16 March 2026, 02:26

Strategi Alpine Macro: “Puncak Panik Perang” Siap Hantam Pasar Global dalam 1-3 Minggu ke Depan

Alpine Macro peringatkan “peak war panic” hantam pasar global 1-3 minggu ke depan, S&P 500 anjlok, Brent crude tembus $100, VIX melonjak ke 25.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
622
Strategi Alpine Macro: “Puncak Panik Perang” Siap Hantam Pasar Global dalam 1-3 Minggu ke Depan
Pasar saham global dilanda kepanikan usai Alpine Macro prediksi puncak panik perang dalam 1-3 minggu, Brent crude tembus $100, VIX melonjak 25. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

EKONOMI, Perspektif.co.id — Ketegangan geopolitik akibat perang AS-Israel melawan Iran kini mulai menggerus keyakinan investor global. Dan Alamariu, kepala ahli strategi geopolitik di Alpine Macro — lembaga riset makroekonomi yang bernaung di bawah Oxford Economics — memperingatkan bahwa tekanan pasar yang sesungguhnya belum mencapai titik puncaknya, dan kemungkinan besar akan meledak dalam rentang satu hingga tiga minggu ke depan. Peringatan itu disampaikan dalam sebuah catatan riset yang dikutip oleh Fortune, seiring memasuki pekan ketiga sejak serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 — operasi yang dijuluki “Epic Fury” — yang memicu salah satu krisis energi terbesar dalam sejarah pasar minyak global.

“Ujung dari konflik ini belum terlihat,” tulis Alamariu dalam catatannya kepada klien. “Selat Hormuz secara efektif telah tertutup, dan pasar mulai memperhitungkan akhir permainan yang berkepanjangan dan tidak pasti.”

Indeks S&P 500 turun sekitar 3% sepanjang tahun ini dan berada 5% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa, masih jauh dari teritori koreksi atau bear market, mengindikasikan kepanikan massal investor belum terjadi.  Namun situasinya bisa berubah drastis. Pada 11 Maret 2026, indeks volatilitas CBOE (VIX) — yang dikenal sebagai “pengukur ketakutan” Wall Street — melonjak ke level 25,07, naik 57% hanya dalam kurun seminggu lebih, mencerminkan kegelisahan investor yang semakin dalam terhadap ancaman melumpuhnya jalur energi dunia.  Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak hari-hari awal perang Rusia-Ukraina pada 2022.

Guncangan itu juga meluluhlantakkan bursa Asia. Pasar saham India mengalami crash masif pada Jumat 13 Maret 2026 — hari yang kemudian dijuluki “Black Friday the 13th” oleh Dalal Street — ketika Sensex anjlok 1.460 poin dan Nifty 50 terkoreksi 2% ke kisaran 23.150, menghanguskan kekayaan investor senilai sekitar 9,5 lakh crore rupee atau setara lebih dari Rp 17.000 triliun hanya dalam satu sesi perdagangan. Lebih dari 500 saham menyentuh level terendah dalam 52 minggu, termasuk saham unggulan seperti HDFC Bank dan TCS.

Harga minyak mentah Brent, patokan internasional, melonjak 9,22% untuk ditutup di atas 100 dolar AS per barel — pertama kalinya menembus level psikologis tersebut sejak Agustus 2022 — sementara indeks Nasdaq Composite ambles 1,78%, dan Dow Jones rontok 739 poin atau 1,56%.  Pemicu utamanya adalah pernyataan pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, yang menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup sebagai “alat tekanan,” dan mengancam seluruh pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah akan diserang.

Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan bulanannya menegaskan bahwa perang di Timur Tengah ini menciptakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global, dengan aliran minyak mentah dan produk minyak melalui Selat Hormuz anjlok dari sekitar 20 juta barel per hari sebelum perang menjadi hanya setetes. Sebagai respons darurat, 32 negara terbesar dunia menyetujui pelepasan cadangan darurat sebesar 400 juta barel minyak ke pasar — tindakan terbesar dalam sejarah IEA — namun harga tetap bertahan tinggi karena blokade Selat Hormuz terus mencekik sekitar 15 juta barel minyak mentah dan 5 juta barel produk minyak setiap harinya.

Alamariu memperingatkan, jika konflik berlangsung lebih lama dari perkiraan dua bulan, harga minyak Brent akan tetap di atas 100 dolar AS per barel — setara sekitar Rp 1,65 juta per barel — dan berpotensi menembus 150 dolar AS per barel atau sekitar Rp 2,47 juta per barel, sesuai proyeksi Wood Mackenzie.  Secara historis, mengacu pada data yang sama, harga minyak dalam konflik bersenjata serupa biasanya mencapai puncak empat hingga delapan minggu setelah perang dimulai.

“Puncak panik perang kemungkinan besar akan terjadi dalam 1 hingga 3 minggu ke depan,” prediksi Alamariu. “Semakin lama konflik berlanjut, semakin besar kerugian ekonomi yang diperhitungkan investor.”

CEO perusahaan produksi minyak Inggris EnQuest, Amjad Bseisu, menyebut skala krisis ini tak tertandingi. “Pasar minyak tidak pernah menyaksikan sesuatu sebesar ini sebelumnya,” ujarnya kepada CNBC. “Setiap hari penundaan, ada tambahan 20 juta barel yang lenyap dari pasar, dan itu akan terus berdampak.”

Alpine Macro memperkirakan konflik ini paling mungkin berakhir dengan gencatan senjata informal yang memungkinkan rezim Iran tetap bertahan sementara semua pihak mengklaim kemenangan. Selama ketidakpastian bertahan, lembaga itu menyebut sektor minyak dan gas, energi luar kawasan, dirgantara dan pertahanan, serta saham pelayaran tetap menjadi penerima manfaat utama. Sementara itu, Reuters melaporkan pada akhir pekan bahwa pejabat AS dan Iran sama-sama menolak upaya negara-negara Timur Tengah lainnya untuk memulai negosiasi gencatan senjata, menambah lapisan ketidakpastian bagi pasar global.

Berita Terkait