17 March 2026, 01:12

Nvidia Ledakkan GTC 2026: Chip Vera Rubin 5x Lebih Kencang dari Blackwell, Ancam Google dan Amazon!

Nvidia resmi debut chip Vera Rubin di GTC 2026, 5x lebih kencang dari Blackwell. Jensen Huang ungkap NVL144 8 exaflops, roadmap Feynman 2028, saham naik 2%.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
2,021
Nvidia Ledakkan GTC 2026: Chip Vera Rubin 5x Lebih Kencang dari Blackwell, Ancam Google dan Amazon!
Platform Vera Rubin milik Nvidia, sistem enam chip terintegrasi yang diklaim 5x lebih cepat dari Blackwell, resmi debut di GTC 2026. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Nvidia secara resmi membuka konferensi GPU Technology Conference (GTC) 2026 pada Senin, 16 Maret 2026, di SAP Center, San Jose, California, dengan sebuah keynote yang mengguncang peta persaingan kecerdasan buatan global. CEO sekaligus pendiri Nvidia, Jensen Huang, tampil di hadapan lebih dari 30.000 peserta yang datang dari 190 negara, menjadikan ajang ini sebagai perhelatan teknologi terbesar tahun ini.

Momen bersejarah itu menjadi panggung perdana debut platform Vera Rubin, generasi akselerator AI terbaru Nvidia yang secara resmi menggantikan arsitektur Blackwell. Sebagaimana dilaporkan NVIDIA Blog secara langsung dari San Jose, keynote selama hampir dua jam ini mencakup seluruh tumpukan teknologi mulai dari chip, perangkat lunak, model AI, hingga aplikasinya. Ratusan ribu penonton turut menyaksikan acara ini secara daring melalui siaran langsung gratis di nvidia.com.

Platform Vera Rubin dinamai dari Vera Florence Cooper Rubin, astronom perintis Amerika Serikat yang penemuannya mengubah pemahaman manusia tentang materi gelap di alam semesta, sebagaimana disebutkan dalam siaran resmi NVIDIA Newsroom. Arsitektur ini dirancang bukan sekadar untuk memproses data lebih cepat, melainkan untuk mendorong era “Agentic AI” — sistem yang mampu melakukan penalaran bertahap dan kompleks secara otonom.

Platform ini merupakan ekosistem enam chip terintegrasi yang terdiri atas Rubin GPU, Vera CPU, NVLink 6 Switch, ConnectX-9 SuperNIC, BlueField-4 DPU, dan Spectrum-6 Ethernet Switch. Chip Rubin GPU sendiri mampu menjalankan 50 petaflops inferensi NVFP4, setara 5 kali lipat performa Blackwell untuk beban inferensi, dan 35 petaflops untuk pelatihan, atau 3,5 kali lebih tinggi dari generasi sebelumnya. Chip Vera CPU hadir dengan 88 inti Olympus berbasis Arm v9.2-A yang dilengkapi teknologi “Spatial Multi-Threading”, memberikan kapasitas pemrosesan setara 176 inti konvensional.

Konfigurasi rack-scale Vera Rubin NVL72 menjadi andalan utama yang telah mulai dikirimkan kepada pelanggan pertama, memadatkan 72 GPU Rubin dan 36 CPU Vera dalam satu rak penuh liquid cooling tanpa kipas, tanpa selang, dan tanpa kabel. Dikutip dari laporan Tom’s Hardware, proses instalasi yang sebelumnya memakan waktu dua jam pada sistem Blackwell kini menjadi hanya lima menit untuk Vera Rubin NVL72. Setiap GPU dalam rack tersebut dilengkapi 288 GB memori HBM4, sementara sistem NVLink 6 mampu mengalirkan bandwidth agregat sebesar 260 TB/s — melampaui kapasitas bandwidth seluruh internet, menurut klaim Nvidia.

