TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Para ilmuwan dari University of Florida (UF) berhasil membalikkan salah satu asumsi paling mendasar dalam teknologi penyuntingan gen modern. Riset yang dipublikasikan di jurnal Nature Biotechnology ini memperkenalkan sistem CRISPR pertama di dunia yang menggunakan DNA—bukan RNA—sebagai pemandu enzim Cas menuju target, menggugurkan paradigma yang telah bertahan selama bertahun-tahun.
Platform bernama ΨDNA (pseudo-guide DNA) ini memprogram ulang enzim Cas12 untuk mengenali dan bekerja pada RNA menggunakan kerangka panduan berbasis DNA, menghadirkan cara yang secara fundamental berbeda dalam mengendalikan RNA di dalam sel.
“Salinan RNA itu seperti fotokopi dari manual asli, dan kadang salinan itu mengandung kesalahan,” ujar Piyush Jain, profesor asosiasi dan peneliti utama studi ini dari departemen teknik kimia UF, dikutip dari laman resmi University of Florida. “Kesalahan tersebut bisa berdampak serius.”
Secara teknis, ΨDNA dirancang meniru struktur crRNA dalam orientasi terbalik, memungkinkan AsCas12a dan Cas12i1 mengenali RNA serta memicu aktivitas trans-cleavage untai tunggal DNA yang kuat. Sistem ini juga berhasil mendeteksi RNA virus Hepatitis C dalam sampel klinis dengan akurasi 100%.
Dalam pengujian pada lini sel manusia, ΨDNA mampu melakukan knockdown RNA endogen sebesar 70–95% melalui mekanisme ribosome stalling dan rekrutmen RNase H1, dengan efek off-target yang lebih sedikit dibanding alat penyuntingan gen yang ada saat ini, menurut para peneliti.
Studi ini melibatkan kolaborasi peneliti dari University of Florida, MIT, dan beberapa institusi lainnya, dengan Piyush Jain sebagai peneliti utama bersama Carlos Orosco, Santosh Rananaware, dan sejumlah kolega.
“Kemajuan paling berarti adalah kami membuktikan bahwa CRISPR-Cas12 bisa diprogram ulang untuk menarget RNA menggunakan panduan DNA, bukan panduan RNA,” kata Jain kepada Genetic Engineering & Biotechnology News (GEN).
Temuan ini turut disorot dalam artikel News & Views di Nature Biotechnology, sementara tim peneliti bersama mitra dari UT Austin juga merilis struktur sistem CRISPR berbasis DNA pertama mereka dalam preprint terpisah pada Maret 2026. Potensi aplikasinya mencakup diagnostik penyakit infeksius, terapi antivirus, hingga rekayasa sel untuk perbaikan organ—sebuah lompatan yang bisa membuat bioteknologi masa depan jauh lebih terjangkau dan presisi.