TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Raksasa perangkat keras asal Taiwan, MSI, resmi mengumumkan rencana kenaikan harga seluruh lini produk gaming mereka antara 15 hingga 30 persen sepanjang tahun fiskal 2026, menyusul krisis kelangkaan memori global yang dipicu oleh lonjakan permintaan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Pengumuman tersebut disampaikan langsung oleh ko-pendiri sekaligus eksekutif senior MSI, Huang Jinqing, kepada para investor dalam briefing terbaru perusahaan, sebagaimana dilaporkan oleh NotebookCheck dan NeoGAF.
MSI saat ini hanya memiliki stok chip DRAM untuk kebutuhan dua bulan ke depan, sementara Samsung dan SK Hynix enggan menandatangani kontrak pasokan jangka panjang. Situasi ini diperparah oleh fakta bahwa kapasitas produksi wafer ketiga produsen memori terbesar dunia tersebut semakin banyak dialihkan ke segmen High Bandwidth Memory (HBM) untuk server AI, sehingga suplai DRAM konsumer semakin tergerus. Dorongan permintaan di sektor AI telah memicu kelangkaan global pada produk semikonduktor seperti memori, SSD, dan kartu grafis, yang membuat harganya melonjak drastis.
HP mengungkapkan dalam earnings call Q1 2026 pada 25 Februari lalu bahwa memori kini menyumbang 35 persen dari total biaya bahan baku PC, melonjak dari posisi 15 hingga 18 persen pada kuartal sebelumnya. CFO HP, Karen Parkhill, menyebut biaya memori meningkat hampir 100 persen secara berurutan dari Q1 ke Q2, dengan proyeksi kenaikan lebih lanjut hingga akhir tahun. Kondisi ini menjadikan memori sebagai komponen tunggal paling mahal dalam rantai produksi PC saat ini, melampaui prosesor maupun layar.
“Kami melihat lonjakan biaya yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh industri, khususnya pada memori dan SSD. Kenaikannya jauh lebih dramatis dari biasanya—melampaui kemampuan siapapun untuk menanggungnya,” kata eksekutif Lenovo, Marco Andresen, kepada The Register.
MSI memperkirakan tren kenaikan biaya manufaktur dan penurunan volume penjualan akan berlanjut sepanjang fiskal 2026, dengan proyeksi penyusutan pengiriman pasar PC secara keseluruhan sebesar 10 hingga 20 persen. Untuk mengimbangi dampak tersebut terhadap pendapatan, MSI berencana menaikkan harga satuan produknya, terutama produk gaming sebesar 15 hingga 30 persen, sekaligus memangkas proporsi produk bermargin rendah sebesar 30 persen dan mengalihkan fokus ke segmen gaming dan bisnis kelas menengah-atas.
MSI juga berencana mengubah strategi peluncuran kartu grafisnya secara signifikan dengan mengurangi produksi GPU generasi Blackwell dan berfokus pada varian premium. Dalam skenario ini, RTX 5050 berisiko ditinggalkan karena margin tipis, sementara GeForce RTX 5070, RTX 5080, dan RTX 5090 yang harganya sudah melonjak diprediksi akan semakin mahal. Sebagai solusi alternatif bagi konsumen, laporan dari Economic Daily Taiwan menyebut MSI berencana menghidupkan kembali motherboard dengan dukungan memori DDR4 generasi lama, guna menawarkan opsi lebih terjangkau di tengah harga DDR5 yang berubah setiap harinya.
IDC kini memperkirakan pengiriman PC global akan anjlok 11,3 persen pada 2026 dibandingkan 2025, revisi tajam dari proyeksi penurunan 2,4 persen yang dibuat November 2025—setara dengan kehilangan 32,17 juta unit secara absolut. Meski demikian, nilai pasar PC justru diproyeksikan meningkat ke angka 274 miliar dolar AS (sekitar Rp4.452 triliun) berkat kenaikan harga jual rata-rata. IDC memperingatkan bahwa kelangkaan memori akan bertahan hingga jauh ke 2027, dan harga pasar kemungkinan tidak akan kembali ke level 2025.
Di ajang GDC 2026, Valve dilaporkan berkelakar soal sulitnya memperoleh RAM untuk konsol Steam Machine mereka di tengah krisis ini, sementara Nvidia dan Microsoft turut memamerkan berbagai alat bantu bagi pengembang untuk mengoptimalkan kinerja perangkat lunak di bawah keterbatasan memori yang semakin ketat, sebagaimana dicatat Perplexity dari berbagai sumber. Vendor PC besar seperti Lenovo, Dell, HP, Acer, dan ASUS telah memberikan sinyal kenaikan harga 15 hingga 20 persen secara luas, mengonfirmasi respons industri yang bersifat menyeluruh terhadap tekanan biaya yang terus menguat sepanjang paruh kedua 2026.