20 January 2026, 17:59

Rupiah Nyaris Rp17 Ribu, Menkeu Purbaya: “Ada yang Aneh”, Minta BI Jelaskan

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang nyaris menyentuh Rp17.000 per dolar AS

Reporter: M. Ansori
Editor: Zainur Akbar
919
Rupiah Nyaris Rp17 Ribu, Menkeu Purbaya: “Ada yang Aneh”, Minta BI Jelaskan
rupiah nyaris 17000 per dolar AS 20 Januari 2026 di level 16956 / Doc : istimewa

JAKARTA, Perspektif.co.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang nyaris menyentuh Rp17.000 per dolar AS lebih tepat ditanyakan kepada Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter. Purbaya mengaku heran karena pelemahan rupiah terjadi di tengah sinyal arus modal yang menurutnya justru masuk deras lewat pasar keuangan domestik. 

Ketika kapital masuk ke sini besar, kenapa rupiahnya melemah? Coba tanya mereka deh, karena saya enggak bisa intervensi untuk menjelaskan, nah itu kan otoritas bank sentral,” kata Purbaya saat ditemui di kawasan Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (20/1/2026). 

Pada perdagangan Selasa (20/1) sore, rupiah bergerak di level yang nyaris menembus Rp17.000. Pantauan kurs menunjukkan rupiah berada di kisaran Rp16.956 per dolar AS pada sore hari. 

Purbaya juga enggan memberikan komentar panjang terkait pelemahan rupiah yang terjadi bersamaan dengan penguatan pasar saham. Menurut dia, dinamika kurs dan kebijakan stabilisasi merupakan ranah bank sentral.

Anda tanya ke Bank Sentral aja apa yang terjadi. Enggak ada alasan rupiah melemah ketika modal masuk ke sini, ya kan? Menurut Anda gimana? Makanya ada yang aneh kan? Anda tanya ke Bank Sentral,” ucap Purbaya.

Ia menilai kondisi pasar modal yang menguat mengindikasikan kepercayaan investor terhadap Indonesia belum luntur. Purbaya menyebut kenaikan pasar tidak mungkin terjadi tanpa partisipasi investor, termasuk asing, sehingga dari sisi suplai dolar seharusnya tidak kekurangan. “Anda lihat di pasar modal kan naik kan, pasar modal enggak mungkin naik kalau enggak ada investor asing yang masuk sini juga. Jadi harusnya kalau lihat dari supply dolar harusnya enggak kekurangan nih. Cuman Anda mestinya tanya ke Bank Sentral apa policynya, saya enggak tahu,” katanya. 

Di sisi lain, BI sebelumnya menyatakan akan terus melakukan intervensi di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah agar bergerak sejalan dengan fundamental. Dalam beberapa kesempatan, bank sentral menyebut langkah stabilisasi dilakukan melalui berbagai instrumen, termasuk pasar valas dan pasar obligasi. 

Sejumlah analis menilai tekanan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor global, tetapi juga sentimen domestik—mulai dari kekhawatiran pasar atas arah kebijakan fiskal hingga persepsi terhadap independensi bank sentral. Reuters melaporkan rupiah sempat menyentuh rekor terendah di kisaran 16.985 per dolar AS pada Januari 2026, di tengah kombinasi faktor eksternal dan kekhawatiran domestik tersebut. 

Meski demikian, Purbaya menyatakan optimistis rupiah akan kembali menguat seiring penguatan fundamental ekonomi dan koordinasi kebijakan yang lebih erat dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Ia juga mengingatkan pelaku pasar agar tidak mengambil posisi spekulatif berlebihan memanfaatkan pelemahan rupiah. 

Jadi untuk spekulator-spekulator, jangan terlalu ambil posisi yang terlalu long… Kira-kira pondasi ekonomi kita enggak akan terganggu, akan terus membaik,” ujar Purbaya. 

Berita Terkait