02 December 2025, 23:23

Netizen Hajar Aksi Zulhas Pikul Beras di Padang: “Pencitraan Kelas Minyak Goreng”

Kunjungan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) ke lokasi bencana banjir di Padang, Sumatera Barat, memantik reaksi keras di jagat maya.

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
1,362
Netizen Hajar Aksi Zulhas Pikul Beras di Padang: “Pencitraan Kelas Minyak Goreng”
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, saat memikul beras bantuan untuk korban banjir di Padang, Sumatera Barat. (Dok. Kemenko Pangan)

Perspektif.co.id - Kunjungan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) ke lokasi bencana banjir di Padang, Sumatera Barat, memantik reaksi keras di jagat maya. Alih-alih menuai simpati, unggahan video kegiatannya di media sosial justru dibanjiri belasan ribu komentar yang menilai aksinya sekadar panggung pencitraan di tengah duka warga Sumatera.

Dalam video yang dibagikan di akun resminya, Zulhas tampak memanggul sekarung beras di bahunya sambil berjalan menyapa warga terdampak banjir. Di tengah kerumunan, ia menyampaikan janji bantuan kepada para korban.

“Nanti ada bantuan dari saya pribadi. Untuk tambahan modal usaha. Pemerintah juga akan membantu membangun kembali rumah-rumah yang rusak,” ucap Zulhas kepada warga yang mengerubunginya.

Namun, gestur memikul beras di depan kamera itu justru dibaca berbeda oleh banyak warganet. Di kolom komentar, hujatan berdatangan, menyebut aksi tersebut tidak menyentuh akar persoalan dan hanya berhenti di simbolik.

“Pencitraan kelas minyak goreng,” tulis akun Boxxxx menyindir, merujuk pada kontroversi lama seputar minyak goreng.

“Judul sinetronnya apa ini min?” komentar akun Mataxxxxx dengan nada mengejek.

Tak sedikit pula yang menuding momen itu sebagai adegan yang sengaja disiapkan tim media. “Tuh kaaannn…. benerrrrr… ‘tim konten kreator’-nya sudah ready baru beliau turun. Fotografer, make up artist, stuntman, pengawal, belanja dulu… terus shooting deh,” tulis seorang netizen, menggambarkan kunjungan tersebut bak set syuting.

Dosa Lama sebagai Menhut Diungkit Lagi

Kritik publik tidak berhenti pada tudingan pencitraan. Di berbagai platform, warganet kembali menyeret rekam jejak Zulhas saat menjabat Menteri Kehutanan periode 2009–2014 dan mengaitkannya dengan banjir yang melanda sejumlah daerah di Sumatera.

Banyak yang menuding banjir bandang dan kerusakan lingkungan saat ini merupakan dampak jangka panjang dari kebijakan perizinan kehutanan dan alih fungsi kawasan hutan yang marak pada era tersebut. Banjir yang terjadi kini dianggap sebagai “warisan” kebijakan masa lalu.

Bahkan, cuplikan lama saat aktor Hollywood Harrison Ford memarahi Zulhas terkait kondisi Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) kembali beredar dan dijadikan bahan serangan.

“Anda tau pas jadi Menteri Kehutanan bagaimana jawaban Anda waktu ditanya soal hutan? Sangat tidak layak jawaban seorang menteri. Sekarang lihat sendiri hasilnya… Indonesia bukan lagi zamrud khatulistiwa, tapi negara yang tidak peduli rakyatnya,” sindir akun Iqbxxxxx.

Komentar bernada serupa terus mengalir, menyebut bahwa apa yang terjadi hari ini adalah konsekuensi kebijakan masa lalu.

“Wah hebat kali bapak ini pencitraannya. Dia yang ngerusak hutan, dia juga yang pura-pura peduli,” tulis salah satu pengguna.

“Bapak kan termasuk yang bertanggung jawab atas kerusakan hutan. Beras sepikul nggak ada apa-apanya. Mending banyak-banyak istigfar, Pak,” kata netizen lain.

Ada juga komentar yang menyindir pedas secara ironis. “Menteri Kehutanan periode 2009-2014 ikut merasa berempati dan bertanggung jawab dengan cara memikul beras di punggungnya,” tulis seorang warganet, menegaskan kekecewaan terhadap cara pejabat menunjukkan empati.

Gelombang kritik tersebut memperlihatkan jarak antara cara pemerintah menampilkan kepedulian di ruang publik dengan persepsi warga yang sudah lama menyimpan catatan terhadap kebijakan lingkungan. Di tengah bencana banjir besar di Sumatera, aksi simbolik pejabat justru diuji oleh memori kolektif publik soal siapa yang ikut bertanggung jawab atas rusaknya hutan dan tata ruang.

Berita Terkait