks, hingga mengambil tindakan transaksional seperti pemesanan tiket atau pembelian produk secara mandiri. Inovasi ini sekaligus menempatkan Alibaba di garda terdepan persaingan global melawan GPT-5 dari OpenAI dan Gemini 3 Pro dari Google, dengan fokus pada efisiensi biaya per unit komputasi yang sulit ditandingi oleh kompetitor Barat.
"Kami telah memasuki fase investasi strategis untuk membangun nilai jangka panjang dalam teknologi Artificial Intelligence, dan profitabilitas jangka pendek mungkin akan berfluktuasi saat kami memperluas infrastruktur ini secara global," ungkap CEO Alibaba, Eddie Wu, dalam keterangan resminya menjelang laporan pendapatan kuartal kedua tahun fiskal 2026.
Investasi masif ini juga dialokasikan untuk memperkuat divisi Cloud Intelligence Group, yang mencatat pertumbuhan pendapatan dua digit berkat permintaan tinggi akan layanan Large Language Models (LLM) dari sektor enterprise. Alibaba Cloud kini memposisikan diri sebagai full-stack AI service provider dengan menyediakan pusat data super-skala di wilayah strategis termasuk Singapura dan Asia Tenggara. Di sisi e-commerce, integrasi AI pada platform Taobao dan Tmall dilaporkan telah mencapai titik impas (break-even), di mana algoritma rekomendasi pintar dan alat bantu pedagang berbasis AI kini menghasilkan efisiensi operasional yang cukup untuk menutup biaya pengembangan teknologi tersebut secara mandiri.
"Pemenang dalam perlombaan AI tidak akan ditentukan oleh siapa yang memiliki model terkuat saja, tetapi oleh siapa yang bisa mengadopsi dan mengintegrasikannya lebih cepat ke dalam kehidupan sehari-hari pengguna," ujar Chairman Alibaba, Joe Tsai, dalam sebuah diskusi panel mengenai kompetisi teknologi global.
Meski demikian, ambisi besar Alibaba di tahun 2026 ini tidak luput dari tantangan geopolitik yang signifikan, terutama terkait pengetatan kontrol ekspor chip AI tingkat tinggi dari Amerika Serikat. Perusahaan dilaporkan mulai mengalihkan pesanan perangkat keras ke GPU Nvidia H200 versi modifikasi dan solusi chip domestik untuk menjaga keberlangsungan pengembangan model Qwen masa depan. Di pasar saham, sentimen investor terhadap Alibaba mulai menunjukkan tren bullish mencapai skor 60,6 di platform Reddit dan X, yang mencerminkan optimisme pasar terhadap kemampuan perusahaan dalam memonetisasi teknologi generatif meskipun berada di tengah ketidakpastian ekonomi global.
"Banyak dari kami bahkan tidak menyadari betapa cepatnya transisi ini terjadi hingga model AI kami mulai bisa mengoperasikan aplikasi desktop secara mandiri tanpa intervensi manual sama sekali," tambah seorang eksekutif senior di Alibaba DAMO Academy saat mendemonstrasikan kemampuan agentic terbaru perusahaan.
Dengan rilis Qwen 3.5 ini, Alibaba tidak hanya mempertahankan posisinya sebagai pemimpin e-commerce di Tiongkok dengan 32 persen pangsa pasar GMV, tetapi juga mempertegas diri sebagai ancaman serius bagi perusahaan perangkat lunak tradisional di Silicon Valley. Fokus pada pengurangan biaya operasional AI hingga lebih dari separuh harga pasar diharapkan mampu menarik jutaan pengembang baru ke ekosistem Alibaba Cloud, sekaligus memperkuat cengkeraman mereka pada ekonomi digital masa depan yang digerakkan oleh agen otonom.