Perspektif.co.id - Gelombang doa dan tahlil mengalir dari Indonesia menyusul kabar tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam rangkaian serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Di saat sejumlah organisasi keagamaan dan partai politik menyampaikan belasungkawa serta kecaman, pasar keuangan ikut bereaksi: nilai tukar rupiah tertekan, sentimen “risk-off” menguat, dan otoritas moneter menyatakan kesiagaan menghadapi potensi gejolak lanjutan dari eskalasi konflik Timur Tengah.
Di banyak daerah, kabar duka itu segera diterjemahkan menjadi ritual sosial khas Indonesia: tahlil, doa bersama, dan pengajian yang menjadi ruang berbagi duka sekaligus respons moral atas krisis kemanusiaan yang lebih luas. Di tingkat elite organisasi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan sikap resmi yang bukan hanya memuat ungkapan duka, tetapi juga seruan politik luar negeri. Dalam Tausiyah MUI bernomor Kep-28/DP-MUI/III/2026 yang ditandatangani Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar dan Sekjen MUI Buya Amirsyah Tambunan pada 1 Maret 2026, MUI mengecam serangan militer AS–Israel ke Iran dan mendesak Pemerintah RI mencabut keanggotaan Indonesia dari Board of Peace (BoP).
“Bank Indonesia akan terus mencermati pergerakan pasar secara seksama dan merespons secara tepat, termasuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya,” kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) BI Erwin Gunawan dalam keterangan resmi, Senin (2/3/2026), saat rupiah melemah di awal pekan di tengah tekanan geopolitik global.
Sinyal kewaspadaan BI muncul ketika rupiah bergerak melemah pada pembukaan perdagangan Senin, 2 Maret 2026. Sejumlah pemberitaan mencatat rupiah berada di kisaran Rp16.800 per dolar AS, bahkan sempat disebut bergerak hingga sekitar Rp16.830 per dolar AS seiring investor global mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan memburu instrumen safe haven.
Di saat bersamaan, tekanan pasar tidak berdiri sendiri. Konflik AS–Israel versus Iran dinilai menambah lapisan ketidakpastian baru terhadap rantai pasok energi global dan ekspektasi inflasi impor. Sejumlah indikator komoditas ikut menjadi perhatian pelaku pasar, terutama minyak mentah yang sensitif terhadap risiko perang kawasan. Trading Economics mencatat ekspektasi harga minyak berpotensi melonjak saat perdagangan dibuka kembali setelah serangan yang meningkatkan ketegangan di Timur Tengah.
Di ruang politik domestik, duka cita dan kecaman juga datang dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Melalui pernyataannya, PKB menyampaikan belasungkawa sekaligus mengecam serangan militer yang menewaskan Khamenei. “DPP PKB menyampaikan duka mendalam atas terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan militer di Teheran,” demikian pernyataan yang dikutip dari keterangan DPP PKB.
Konteks kebijakan luar negeri Indonesia turut kembali disorot karena posisi RI di Board of Peace—sebuah platform internasional yang belakangan menjadi panggung diplomasi Presiden Prabowo Subianto. Situs Sekretariat Kabinet menyebut Prabowo menghadiri pertemuan perdana BoP di Washington, D.C. pada 19 Februari 2026 dan menegaskan peran Indonesia dalam stabilitas global serta rekonstruksi Gaza. (Sekretariat Kabinet Republik Indonesia) Di sisi lain, MUI secara terbuka meminta Indonesia keluar dari keanggotaan tersebut pascaserangan AS–Israel ke Iran, menunjukkan bagaimana dinamika geopolitik dapat merembet menjadi isu legitimasi arah diplomasi dan persepsi publik di dalam negeri.
Sementara itu, dari panggung internasional, sejumlah media global melaporkan eskalasi konflik dan dampaknya yang cepat menyebar, termasuk potensi meluasnya serangan balasan serta meningkatnya kekhawatiran perang regional. AP melaporkan kematian Khamenei dalam serangan gabungan AS–Israel menjadi titik guncang besar yang meningkatkan risiko instabilitas kawasan, bersamaan dengan respons balasan Iran. (AP News) Pemberitaan lain juga memuat kecaman dari sejumlah pemimpin dunia dan seruan agar konflik tidak berkembang menjadi perang yang lebih luas.
Bagi pasar Indonesia, transmisi utama dari konflik biasanya terjadi melalui tiga kanal: energi, nilai tukar, dan arus modal. Ketika risiko geopolitik naik, investor cenderung mengurangi aset emerging market dan menambah kepemilikan dolar AS atau emas. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai sentimen risk-off dari eskalasi perang Timur Tengah menjadi pemicu pelemahan rupiah dan membuat pergerakannya volatil. Di komoditas safe haven, Liputan6 juga menyoroti peluang lonjakan harga emas di tengah gejolak kawasan, menandakan meningkatnya permintaan aset lindung nilai.
Di tengah semua dinamika itu, tahlil dan doa yang mengalir di Indonesia memberi wajah lain dari respons publik: bukan sekadar reaksi politik, melainkan juga ekspresi sosial-keagamaan yang merawat solidaritas di saat ketegangan internasional mengancam stabilitas ekonomi. Dalam tradisi masyarakat, doa bersama sering menjadi “bahasa tercepat” untuk merespons kabar duka dari jauh, terlebih ketika peristiwa tersebut dipahami beririsan dengan isu kemanusiaan dan konflik berkepanjangan.
Namun bagi otoritas ekonomi, pekan ini menjadi ujian stabilitas: menjaga rupiah, mengelola ekspektasi pasar, dan memetakan dampak lanjutan bila konflik meningkat, terutama terhadap harga energi dan inflasi. Pernyataan BI yang menegaskan pemantauan ketat serta kesiapan merespons pasar menunjukkan fokus pada stabilitas makro di tengah kabar perang yang bergerak cepat.