Lebih lanjut, varian NVL144 CPX yang diungkap di GTC 2026 menawarkan 8 exaflops komputasi AI, 100 TB memori cepat, dan bandwidth memori 1,7 petabytes per detik dalam satu rak tunggal, sebagaimana dirilis NVIDIA Newsroom. Dengan konfigurasi ini, biaya per token inferensi diklaim turun hingga sepersepuluh dibandingkan platform Blackwell, sebuah lompatan yang sangat krusial bagi perusahaan cloud yang berlomba menekan ongkos inferensi AI.

“Rubin hadir di momen yang paling tepat, karena permintaan komputasi AI untuk pelatihan maupun inferensi tengah meledak tak terkendali,” kata Jensen Huang dalam pernyataan resminya. “Dengan ritme tahunan kami menghadirkan generasi baru superkomputer AI — dan desain terintegrasi lintas enam chip baru — Rubin membuat lompatan raksasa menuju batas terdepan AI.”

Nvidia menghadapi tekanan persaingan yang semakin nyata dari Google, Amazon, serta puluhan startup chip khusus AI, di tengah pergeseran industri yang kini lebih berorientasi pada inferensi ketimbang pelatihan model. Sebagaimana dicatat TechCrunch, gelombang pemain custom silicon dari raksasa hyperscaler mulai mengancam dominasi Nvidia yang selama ini menggenggam sekitar 90 persen pasar akselerator AI kelas atas.

Namun Nvidia mempertahankan posisinya lewat ekosistem CUDA yang sangat dalam dan strategi “full-stack” yang mencakup chip, jaringan, perangkat lunak, hingga aplikasi. Analisis dari FinancialContent menyebut Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) tetap menjadi tulang punggung produksi, sebagai satu-satunya fabrikasi chip Rubin dengan proses 3nm dan teknologi packaging CoWoS canggih. Ketika pesaing membangun chip khusus, Nvidia justru merespons dengan memperluas moat teknologinya lewat platform NVLink 6 yang mustahil ditandingi secara isolasi.

Pasar merespons positif terhadap serangkaian pengumuman tersebut, dengan saham Nvidia (NASDAQ: NVDA) naik lebih dari 2 persen dalam sesi perdagangan pagi ke kisaran 184,27 dolar AS atau sekitar Rp 3.013.000 per lembar saham, berdasarkan laporan Rollingout. Kapitalisasi pasar Nvidia kini bertengger di antara 4,3 hingga 5 triliun dolar AS atau setara Rp 70.300 triliun hingga Rp 81.750 triliun, menjadikannya perusahaan semikonduktor paling bernilai sepanjang sejarah.

Sebanyak 38 analis Wall Street aktif mengikuti saham ini, dengan mayoritas mempertahankan rekomendasi “Buy” dan rata-rata target harga 273 dolar AS per saham, kira-kira 50 persen di atas harga penutupan sebelum GTC, menurut catatan Let’s Data Science. Menariknya, analis dari Sherwood mencatat pola historis di mana harga saham Nvidia justru cenderung terkoreksi saat Jensen Huang berbicara di panggung, bukan karena acara mengecewakan, melainkan akibat ekspektasi pasar yang sudah terlalu tinggi sebelumnya. Sebaliknya, reaksi pasar yang positif hari ini mengindikasikan bahwa pengumuman GTC 2026 berhasil melampaui tolok ukur tersebut.

“Platform Vera Rubin akan menandai lompatan berikutnya di batas terdepan komputasi AI — memperkenalkan GPU generasi berikutnya dan sebuah kategori prosesor baru yang disebut CPX,” ujar Jensen Huang. “Sama seperti RTX merevolusi grafis dan physical AI, Rubin CPX adalah GPU CUDA pertama yang dibangun khusus untuk massive-context AI, di mana model bernalar lintas jutaan token pengetahuan sekaligus.”

