08 March 2026, 02:52

Lebih dari 1.000 Pegawai Google Terjebak di Dubai Saat Serangan Iran Meletus

Lebih dari 1.000 pegawai Google terjebak di Dubai saat konflik Iran meledak, memicu penutupan kantor Nvidia, gangguan AWS, dan 11.000 penerbangan dibatalkan.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
757
Lebih dari 1.000 Pegawai Google Terjebak di Dubai Saat Serangan Iran Meletus
Ilustrasi pesawat terparkir di bandara Dubai saat lebih dari 1.000 pegawai Google terjebak akibat serangan Iran yang memicu pembatalan ribuan penerbangan dan gangguan operasi teknologi. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang industri teknologi global setelah lebih dari seribu pegawai Google yang menghadiri konferensi penjualan di Dubai tidak dapat pulang akibat pecahnya serangan balasan Iran terhadap Amerika Serikat dan Israel. Gangguan perjalanan masif membuat kawasan itu lumpuh dan memaksa perusahaan teknologi besar mengubah operasi mereka dalam hitungan jam.

Menurut laporan internasional, ribuan penerbangan di seluruh Timur Tengah dibatalkan setelah gelombang serangan udara memicu penutupan wilayah udara dan pembatasan keamanan ekstrem. Situasi tersebut membuat sebagian besar staf Google yang berada di Dubai terjebak tanpa kepastian jadwal kepulangan.

Dalam pernyataan internal yang dikutip media, Google menegaskan bahwa mayoritas pegawai yang terdampak merupakan staf regional yang bekerja di pusat operasi cloud dan penjualan untuk kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

“Sebagian besar karyawan kami di Dubai masih menunggu kepastian penerbangan setelah gangguan besar-besaran di wilayah tersebut,” ujar sumber internal Google yang dikutip CNBC.

Sementara itu, perusahaan teknologi lain juga mengambil langkah darurat. Nvidia menutup sementara kantor Dubai dan memindahkan seluruh aktivitas ke mode kerja jarak jauh. CEO Jensen Huang menyampaikan bahwa tim manajemen krisis perusahaan bekerja tanpa henti untuk memastikan keselamatan ribuan pegawai mereka di kawasan tersebut, termasuk sekitar 6.000 staf yang berbasis di Israel.

“Kami terus memantau situasi dan mendukung seluruh karyawan serta keluarga mereka yang terdampak,” tulis Huang dalam memo internal yang dilaporkan CNBC.

Amazon mengambil langkah serupa dengan memerintahkan seluruh pegawai korporat di Timur Tengah untuk bekerja dari rumah. Namun situasi menjadi lebih serius ketika dua pusat data AWS di Uni Emirat Arab dilaporkan terkena serangan drone secara langsung, sementara satu fasilitas lain di Bahrain mengalami kerusakan akibat ledakan di area sekitar. Insiden tersebut menyebabkan layanan AWS di kawasan itu mengalami gangguan berkepanjangan.

Reuters menyebut serangan terhadap pusat data AWS di UEA merupakan insiden pertama yang secara langsung mengenai infrastruktur cloud milik perusahaan teknologi besar dalam konteks konflik militer.

Di tengah eskalasi tersebut, lebih dari 11.000 penerbangan di kawasan Timur Tengah dibatalkan, menurut data Cirium, membuat ribuan pekerja asing dan pelancong terjebak di berbagai bandara.

Kawasan Teluk selama ini menjadi pusat ekspansi perusahaan teknologi global, terutama untuk layanan cloud dan kecerdasan buatan. Namun serangan terbaru ini menimbulkan kekhawatiran baru mengenai keamanan infrastruktur digital di wilayah yang menjadi jalur strategis geopolitik dunia.

Berita Terkait