12 December 2025, 16:40

La Nina Mengintai Libur Nataru, BMKG Peringatkan Hujan Ekstrem di Sejumlah Daerah

Salah satu pemicu utamanya adalah mulai aktifnya fenomena La Nina, yang ikut “menggemukkan” awan hujan di berbagai daerah.

Reporter: Anggi Ranf
Editor: Zainur Akbar
1,951
La Nina Mengintai Libur Nataru, BMKG Peringatkan Hujan Ekstrem di Sejumlah Daerah
BMKG memperingatkan curah hujan tinggi menjelang Nataru 2025/2026 akibat La Nina. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Perspektif.co.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi curah hujan tinggi hingga sangat tinggi di sejumlah wilayah Indonesia menjelang periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Salah satu pemicu utamanya adalah mulai aktifnya fenomena La Nina, yang ikut “menggemukkan” awan hujan di berbagai daerah.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, pada periode Nataru 2025/2026, atmosfer Indonesia tidak hanya dipengaruhi La Nina, tetapi juga sistem skala besar lain seperti Monsun Asia, Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang atmosfer, hingga potensi bibit siklon maupun siklon tropis yang bermigrasi di sekitar perairan Indonesia.

“Pengaruh La Nina lemah yang berinteraksi dengan Indian Ocean Dipole (IOD) negatif turut mengangkat potensi intensitas curah hujan, terutama mulai pekan kedua Desember 2025 sampai pekan pertama Januari 2026,” ujar Faisal dalam keterangan resminya, Senin (8/12).

BMKG memprakirakan sejumlah wilayah akan mengalami curah hujan tinggi hingga sangat tinggi, dengan akumulasi sekitar 300–500 milimeter per bulan pada Desember 2025 hingga Januari 2026. Zona yang dinilai paling berisiko meliputi sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi Selatan, dan Papua Selatan.

Adapun Kalimantan, secara klimatologis, memang berada dalam pola musim hujan hampir sepanjang tahun. Namun, kombinasi faktor global dan regional yang aktif membuat potensi hujan lebat di wilayah ini juga perlu diwaspadai, terutama pada kawasan rawan banjir dan longsor.

Faisal menambahkan, puncak musim hujan di Lampung, Bengkulu, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara diperkirakan berlangsung pada Januari hingga Februari 2026. Sementara itu, sebagian besar wilayah Sumatera—kecuali Bengkulu dan Lampung—diprediksi mengalami puncak musim hujan lebih awal, yaitu pada Desember 2025.

“Informasi ini penting diperhitungkan dalam perencanaan dan penguatan langkah antisipatif menjelang libur akhir tahun, baik oleh pemerintah daerah, pelaku usaha, maupun masyarakat yang akan bepergian,” kata Faisal.

Selain La Nina dan IOD, BMKG juga menyoroti pengaruh gelombang atmosfer Rossby dan Kelvin yang sedang aktif. Keduanya berkontribusi terhadap peningkatan pembentukan awan hujan di kawasan Sumatera bagian selatan, Jawa, dan Papua.

Di saat yang sama, MJO yang melintas di sekitar wilayah Indonesia ikut menyuntik energi tambahan untuk pertumbuhan awan konvektif. “MJO berperan meningkatkan peluang hujan intensitas tinggi sampai sangat tinggi, terutama di Jawa, Kalimantan, serta sebagian wilayah Sulawesi dan Papua,” papar Faisal.

BMKG juga mencatat keberadaan bibit siklon yang terpantau di sekitar Indonesia dan terus diawasi oleh Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) BMKG. Meski belum semua sistem berkembang menjadi siklon tropis, efek tidak langsung berupa hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi sudah mulai dirasakan di beberapa perairan.

Sebagai respons awal, BMKG telah mengirimkan imbauan kewaspadaan dini kepada pemerintah provinsi dan Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika di wilayah yang dinilai berpotensi terdampak peningkatan curah hujan. Daerah yang mendapatkan perhatian khusus antara lain Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Bengkulu, dan Lampung.

Di luar ancaman hujan deras, BMKG juga mengingatkan potensi banjir pesisir (rob) pada pertengahan Desember. Wilayah yang berisiko meliputi Banten, Jakarta, pesisir utara dan timur Jawa, beberapa titik di Kepulauan Riau, serta kawasan pesisir Kalimantan, termasuk Pantai Utara Jakarta, pesisir Banten, dan Pantura Jawa Barat.

“Potensi banjir rob ini perlu diantisipasi oleh pemerintah daerah dan masyarakat pesisir, terutama terkait aktivitas pelabuhan, perikanan, dan pemukiman yang berada sangat dekat garis pantai,” ujar Faisal.

Untuk menekan risiko bencana hidrometeorologi, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah prioritas. Operasi ini difokuskan di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jawa Barat, dan Jawa Timur sebagai bagian dari upaya pengendalian curah hujan ekstrem di kawasan yang saat ini tengah terdampak banjir dan longsor maupun yang berpotensi terdampak dalam waktu dekat.

“Operasi ini diarahkan untuk membantu mengatur distribusi hujan agar tidak terkonsentrasi terlalu ekstrem di satu wilayah dalam waktu singkat,” terang BMKG.

Sektor transportasi ikut menjadi perhatian utama. Untuk penerbangan, BMKG mendeteksi potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) yang berbahaya bagi keselamatan operasi pesawat selama periode Nataru. Pada Desember 2025, rute yang dinilai berisiko terdampak antara lain Laut Natuna, Selat Karimata bagian selatan, Selat Makassar, Laut Sulawesi, Laut Banda, serta wilayah udara Papua bagian utara.

Memasuki Januari 2026, pola risiko bergeser dan meluas. Awan Cb diprakirakan lebih sering muncul di jalur penerbangan sekitar Samudra Hindia barat Sumatra hingga selatan Nusa Tenggara, Laut Jawa, Selat Makassar, Laut Banda, Laut Arafura, dan wilayah udara Papua. Maskapai dan otoritas penerbangan diminta memantau update informasi cuaca penerbangan secara berkala.

Untuk aktivitas pelayaran dan logistik laut, BMKG memprediksi gelombang laut kategori sedang, dengan ketinggian 1,25–2,5 meter, bakal muncul di perairan barat dan selatan Sumatra, Selat Sunda, perairan selatan Jawa hingga Nusa Tenggara Timur, perairan utara Kepulauan Anambas dan Natuna, serta Samudra Pasifik utara dari Halmahera hingga Papua.

Kondisi ini berpotensi mengganggu jadwal pelayaran kapal penumpang, kapal barang, maupun kapal nelayan skala kecil. Masyarakat diimbau untuk tidak memaksakan keberangkatan ketika peringatan gelombang tinggi dikeluarkan, serta memperhatikan kapasitas dan kelayakan armada yang digunakan.

Di tengah tingginya mobilitas masyarakat pada libur Natal dan Tahun Baru, BMKG menekankan bahwa kesiapsiagaan adalah kunci. Informasi terbaru terkait prakiraan cuaca, potensi hujan lebat, gelombang tinggi, hingga banjir rob diharapkan menjadi dasar pengambilan keputusan, baik untuk perjalanan, kegiatan wisata, maupun operasi logistik dan pelayanan publik.

Berita Terkait