05 July 2026, 18:22

Gempar Isu PHK 90 Persen Karyawan Tokopedia, TikTok Akhirnya Buka Suara ke Publik

Isu PHK 90% karyawan Tokopedia gegerkan medsos, TikTok akhirnya buka suara soal restrukturisasi R&D dan nasib ribuan Nakama pasca akuisisi ByteDance.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
85
Gempar Isu PHK 90 Persen Karyawan Tokopedia, TikTok Akhirnya Buka Suara ke Publik
Isu PHK 90 persen karyawan Tokopedia mencuat usai akuisisi ByteDance, TikTok pastikan tetap berkomitmen investasi kembangkan ekosistem e-commerce di Indonesia. (Foto: Ilustrasi)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Jagat media sosial Indonesia dihebohkan oleh kabar Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran di tubuh Tokopedia pada awal Juli 2026. Sebuah unggahan di akun Instagram @ecommurz menyebut ByteDance selaku induk usaha TikTok telah memangkas hingga 90 persen karyawan platform e-commerce berlogo hijau tersebut, hanya menyisakan sekitar 10 persen dari total tenaga kerja yang ada.

Menanggapi derasnya spekulasi yang beredar liar di media sosial, manajemen TikTok akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi kepada media pada Kamis, 2 Juli 2026. Perusahaan tidak membantah maupun mengonfirmasi secara spesifik angka 90 persen tersebut, namun mengakui tengah melakukan penyesuaian besar pada struktur organisasi riset dan pengembangan (R&D).

“Kami tengah menyelaraskan organisasi riset dan pengembangan pada ranah yang dapat mendorong pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan bagi bisnis kami, komunitas kreator, dan penjual di platform kami,” ujar Juru Bicara TikTok dalam keterangan tertulis kepada detikcom.

Sebagai informasi, TikTok resmi menjadi pemegang saham mayoritas Tokopedia usai mengakuisisi 75 persen saham perusahaan tersebut dari PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk pada akhir 2023 lalu, dengan sisa 24,99 persen saham masih dipegang GoTo hingga kini. Sejak transisi kepemilikan itu, Tokopedia yang telah berusia 17 tahun tercatat mengalami efisiensi karyawan besar-besaran hampir setiap tahun.

Narasumber internal yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa unit teknologi menjadi divisi yang paling terdampak dalam gelombang PHK kali ini. Sebelum diakuisisi, divisi teknologi Tokopedia memiliki sekitar 1.100 karyawan, namun kini tersisa hanya sekitar 35 orang saja setelah lebih dari 450 karyawan dirumahkan dalam batch PHK terakhir.

“Dulu sebelum diambil ByteDance, karyawan teknologi ada 1.100 orang. Dalam batch terakhir, tim tech 500-an kena PHK. Sekarang tim tech sisa 35 orang,” kata sumber tersebut kepada CNBC Indonesia.

Akibat perampingan ini, seluruh pengelolaan teknologi di balik platform Tokopedia dan TikTok Shop dilaporkan kini sepenuhnya dialihkan ke tim ByteDance yang berbasis di China, sementara karyawan lokal yang tersisa mayoritas berada di unit bisnis serta divisi trust and safety.

Gelombang PHK bukan kali pertama menimpa Tokopedia sejak berada di bawah kendali TikTok. Pada Juni 2024, sekitar enam bulan pasca-akuisisi, ByteDance memangkas 450 karyawan Tokopedia sebagai bagian dari upaya penggabungan operasional dengan TikTok Shop yang disebut menelan biaya hingga US$1,5 miliar atau setara Rp24,6 triliun.

“Menyusul penggabungan TikTok dengan Tokopedia, kami telah mengidentifikasi beberapa area yang perlu diperkuat dalam organisasi dan menyelaraskan tim kami agar sesuai dengan tujuan perusahaan,” kata Direktur Corporate Affairs Tokopedia dan ShopTokopedia, Nuraini Razak, saat itu.

Gelombang efisiensi berlanjut lagi pada pertengahan 2025, di mana sumber internal menyebut manajemen menilai struktur karyawan Tokopedia sudah terlalu gemuk sehingga perlu dipangkas hingga tersisa ratusan orang saja. Rangkaian PHK berulang ini pada akhirnya bermuara pada isu 90 persen yang mencuat awal Juli 2026 dan memicu kekhawatiran publik.

Di sisi lain, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk turut memberikan tanggapan resmi kepada Bursa Efek Indonesia terkait rencana penyesuaian organisasi tersebut.

“Perseroan sebagai pemegang saham sebesar 24,99 persen di PT Tokopedia menghormati setiap langkah yang diambil atau akan diambil oleh manajemen PT Tokopedia sehubungan dengan rencana penyesuaian organisasi,” kata Direktur GOTO, Simon Tak Leung Ho, dalam suratnya kepada BEI.

Meski kepemilikan GoTo di Tokopedia terdilusi menjadi minoritas, perusahaan tetap menerima kas dari imbalan jasa e-commerce yang nilainya naik 32 persen, dari Rp622 miliar pada 2024 menjadi Rp820 miliar pada 2025. Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) turut buka suara, menyatakan belum menerima penjelasan resmi dan menilai isu ini murni masalah internal perusahaan.

“Dari sisi idEA, kami belum menerima penjelasan resmi terkait isu tersebut, sehingga tidak pada posisi untuk mengomentari angka maupun kebijakan internal perusahaan,” jelas Ketua Umum idEA, Budi Primawan, kepada detikcom.

Di tengah gelombang PHK ini, posisi Tokopedia di peta persaingan e-commerce Asia Tenggara juga tercatat melemah. Berdasarkan laporan Ecommerce in Southeast Asia 2026 dari Momentum Works, GMV Tokopedia pada 2025 hanya mencapai US$9 miliar atau sekitar Rp147,6 triliun, jauh di bawah Shopee yang membukukan US$83,2 miliar.

Namun jika digabungkan dengan kekuatan TikTok Shop yang mencatat GMV US$45,6 miliar atau setara Rp748,4 triliun, gabungan kedua platform ini disebut mampu menyamai 65,7 persen dari total pangsa pasar Shopee di kawasan. TikTok menegaskan komitmennya untuk tetap berinvestasi mengembangkan ekosistem Tokopedia di Indonesia meski tengah menjalani transisi organisasi besar-besaran.

“Kami akan terus berinvestasi untuk menjadikan Tokopedia sebagai platform yang lebih baik bagi pengguna dan penjual kami, serta terus memberdayakan pelaku usaha lokal dalam membangun ekosistem e-commerce yang berkelanjutan di Indonesia,” tandas Juru Bicara TikTok.

Berita Terkait