07 March 2026, 14:43

MacBook Pro M5 Pro vs M5 Max: Benchmark Gila, Selisih Harga Rp6 Juta Lebih Worth It?

MacBook Pro M5 Pro vs M5 Max: benchmark Geekbench, GPU, AI, harga rupiah, dan siapa yang paling diuntungkan.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
425
MacBook Pro M5 Pro vs M5 Max: Benchmark Gila, Selisih Harga Rp6 Juta Lebih Worth It?
Ilustrasi chip Apple M5 Pro dan M5 Max menyoroti perbedaan performa CPU, GPU, dan AI dalam benchmark terbaru. (Sumber: apple.com)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Apple resmi menggeser lagi batas performa laptop lewat chip M5 Pro dan M5 Max di lini MacBook Pro 14 dan 16 inci, dan hasil benchmark awal yang beredar di Geekbench serta pengujian independen menunjukkan lompatan yang jauh lebih agresif dibanding generasi M4. Di tengah hype AI lokal di perangkat dan kebutuhan kreator konten yang makin berat, pertanyaannya sederhana tapi krusial: seberapa besar bedanya M5 Pro dan M5 Max di dunia nyata, dan apakah upgrade ratusan dolar itu benar-benar terbayar?

Data awal yang muncul di Geekbench 6 untuk MacBook Pro 16 inci dengan M5 Max mencatat skor sekitar 4.268 untuk single-core dan 29.233 untuk multi-core, menempatkannya di puncak basis data Geekbench, mengalahkan M3 Ultra dengan CPU 32‑core dan bahkan prosesor desktop kelas atas dari Intel dan AMD. Sementara itu, M5 Pro dengan konfigurasi 18‑core CPU berada sedikit di bawahnya, tetapi masih melampaui M4 Max di banyak skenario multi-core. Artinya, di level CPU murni, Apple tidak hanya mengalahkan generasi sebelumnya, tetapi juga menekan kompetitor PC tradisional di segmen performa per watt.

Seorang analis yang mengulas hasil awal ini menyebut bahwa skor multi-core M5 Max yang menembus hampir 30.000 poin membuatnya “secara praktis menjadi chip konsumen tercepat di pasar saat ini, bahkan sebelum varian Ultra dirilis.”

Di sisi arsitektur, M5 Pro dan M5 Max bukan sekadar versi “dibesarkan” dari M5 biasa. Apple memperkenalkan apa yang mereka sebut sebagai Fusion Architecture, yang menggabungkan dua die silikon dalam satu SoC. Satu die menangani CPU 18‑core, Neural Engine 16‑core, SSD, Thunderbolt 5, dan kontrol display; die kedua fokus pada GPU dan memori. Pada M5 Pro, die GPU menyediakan hingga 20 core grafis dengan satu media engine dan bandwidth memori hingga sekitar 307 GB/s. Pada M5 Max, die GPU ini pada dasarnya “digandakan” menjadi hingga 40 core GPU, dua media engine, dan bandwidth memori yang melonjak hingga sekitar 614 GB/s.

Apple menegaskan bahwa konfigurasi CPU baru dengan enam “super core” dan 12 core performa ini memberikan peningkatan hingga 30% di beban kerja profesional multithread dibanding generasi sebelumnya.

Yang menarik, baik M5 Pro maupun M5 Max memakai struktur CPU 18‑core yang sama: enam super core dengan single-thread paling kencang dan 12 core performa untuk tugas paralel. Itu berarti, untuk tugas yang hanya memanfaatkan satu atau beberapa thread—seperti sebagian besar aplikasi produktivitas, coding ringan, atau browsing—performa keduanya nyaris identik. Kesenjangan baru terasa ketika workload mulai menekan semua core sekaligus, seperti rendering 3D, kompilasi proyek raksasa, atau simulasi ilmiah.

Di ranah GPU dan AI, M5 Max mulai menunjukkan jarak yang jauh lebih lebar. Benchmark Metal di Geekbench mencatat skor GPU M5 Max di kisaran 218.000–232.000, hanya terpaut sekitar 5–10% dari M3 Ultra dengan GPU 80‑core, meski jumlah core M5 Max hanya separuhnya. Ini menunjukkan bahwa optimasi arsitektur GPU generasi baru, dynamic caching, mesh shading, dan ray tracing generasi ketiga benar-benar dimaksimalkan. Untuk M5 Pro, skor GPU berada di bawah M5 Max, tetapi masih menawarkan peningkatan sekitar 20–35% dibanding M4 Pro di workload grafis berat.

Seorang pengulas menyimpulkan bahwa “M5 Max secara efektif membawa performa kelas desktop ke form factor laptop, terutama untuk pipeline 3D dan editing video multi-stream resolusi tinggi.”

