JAKARTA, Perspektif.co.id - Serial live action One Piece dipastikan berlayar lebih jauh. Platform streaming mengumumkan produksi Season 3 akan segera digelar di Cape Town, Afrika Selatan, meski musim keduanya baru akan tayang pada 10 Maret 2026. Keputusan ini menegaskan kepercayaan tinggi terhadap waralaba adaptasi manga legendaris karya Eiichiro Oda tersebut.
Sejumlah nama yang sudah diperkenalkan di musim kedua juga langsung dipastikan berlanjut ke musim ketiga. Mikaela Hoover yang memerankan Chopper, Joe Manganiello sebagai Mr. 0, Lera Abova sebagai Miss All Sunday, serta Sendhil Ramamurthy yang berperan sebagai Nefartari Cobra, seluruhnya disebut tetap terikat dalam jajaran pemain Season 3.
Deretan bintang utama One Piece live action pun tetap dipertahankan. Iñaki Godoy (Luffy), Mackenyu (Zoro), Emily Rudd (Nami), Jacob Romero (Usopp), dan Taz Skylar (Sanji) kembali menggalang kru Topi Jerami untuk petualangan terbaru di lautan Grand Line. Pihak produksi menegaskan kontinuitas ini penting demi menjaga konsistensi karakter dan kedekatan emosional dengan penonton.
Produksi musim terbaru juga dibumbui kehadiran wajah-wajah baru. Charithra Chandran bakal tampil sebagai Miss Wednesday, sementara Cole Escola bergabung di Season 3 memerankan Bon Clay. Xolo Maridueña, yang sebelumnya dikenal publik lewat peran di beberapa judul populer, dipercaya memainkan karakter Portgas D. Ace. Penambahan ini diharapkan memperkaya dinamika cerita dan memperluas semesta One Piece dalam format live action.
Adapun Season 2 One Piece mengusung judul resmi “One Piece: Into the Grand Line”. Musim ini dijanjikan menghadirkan petualangan “yang lebih ganas dan berbahaya” dibanding musim sebelumnya, dengan skala konflik dan tantangan yang kian meningkat bagi kru Topi Jerami.
“Luffy dan kru Topi Jerami berlayar menuju Grand Line, bentangan laut legendaris di mana bahaya dan keajaiban muncul dari segala penjuru,” demikian deskripsi resmi yang dirilis Netflix. Mereka menegaskan bahwa lautan baru yang dijelajahi bukan sekadar latar, melainkan arena penuh jebakan yang menguji keberanian dan tekad tiap karakter.
Dalam kelanjutan penjelasan, layanan streaming tersebut menggambarkan bahwa para bajak laut muda ini akan mendatangi pulau-pulau unik sekaligus berhadapan dengan sejumlah musuh baru yang jauh lebih tangguh.
“Saat mereka melangkah ke wilayah yang belum pernah dijamah, demi mencari harta karun terbesar di dunia, berbagai pulau misterius dan lawan-lawan kuat sudah menunggu,” tertulis dalam keterangan itu.
Di balik layar, kursi showrunner, penulis, dan produser eksekutif untuk Season 2 masih diisi oleh Matt Owens dan Joe Tracz. Untuk Season 3, Joe Tracz akan kembali memegang peran penting tersebut, kali ini bersama Ian Stokes. Pergantian dan penyesuaian komposisi tim kreatif ini diharapkan mampu menjaga kualitas adaptasi sekaligus menyuntikkan ide-ide segar dalam penuturan cerita.
Kreator asli One Piece, Eiichiro Oda, tetap terlibat sebagai produser eksekutif. Ia berkolaborasi dengan Marty Adelstein dan Becky Clements dari Tomorrow Studios, serta sejumlah nama lain seperti Tetsu Fujimura, Chris Symes, Christoph Schrewe, dan Steven Maeda. Keterlibatan Oda di level eksekutif dipandang sebagai jaminan bahwa ruh dan esensi kisah asli tetap terjaga dalam versi live action.
Joe Tracz sebelumnya juga sempat membeberkan salah satu fokus cerita di One Piece Season 2. Ia menyebut kru Topi Jerami akan mengunjungi Drum Island, sebuah pulau di Grand Line yang dikenal dengan dokter-dokter andal dan musim dingin yang tak pernah berakhir. Pegunungan tinggi berbentuk silinder mengelilingi Kerajaan Drum, dengan Kastil Drum yang menjulang di puncak tertinggi, menambah nuansa kelam dan mistis dalam perjalanan Luffy cs.
“Drum Island adalah pulau musim dingin kami, semacam versi Winterfell abad pertengahan dalam dunia One Piece,” ujar Joe Tracz,
menggambarkan atmosfer lokasi tersebut. Ia menambahkan, kastil megah yang tampak angker di puncak gunung bersalju itu dihuni sosok yang oleh penduduk desa disebut-sebut sebagai ‘penyihir’, menegaskan nuansa gelap dan penuh intrik yang akan dihadapi kru Topi Jerami.
Tracz mengingatkan bahwa Season 1 sebenarnya sudah mengarahkan jalur cerita menuju Grand Line. Di musim kedua, janji itu ditepati secara penuh, baik dari sisi alur maupun skala produksi. “Di akhir musim pertama, karakter-karakter kami mengikat janji di sekeliling tong untuk mengejar mimpi mereka. Di Musim 2, mimpi-mimpi itu benar-benar kami uji,” katanya.
Ia menyebut setiap pulau di Grand Line akan menjadi medan ujian bagi masing-masing anggota kru.
“Setiap pulau yang mereka singgahi akan menantang salah satu Topi Jerami dengan cara yang berbeda, dan pelan-pelan mereka belajar bahwa untuk mewujudkan mimpi, mereka tidak bisa berjalan sendiri. Mereka harus saling bergantung,” tutur Tracz,
menandai bahwa aspek persahabatan dan kerja sama tetap menjadi jantung dari serial ini, di tengah skala produksi yang kian megah.