Sejumlah mitra cloud terbesar di dunia telah mengonfirmasi adopsi awal platform Vera Rubin, termasuk AWS, Google Cloud, Microsoft Azure, dan Oracle Cloud, sebagaimana diumumkan resmi oleh NVIDIA Newsroom. Microsoft secara khusus akan menerapkan sistem Vera Rubin NVL72 sebagai fondasi suprafactory AI generasi berikutnya, termasuk di lokasi Fairwater AI superfactory yang akan diskalakan hingga ratusan ribu Vera Rubin Superchip.

Selain pemain cloud utama, Nvidia juga mengumumkan kemitraan strategis multitahun dengan Thinking Machines Lab untuk menerapkan setidaknya satu gigawatt sistem Vera Rubin guna mendukung pelatihan model frontier, sesuai pernyataan dalam NVIDIA Blog. CoreWeave, Lambda, Nebius, dan Nscale turut masuk dalam daftar mitra cloud pertama yang akan menawarkan layanan berbasis Rubin mulai semester kedua 2026. Pengerahan skala gigawatt ini mencerminkan transisi industri dari sekadar membangun model AI menjadi mengelolanya sebagai infrastruktur nasional dan korporat secara permanen.

Selain Vera Rubin, GTC 2026 juga menjadi momen pertama Nvidia secara resmi menempatkan arsitektur Feynman ke dalam peta jalan publik, dijadwalkan hadir pada 2028 dengan proses fabrikasi TSMC A16 1,6nm yang akan mengintegrasikan silicon photonics untuk pertama kalinya, menggantikan sinyal listrik dengan sinyal optik untuk transmisi data, berdasarkan analisis TrendForce. Sementara itu, varian Vera Rubin Ultra dijadwalkan meluncur pada semester kedua 2027, memberikan jembatan transisi bagi operator pusat data sebelum platform Feynman tiba.

Menurut Wccftech, jika Feynman benar-benar mengadopsi proses A16, Nvidia berpotensi menjadi pelanggan pertama dan terbesar untuk node fabrikasi mutakhir tersebut. Kombinasi roadmap ini — Rubin, Rubin Ultra, Feynman — menggambarkan siklus pembaruan arsitektur tahunan yang belum mampu diimbangi oleh satu pun kompetitor saat ini. Di luar chip, GTC 2026 juga memperkenalkan NemoClaw, platform agen AI open-source untuk perusahaan yang sebelumnya bocor melalui laporan Wired dan CNBC.

“GTC adalah pusat dari era AI industrial. AI bukan lagi sebuah terobosan tunggal atau skenario aplikasi tunggal, melainkan infrastruktur yang tak tergantikan yang mendorong perkembangan berbagai industri,” tegasnya. “Di masa depan, setiap perusahaan akan merangkul teknologi AI, dan setiap negara akan membangun infrastruktur AI.”

Secara strategis, GTC 2026 memperkuat tesis bahwa Nvidia tidak lagi sekadar menjual GPU, melainkan membangun ekosistem komputasi AI yang sepenuhnya terintegrasi dari silikon hingga perangkat lunak. Konsep “Sovereign AI” yang diangkat Jensen Huang mencerminkan tren geopolitik di mana berbagai negara berlomba membangun pabrik AI domestik demi ketahanan data dan daya saing ekonomi, dengan Vera Rubin NVL72 dan NVL144 sebagai solusi siap pakai yang ditawarkan kepada pemerintah-pemerintah tersebut.

Transisi dari “System 1 AI” — yang cepat namun rentan halusinasi — menuju “System 2 AI” yang bersifat deliberatif dan multi-langkah menjadi narasi sentral keynote, sebagaimana dianalisis FinancialContent. Physical AI turut menjadi tema dominan, di mana Nvidia memproyeksikan chip Rubin sebagai “otak” bagi robot humanoid dan pabrik industri otonom yang akan membanjiri dunia dalam beberapa tahun mendatang. GTC 2026 berlangsung hingga 19 Maret 2026 dengan lebih dari 700 sesi teknis di sepuluh venue di pusat kota San Jose, California.

Berita Terkait