Kapasitas dan bandwidth memori juga menjadi pembeda besar. M5 Pro mendukung hingga 64 GB unified memory dengan bandwidth sekitar 307 GB/s, cukup untuk mayoritas kreator konten, developer, dan pengguna pro yang menangani editing 4K, coding besar, atau workflow AI menengah. M5 Max melompat ke dukungan hingga 128 GB unified memory dengan bandwidth dua kali lipat, sekitar 614 GB/s, yang sangat krusial untuk model AI besar, simulasi kompleks, dan proyek 3D skala studio. Di era di mana LLM dan inferensi lokal mulai menjadi bagian workflow harian, bottleneck memori ini sering kali lebih menentukan daripada sekadar jumlah core.

Di sisi AI, kedua chip membawa Neural Engine 16‑core yang lebih cepat dan, yang lebih penting, Neural Accelerator di setiap core GPU. Kombinasi ini membuat beban kerja AI bisa dialihkan ke GPU dengan efisiensi jauh lebih tinggi, memberikan lonjakan hingga lebih dari 4x compute AI puncak dibanding generasi sebelumnya. Untuk pengembang yang menjalankan model bahasa besar secara lokal, peneliti yang menguji arsitektur baru, atau studio yang mengandalkan inferensi real-time, M5 Max jelas menawarkan headroom yang jauh lebih lega.

Dari sisi produk, MacBook Pro 14 inci dengan M5 Pro dibanderol mulai sekitar US$2.199, atau kira-kira Rp35 juta lebih (sekitar Rp35,2 juta jika dikonversi kasar dengan kurs Rp16.000 per dolar AS). Varian 16 inci dengan M5 Pro mulai sekitar US$2.699, yang setara kurang lebih Rp43,2 juta. Konfigurasi M5 Max menambah ratusan dolar lagi di atas harga tersebut, membuat selisih harga upgrade ke M5 Max berada di kisaran lebih dari Rp6 juta, tergantung konfigurasi memori dan storage.

Seorang jurnalis teknologi mencatat bahwa “bagi 80–90% kreator, M5 Pro sudah lebih dari cukup, tetapi M5 Max adalah mesin yang dirancang untuk mereka yang setiap menit waktu render berarti uang.”

Analisis benchmark dunia nyata yang menggabungkan Geekbench, uji kompilasi Xcode, dan rendering video menunjukkan pola yang konsisten: untuk tugas CPU-bound murni seperti kompilasi kode besar, M5 Max hanya menghemat sekitar 15–20% waktu dibanding M5 Pro. Dalam skenario di mana build time lima menit dipangkas menjadi sekitar empat menit, perbedaan ini mungkin terasa kecil bagi freelancer individu, tetapi bisa sangat signifikan bagi studio yang menjalankan build berulang sepanjang hari.

Sebaliknya, di workload GPU dan AI berat—rendering 3D kompleks, simulasi fisika, training model AI lokal, atau editing video 8K multi-layer—M5 Max mulai menunjukkan keunggulan yang jauh lebih dramatis. Bandwidth memori yang dua kali lipat dan jumlah core GPU yang lebih banyak membuat frame rate lebih stabil, waktu render turun signifikan, dan model AI bisa dijalankan dengan batch size lebih besar tanpa kehabisan memori.

Apple sendiri memposisikan M5 Pro sebagai “sweet spot” untuk mayoritas pengguna profesional, sementara M5 Max ditargetkan untuk segmen yang sangat spesifik: seniman 3D, rumah produksi, peneliti AI, dan tim engineering yang benar-benar memeras setiap core dan setiap gigabyte bandwidth.

Secara desain sistem, MacBook Pro M5 Pro dan M5 Max juga membawa peningkatan lain yang memperkuat narasi “laptop workstation”: dukungan Thunderbolt 5 untuk throughput data yang jauh lebih tinggi, SSD dengan kecepatan baca/tulis hingga sekitar 14,5 GB/s, Wi‑Fi 7 dan Bluetooth 6 lewat chip N1, serta opsi unified memory yang dimulai dari 24 GB. Kombinasi ini membuat laptop-laptop ini bukan hanya cepat di benchmark sintetis, tetapi juga siap untuk workflow masa depan yang serba terhubung dan sarat data.

Bagi pengguna di Indonesia, implikasinya cukup jelas: jika pekerjaan sehari-hari berkutat pada editing video 4K, coding, desain grafis, dan sesekali render berat, M5 Pro sudah menawarkan performa yang sangat tinggi dengan harga yang masih “masuk akal” untuk kelas MacBook Pro. Namun jika Anda bermain di ranah VFX, animasi 3D skala besar, atau riset AI yang menuntut model besar berjalan lokal, M5 Max adalah investasi yang lebih rasional meski selisih harganya terasa tajam di rupiah.

Pada akhirnya, benchmark M5 Pro dan M5 Max menunjukkan satu hal: Apple tidak lagi sekadar mengejar efisiensi, tetapi secara agresif mengincar mahkota performa absolut di laptop, sambil menjadikan AI dan GPU sebagai pusat strategi silikon mereka. Pertarungan berikutnya tinggal menunggu M5 Ultra dan respons dari kubu x86—tetapi untuk saat ini, di ranah MacBook Pro, M5 Max adalah standar baru yang sulit dikejar.

Berita Terkait