23 December 2025, 15:38

La Niña Masih “Basahi” RI Awal 2026, BMKG Beberkan Perkiraan Berakhirnya dan Peringatan Cuaca Ekstrem

Fenomena La Niña disebut ikut memperkuat peluang hujan lebih sering dan cuaca ekstrem di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.

Reporter: Ihsan Nurdin
Editor: Zainur Akbar
2,946
La Niña Masih “Basahi” RI Awal 2026, BMKG Beberkan Perkiraan Berakhirnya dan Peringatan Cuaca Ekstrem
Ilustrasi. Fenomena La Nina ikut memengaruhi cuaca ekstrem di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Perspektif.co.id - Fenomena La Niña disebut ikut memperkuat peluang hujan lebih sering dan cuaca ekstrem di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan pengaruh La Niña yang saat ini tergolong lemah tidak akan bertahan lama, dengan indikasi berakhir pada akhir kuartal pertama 2026.

BMKG menyampaikan, berdasarkan pemantauan dinamika laut dan atmosfer global, La Niña lemah diproyeksikan mereda dan berangsur menuju fase netral setelah melewati periode awal tahun. Deputi Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyebut peralihan menuju netral diperkirakan terjadi setelah Maret 2026. “Prediksi kami menunjukkan bahwa setelah Maret 2026, kondisi iklim global akan kembali ke fase netral dan bertahan hingga akhir tahun,” ujar Ardhasena dalam paparan Climate Outlook 2026, Selasa (23/12). 

Dari sisi suhu, BMKG memprediksi suhu rata-rata tahunan Indonesia pada 2026 berada pada kisaran 25 hingga 29 derajat Celsius. BMKG juga menilai kondisi 2026 tidak akan setinggi tahun 2024 yang sempat ditandai suhu panas dan episode cuaca ekstrem berkepanjangan, seiring meredanya anomali iklim dan stabilnya kondisi laut di sekitar Indonesia. 

Sementara untuk curah hujan, BMKG memproyeksikan sebagian besar wilayah Indonesia akan berada pada kisaran hujan tahunan 1.500 hingga 4.000 milimeter per tahun, yang secara umum berada pada kategori “normal” jika dibandingkan klimatologi periode 1991–2020. Namun, BMKG menekankan “normal” bukan berarti tanpa risiko, karena hujan deras pada musim hujan tetap lazim terjadi dan bisa memicu bencana bila bertemu kerentanan wilayah yang tinggi. 

Dalam konteks periode puncak musim hujan, BMKG juga menyoroti potensi hujan tinggi hingga sangat tinggi pada Desember 2025 sampai Januari 2026, dengan intensitas yang bisa mencapai 300–500 mm per bulan di sejumlah wilayah seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi Selatan, Papua Selatan, serta sebagian Kalimantan yang memiliki karakter musim hujan lebih panjang. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengingatkan periode Nataru 2025/2026 bertepatan dengan puncak musim hujan sehingga potensi cuaca ekstrem perlu diantisipasi serius. 

BMKG menyatakan kombinasi dinamika atmosfer—mulai dari Monsun Asia, MJO, gelombang atmosfer, potensi bibit siklon hingga siklon tropis—ditambah pengaruh La Niña lemah dapat meningkatkan intensitas hujan, khususnya pada pertengahan Desember hingga awal Januari. Karena itu, BMKG memperkuat kesiapsiagaan, pembaruan informasi cuaca, dan penguatan peringatan dini terintegrasi agar mitigasi bisa lebih cepat dan tepat sasaran.

Di saat yang sama, BMKG mendorong pengembangan peringatan dini berbasis dampak (impact-based forecasting) agar informasi cuaca tidak berhenti pada “berapa milimeter hujan”, tetapi juga memetakan potensi dampak—misalnya risiko banjir dan longsor—dengan menggabungkan prakiraan cuaca dan peta kerentanan wilayah. “Ketika BMKG menyampaikan hujan akan terjadi… informasi itu akan dianalisis lebih lanjut untuk melihat potensi dampaknya,” kata Teuku Faisal. 

Terlepas dari dinamika La Niña–netral, BMKG menegaskan tantangan jangka panjang tetaplah perubahan iklim yang memengaruhi tren suhu, kelembapan, serta risiko hidrometeorologi di berbagai wilayah. Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat dan pemangku kebijakan terus memantau pembaruan informasi cuaca/iklim dan menyiapkan langkah adaptasi, terutama pada periode awal 2026 yang masih berada dalam fase puncak musim hujan.

Berita Terkait