Perspektif.co.id - Sri Susuhunan Pakubuwono XIII, Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, meninggal dunia pada Minggu (2/11/2025) pagi. Kabar duka ini menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang pemimpin yang dikenal karena kebijaksanaan dan keteguhan dalam menjaga martabat budaya Jawa.
Pakubuwono XIII lahir di Surakarta pada 28 Juni 1948 dengan nama kecil Gusti Raden Mas Suryadi, putra tertua dari Pakubuwono XII dan KRAy. Pradapaningrum. Sejak muda, ia dikenal tekun mempelajari adat dan spiritualitas Jawa. Setelah ayahandanya wafat pada 2004, ia dinobatkan menjadi Susuhunan Pakubuwono XIII.
Namun, awal kepemimpinannya tidak mudah. Keraton Surakarta terbelah akibat konflik perebutan tahta antara dirinya dan saudaranya, KGPH Tejowulan. Perselisihan itu bahkan membuat prosesi pemakaman sang ayah dilakukan secara terpisah. Melalui proses panjang dan mediasi pemerintah, perdamaian akhirnya tercapai pada 2012. Sejak saat itu, Pakubuwono XIII diakui sebagai penguasa sah Kasunanan Surakarta.
Sikap rekonsiliatifnya menjadi teladan kepemimpinan yang berorientasi damai. “Beliau selalu mengutamakan dialog dan persaudaraan di atas ambisi pribadi,” ujar salah satu kerabat keraton. Prinsip itu juga terlihat saat ia berdamai dengan GKR Wandansari atau Gusti Moeng pada 2023, menandai berakhirnya perpecahan internal yang telah berlangsung puluhan tahun.
Di luar upaya perdamaian, Pakubuwono XIII dikenal sebagai pelestari budaya yang aktif. Ia rutin menggelar perayaan adat, pergelaran wayang, serta kegiatan budaya lainnya. Pada 2018, ia menerima penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) karena memprakarsai pementasan wayang kulit dengan kelir terpanjang di dunia. Upayanya menjaga tradisi disertai semangat modernisasi, seperti ketika mendukung program vaksinasi Covid-19 di Ponorogo dan Pacitan dengan menyediakan 20.000 dosis vaksin gratis.
Pakubuwono XIII juga dikenal dekat dengan rakyat. Ia kerap menghadiri kegiatan budaya, berdialog dengan masyarakat, dan terlibat dalam gerakan sosial seperti Save Kraton untuk merestorasi bangunan serta memperkuat solidaritas masyarakat Surakarta. Dalam pandangan banyak kalangan, langkah tersebut menunjukkan tanggung jawab sosial seorang pemimpin yang memahami bahwa kekuasaan sejati lahir dari pengabdian.
Dalam kehidupan keluarga, beliau dikenal sebagai ayah yang bijak. Penobatan putranya, KGPH Purubaya, sebagai putra mahkota pada 2022 dilakukan secara terbuka sebagai bentuk regenerasi kepemimpinan yang berakar pada nilai adat dan tanggung jawab sosial.
Warisan moral Pakubuwono XIII meninggalkan pesan kuat bagi masyarakat modern: kekuatan sejati tidak lahir dari perebutan, melainkan dari kemampuan untuk berdamai dan menjaga harmoni. Di tengah dunia yang sarat konflik, nilai-nilai itu menjadi cermin kebijaksanaan seorang raja yang menaklukkan egonya demi persatuan.